Oleh: edratna | Desember 10, 2013

Semalam menginap di Kebun Raya Bogor

Rumah tempat kami menginap di Kebon Raya

Rumah tempat kami menginap di dalam Kebon Raya

Saat kami merencanakan Field Day ke Bogor-Darmaga, yang dipikirkan adalah  akan menginap dimana. Apakah tidur di hotel, atau di wisma Balai Penelitian Perkebunan? Kami lupa, bahwa teman kami,  mempunyai rumah dinas yang terletak di dalam Kebun Raya Bogor, persis di sebelah Cafe Dedaunan.

Pertanyaan nya, apakah Wati tidak repot menerima tiga nini ceriwis menginap di rumahnya, ditambah teman yang lain yang akan mengobrol sampai malam? Rupanya Wati punya bik Iyem yang serba bisa, yang masakannya enak, jadi akhirnya kami memutuskan untuk menginap di rumah Wati. Saat acara mengunjungi kampus IPB Darmaga, Wati tak sempat bergabung, karena menjadi moderator di acara seminar LIPI, dan baru bisa bergabung saat nonton bareng di Botanical Square.

Tanda merah berarti usia di atas 100 tahun (ditanam tahun 1866)

Tanda merah berarti usia di atas 100 tahun (ditanam tahun 1866)

Acara setelah menonton hanya mengobrol kesana kemari, teman yang rumahnya di Bogor akhirnya ikut gabung tidur di rumah Wati di Kebun Raya. Pagi-pagi sekali, setelah minum teh manis dan beberapa potong kue, kami mulai berjalan-jalan di Kebun Raya Bogor. Betapa menyenangkan nya berjalan-jalan di Kebun Raya Bogor yang merupakan konservasi tanaman disertai oleh ahlinya. Wati tahu sejak kapan tanaman tersebut ditanam, epiphytes apa saja yang tumbuh di masing-masing tanaman tersebut. Jika tanda di pepohonan berwarna hijau, artinya umur tanaman tersebut belum sampai 100 tahun. Jika warnanya merah, maka umur tanaman tersebut di atas 100 tahun.

Akar pohon melingakr unik

Akar pohon melingkar unik

Rasanya nikmat sekali berjalan-jalan di Kebun Raya pagi hari, cuaca cerah, walau tadi pagi sempat turun hujan gerimis.

Anggrek tanpa daun (mirip lumut), bunganya menempel di akar pohon.

Anggrek tanpa daun (mirip lumut), bunganya menempel di akar pohon.

Menarik melihat besarnya pepohonan, juga tanaman yang tumbuh di batang tersebut, yang ternyata merupakan anggrek tanpa daun namun berbunga.

Ternyata ini juga jenis anggrek (berasal dari hutan di pedalaman)

Ternyata ini juga jenis anggrek (berasal dari hutan di pedalaman)

Tugu Peringatan isteri Rafles, dengan syair yang ditulis sendiri oleh Rafles

Tugu Peringatan isteri Rafles, dengan syair yang ditulis sendiri oleh Rafles

Jika saya yang melihat, pasti saya sangka lumut yang menempel di pohon. Tugas temanku, antara lain,  mencari berbagai anggrek langka di dalam hutan, kemudian di tanam di Kebun Raya yang sesuai dengan jenis tanaman anggrek tersebut (misalkan, anggrek yang diperoleh di ketinggian hutan Wamena ditanam di Kebun Raya Bedugul), agar tanaman anggrek tersebut terlindungi dari kepunahan.

Di Kebun Raya ini, tanaman dipisahkan berdasar genus dan speciesnya, sehingga jika seorang peneliti sedang ingin mempelajari, tak harus berkeliling Kebun Raya, namun cukup di area tertentu tempat tanaman yang genus dan species nya sedang dipelajari.

Kami sampai ke monumen peringatan isteri Rafles, dengan puisi yang ditulis tangan oleh Rafles (saat itu Gubernur Jendral) sendiri.  Di Kebun  Raya, sekarang ada tugu peringatan asal usul Kelapa Sawit.

Patung Reinwart, warga negara Jerman, pendiri Kebun Raya Bogor

Patung Reinwart, warga negara Jerman, pendiri Kebun Raya Bogor

Yang juga merupakan tambahan (dibanding saat saya mahasiswa dulu), adalah patung Reinwart yang merupakan pendiri Kebun Raya Bogor, yang merupakan warga negara Jerman.

Jadi Kebun Raya ini yang memulai adalah Reinwart, yang saat itu diperintahkan untuk meneliti tanah jajahan. Reinwart yang berprofesi sebagai dokter dan pencinta tanaman jatuh cinta pada tanah di Bogor ini, yang kemudian menjadi ide untuk konservasi tanaman tropis.

Di Kebun Raya ini ada makam yang konon dipercaya sebagai makam keramat “Mbah Jangkrik”… tak ada penjelasan tentang asal usul makam mbah Jangkrik ini.  Juga ada mata air yang di pagar, karena sering dikeramatkan orang, dengan sebutan “Banyu Mili”, konon tempat bung Karno mandi sebelum semedi. Inipun tak ada penjelasan yang sesuai.

Akar pandan

Akar pandan

Buah pandan

Buah pandan

Yang penting kami menikmati berjalan-jalan di Kebun Raya ini, melihat pohon pandan yang besar sekali, yang buahnya bisa digunakan untuk membersihkan tempat kotor yang letaknya di pojokan. Juga menikmati teratai raksasa yang tumbuh di telaga, dengan latar belakang istana Bogor dilihat dari belakang.

Kolam teratai dengan latar belakang isana Bogor

Kolam teratai dengan latar belakang istana Bogor

Di Kebun Raya, ada Guest House yang disewakan, satu rumah untuk 8 (delapan) orang dan harganya lumayan memadai.  Asyik kan, menginap di Guest House Kebun Raya, pagi-pagi setelah menyeruput teh, kita bisa jalan-jalan menelusuri Kebun Raya, dengan pemandangan indah dan hawa segar.

Juga ada Gedung yang bisa digunakan untuk kondangan, dengan syarat tak boleh merusak tanaman rumput. Teman saya akhirnya memilih mantu di Aston Hotel yang biayanya jauh lebih murah dibanding jika menggunakan gedung di Kebun Raya ini, apalagi kita sulit mengatur para tamu, yang belum tentu memahami pentingnya konservasi tanaman.

Baru Tinoek yang sudah mandi

Baru Tinoek yang sudah mandi

Kami juga mengunjungi bangunan tempat persilangan anggrek, tempat Wati sibuk menyilangkan anggrek menggunakan kultur jaringan. Anggrek hybrid hasil persilangan sungguh sedap dipandang mata. Tak terasa kakiku mulai pegal, ternyata kami telah 4 (empat) jam lebih berjalan-jalan di Kebun Raya ini, dan telah mencapai jarak di atas 5 (lima) kilometer. Pantas saja kaki mulai pegal semua.

Mendekati rumah dinas Wati, di lapangan rumput dekat Cafe Dedaunan, saya lihat anak-anak berpakaian SD dengan guru nya sedang asyik bermain. Anak-anak berlarian di lapangan rumput tersebut, betapa senangnya melihat anak-anak tersebut menikmati suasana segar Kebun Raya.

Temanku bercerita suka dukanya mengelola Kebun Raya Bogor. Sekarang banyak mobil berseliweran, padahal saat saya masih mahasiswa, tak ada mobil yang memasuki Kebun Raya, kecuali kendaraan tertentu. Sekarang, para pegawai yang bertugas mencatat, memantau mana tanaman yang berbunga, sejak kapan dsb nya, mempunyai sepeda motor…entah karena capek kalau berjalan kaki, atau karena memang pekerjaan menjadi lebih cepat selesai jika pakai naik kendaraan bermotor. Risikonya, saat berjalan-jalan pagi, kami harus selalu mewaspadai adanya kendaraan bermotor ini. Kebun Raya ini juga menyediakan sepeda untuk disewakan, biaya sewa sepeda sudah termasuk asuransi. Rupanya pernah terjadi sepeda masuk selokan dan pengendaranya masuk rumah sakit, Kebun Raya yang terpaksa menanggung biaya nya. Mobil juga pernah masuk sungai, agak heran juga mendengarnya, atau karena sepi, jadi mengendarai nya terlalu kencang, atau melamun?

Disepanjang sungai Citarum terdapat pagar besi sebagai pembatas, dan rupanya pagar besi ini tak luput pula dari tangan jahil, besi bulat yang merupakan hiasan pada pagar besi sebagian besar sudah hilang. Bahkan ada juga orang iseng, yang suka memindahkan tanda/plang tanaman, yang berisi nama tanaman, usia tanaman …dipindah-pindahkan ke tanaman lain. Sekarang setiap tanaman diberi dua jenis tanda, ada tanda kecil yang hanya berupa nomor, warna tidak menyolok, tanda ini jarang dilirik orang yang memindah tanaman. Sayang sekali, kita kurang menghargai kekayaan hayati yang ada di Kebun Raya, yang sangat dikagumi oleh para peneliti asing….semoga kesadaran untuk mencintai lingkungan bisa ditingkatkan dan dipupuk di antara kita semua.

Bagi orang yang sudah ahli seperti Wati, biar nama tanaman dipindah, dia masih tetap hafal. Saya jadi ingat saat pelajaran taksonomi, masing-masing mahasiswa harus mencari 1 (satu) meter persegi tanaman yang tumbuh di area tersebut, kemudian menjelaskan nama-nama tanaman dalam bahasa Latin. Saat itu, pelajaran taksonomi merupakan momok, sehingga saat kami sedang santai berjalan-jalan pun, menghafal setiap nama tanaman yang dijumpai sepanjang jalan. Dan ilmu tersebut sekarang sudah raib dari otak saya, padahal dulu bersusah payah agar bisa lulus dan dapat nilai bagus.

Akhirnya kami kembali ke rumah temanku, makan masakan bi Iyem, tim ayam yang sedap rasanya. Setelah mandi, kami akhirnya pamit pulang….. terimakasih Wati, terimakasih bi Iyem yang telah memasak untuk kami dan rasanya sedap sekali. Jangan kapok ya, kapan-kapan kami akan datang lagi.


Responses

  1. wah sayang ya kalo kendaraan motor boleh masuk… kan jadi polusi ya bu…

    btw enak banget temen ibu rumah dinasnya di dalam krb gitu. asri banget…🙂

    Iya, harusnya nggak boleh ada kendaraan bermotor.

  2. Harusnya bisa siapkan kendaraan kecil seperti di lapangan golf untuk disewakan, rasanya ini lebih baik. Wah senang sekali bisa menginap didalam Kebun Raya.

    Lha mestinya malah nggak boleh ada kendaraan bermotor melintas di dalam Kebun Raya, kan untuk konservasi tanaman.

  3. dan…trimakasih Bu Enny.. sudah mengajak kita mengintip KR saat ini… waah, sdh lama sekali nggak ke sana… jadi pengeen…

    Ayo Mechta, bikin acara jalan-jalan ke KBR

  4. Kebun Raya Bogor, konservasi tanaman tropis, laboratorium hidup yg komplit. Terima kasih ibu Enny, diajak jalan2 sambil senyum malu lupa taksonomi kuliahnya Alm Pak Tjahjana Samingan. Salut untuk ibu Wati…

    Jadi ingat kuliah nya alm pak Tjahjono ya mbak Prih…menyenangkan jalan-jalan di Kebun Raya di pagi hari.

  5. ibuuu.., ngiri deh ..
    senangnya jalan di KRB bareng ahlinya, jalan sambil dijelaskan seisi kebun…., ditambah nginap di situ merasakan suasana pagi di kebun indah ini

    Hahaha…mbak Monda, saya malah baru tahu setelah pensiun, ternyata temanku rumah dinasnya di dalam Kebun Raya….hehehe…saat masih aktif kerja, nggak sempat mikir yang lain.

  6. Bu Enny, saya super ngiri bisa menginap di rumah teman yang berada di dalam Kebun Raya Bogor. Sungguh, itu suatu kemewahan!🙂

    Saya terakhir ke KRB beberapa bulan lalu. Jalan-jalan seharian rasanya masih kurang. Dan sepertinya lebih enak kalau ada guide yang memberi penjelasan tentang tanaman-tanaman di sana.

  7. permisi ibu edratna mohon maaf bisakah saya meminta contact person dan cara menginap di guest house dalam kebun raya bogor??
    thanks

    Coba dicari lewat web nya mbak…soalnya saya di sana tidur di rumah teman yang kebetulan dapat rumah dinas di Kebun Raya, dan kebetulan dia sedang tidak tugas ke luar negeri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: