Oleh: edratna | Desember 16, 2013

Menonton film “Soekarno”

Sejak berminggu yang lalu saya menunggu beredarnya film ini, apalagi film ini sutradaranya Hanung Bramantyo, yang merupakan salah satu sutradara favorit saya. Film-film Hanung yang telah saya tonton adalah: Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban dan Sang Pencerah. Anak dan menantu saya nonton sejak awal pertama film ” Soekarno” ditayangkan, karena kawatir film yang disutradarai Hanung ini tak jadi ditayangkan.

Rencana awal, saya mau nonton hari Sabtu, apa daya badan lelah sekali karena malamnya baru pulang dari Bali. Minggu pagi itu cuaca cukup cerah, saya dan keluarga menuju Pejaten Village. Anak saya langsung ke Gramedia, setelah sebelumnya mengantar saya ke bioskop 21. Lobby bioskop penuh sekali, rupanya banyak orang tua dan anak-anak antri beli makanan. Walau lapar, saya terpaksa menunda makan karena waktu tak cukup. Saya memesan tiket untuk duduk paling belakang tengah.

Awal film membuatku surprised, karena semua penonton berdiri, anak-anak, remaja, dewasa, tua, tak terkecuali para pinisepuh yang menggunakan tongkat dan kursi roda, menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan penuh semangat. Permainan Ario Bayu sebagai “Soekarno” sungguh memukau, diimbangi permainan cantik Maudy Koesnaedi sebagai Inggit Garnasih. Hanung tepat memilih para pemain, Lukman Sardi sebagai Bung Hatta dan Tanta Ginting sebagai Syahrir bermain elok.

Saya akui, tak mudah membuat film sejarah, namun saya salut dengan adanya film Soekarno, banyak manfaatnya terutama bagi kaum muda, bahkan saya sendiri yang termasuk golongan tua, banyak mendapat tambahan info di film ini, seperti saat Soekarno dari Bengkulu bukan langsung dibawa ke Jakarta, namun oleh Belanda disembunyikan ke Padang. Juga cerita tentang Jugun Ianfu, pilihan sulit yang harus diambil Soekarno. Bagaimana Soekarno teraksa memilih bekerjasama dengan Jepang, untuk melindungi kekejaman masyarakat dari penjajahan Jepang. Bagaimana beratnya menyusun dasar negara, yang memerlukan perdebatan keras tanpa menghasilkan keputusan selama 3 (tiga) hari, yang akhirnya Soekarno menyampaikan pidatonya, yang nanti kita kenal dengan lahirnya Pancasila. Penggambaran bagaimana Soekarno dan Hatta menyusun naskah proklamasi, disampaikan dengan baik.

Saya bersyukur, pada akhirnya bapak bangsa kita berani mengambil langkah memproklamirkan kemerdekaan RI, dengan cara pandang “Kemerdekaan bukan tujuan akhir, namun sebuah awal untuk kemandirian. Kita yang mengawali, selebihnya kita serahkan pada anak cucu kita yang akan meneruskan,” kata Soekarno.

Sebagai bapak bangsa, Soekarno juga manusia biasa. Inggit pasangan yang cocok bagi Soekarno, mendorong dan jadi teman diskusi saat Soekarno resah, namun Soekarno membutuhkan keturunan. Dan Soekarno jatuh cinta pada muridnya yang cerdas, yaitu Fatmawati. Inggit memilih pergi, keputusan yang juga akan saya lakukan jika menjadi Inggit. Semoga semakin banyak produser yang berani membuat film-film bermutu, saya melihat, saat ini mulai banyak sutradara dan pemain film yang bagus. Agar kita tak hanya melihat film-film Barat saja.


Responses

  1. Lihat iklannya gencar di Soetta dg 111213nya, bersyukur ibu Enny berbagi cerita nontonnya. Mendukung harapan ibu semakin banyak yg berani memproduksi film apik. Salam

    Nonton mbak Prih…bagus kok (pendaatku pribadi lho)

  2. Mengapa anda tak menemukan substansi cerita yang tak sesuai sejarah, seperti yang diklaim oleh Rachmawati Soekarno (seperti yang disiarkan media elektronik) ?

    Silahkan menonton sendiri, sehingga anda bisa punya pendapat tanpa prasangka. Saya tak berniat memihak siapa-siapa, namun bagi saya, juga teman-teman saya, film ini menggugah semangat.

  3. Saya belum nonton, Bu. Penasaran sih, beberapa teman bilang bagus, sebagian lagi bilang masih kurang puas.

    Kalau namanya film sejarah, pasti ada yang nggak pas….karena kita tak lahir saat itu.
    Namun bagi saya, secara garis besar, cerita yang ada dalam film sesuai dengan buku-buku yang pernah saya baca.
    Terlepas dari kontroversi soal sejarah…saya suka permainan Ario Bayu.

  4. Belum sempat nonton Bunda..

    tapi memang film ini juga sempat heboh karena ada perbedaan pendapat dari 2 belah pihak, yaitu keluarga Soekarno dan pembuat film.
    Saya sendiri juga sudah baca beberapa resensi, baru tau tentang istri pertama Pak Karno.

    Memang banyak yang berbeda pendapat, justru itu yang menarik kan? Satu tokoh, namun persepsi atau penilaian orang ber beda-beda.

  5. terima kasih ulasannya bu enny, saya baru mau nonton nih tapi bingung karena banyak film indonesia yang bermutu minggu2 ini…sementara itu budget terbatas….maklum buntut 3 hehehehehehe

    Sssst….kalau film Indonesia, bisa nonton di Blok M Square pas hari tertentu, harga diskon lho….

  6. Saya belum sempet nonton, udah keburu ditarik dari bioskopšŸ˜„

  7. Sy blm nonton film nya bunda…sy suka fim indo bnyak yg bagus bagus. Dari uraian bunda film ini bagus.sy kepengen nontonšŸ˜ƒ


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: