Oleh: edratna | Juni 30, 2014

Serba-serbi perjalanan: Jika rombongan usia tidak muda lagi, berwisata

Wahh ternyata blog saya benar-benar tak terawat, terakhir kali menulis 15 April 2014. Memang banyak hal yang terjadi di bulan-bulan sibuk itu. Kebetulan saya mendapat proyek yang memerlukan perhatian yang menyita waktu, dan yang paling membuat sibuk adalah rencana “Syukuran  pernikahan si bungsu bersama pilihan hatinya.” Apalagi karena pilihan hati si bungsu warga negara asing, yang ketemu saat dia mendapat beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Takdir memang merupakan hal yang misterius, namun bagi orangtua, kebahagiaan anak yang paling utama, siapapun pilihan hatinya, orangtua hanya bisa mendukung dan mendoakan kebahagiaan nya.

Jadi, sekarang cerita yang santai saja. Sejak mulai tidak aktif bekerja, saya sering reuni bersama teman-teman kuliah satu angkatan. ingat anekdot tentang reuni? Bahwa reuni umumnya dilakukan oleh para fresh graduate sekitar umur 24 sampai dengan 30 tahun, karena pada saat itu masih senang-senangnya lulus kuliah, dan mendapat pekerjaan. Umur 30 sampai dengan 55 tahun adalah waktu paling sibuk untuk mengejar karir, menyesuaikan irama dengan membesarkan anak, sibuk urusan keluarga dan lain-lain. Saat mendekati umur 55 tahun, mulai bertanya-tanya, kemana ya teman-teman kuliahku dulu, terutama bagi yang bekerja di luar bidangnya dan jarang ketemu dengan teman satu kuliah. Jadi saat itu, mulai mengumpulkan “balung pisah”, teman-teman yang tercerai berai entah kemana. Jadilah saling mencari info….dan betapa senangnya ketemu teman lama, yang puluhan tahun tak ketemu.

Dari reuni demi reuni, muncul ide untuk berwisata bersama, mengingatkan masa lalu, dimana kami sering bersama-sama naik bis, melakukan penelitian bersama asisten dosen dan dosen. Karena sudah tidak muda lagi, maka perlu dibuat aturan agar perjalanan bisa dinikmati, serta tidak terlalu melelahkan. Untuk menjaga agar rencana kunjungan berjalan lancar, kami bersepakat, agar siapapun harus disiplin pada waktu. Namun namanya orang yang usia nya tak muda lagi, penyakit lupa sangat menghantui, sehingga dicari cara agar paling tidak setiap orang berusaha mematuhi disiplin waktu. Siapapun yang telat dari perjanjian, akan mendapatkan tepuk tangan meriah dan mendapat bintang 5 (lima) saat memasuki bis. Ternyata aturan ini lumayan mendorong teman-teman untuk berusaha disiplin.
Pada suatu ketika, kami berombongan mengadakan perjalanan ke Thailand…syukurlah saat itu situasi tenang, sehingga perjalanan berjalan lancar. Namun, dari perjalanan selama 5 hari 4 malam, wajar banyak kenangan yang  tak terlupakan.

  1. Dapat Bintang 5
    Bagi setiap orang yang telat masuk bis dari waktu  yang diperjanjikan, mendapat tepuk tangan meriah. Akibatnya ada teman yang saking senewennya, karena sempat hilang di Flaoting Market dan susah cari pintu keluarnya, minta pengampunan dari ketua rombongan.
  2. Warna menyala yang sangat menolong
    Saat di Floating market, saya bolak balik kehilangan teman. Awalnya jalan bareng pasangan suami isteri yang selalu mesra … ehh pas saya sibuk memotret, saya cari lagi pasangan tsb sudah hilang dari pandangan mata. Saat ketemu teman yang lain, saya berhati-hati agar tak ketinggalan…namun momen indah menarik untuk dipotret….lagi-lagi saya tinggal sendirian. Syukurlah ada teman lain, yang  saat itu berpakaian cerah dan manyala (merah oranye)…legaa rasanya melihat mereka di kejauhan.
  3. Beberapa kali  kehilangan isteri/suami
    Wajar tour yang terdiri dari nini-nini dan aki-aki, daya ingat sudah jauh berbeda dibanding saat masih muda. Jadi, setiap kali kami harus sabar menunggu suami yang kehilangan isteri, atau sebaliknya.
  4. Dari toilet ke toilet
    Asisten Guide yang tak bisa berbahasa Indonesia dan pendiam, akhirnya bisa berbicara sepatah dua patah kata. Memperhatikan kebiasaan peserta tour, setiap turun dari bis, kemudian masuk rumah makan atau hotel …  asisten guide tersebut, yang bernama Karbala,  langsung berkata  …”Toilet” … Sambil tangannya menunjuk arah toilet.
  5. Boleh  ikut foto atau pegang-pegang, tapi harus bayar minimal 40 bath
    Saat di Pattaya, saya termasuk peserta yang tak ikut nonton kabaret karena pengin lebih cepat istirahat, maklum sebelum ke BKK saya baru pulang dari Jepang, kemudian mengajar. Ternyata penari kabaret yg semuanya waria, sebelum beraksi, membuat formasi/berbaris dulu di depan Alcazar. Mereka cantik-cantik, tentu saja bagian tubuhnya sebagian besar sudah kenal pisau operasi. Kami bebas memotret tanpa bayar, asalkan tak berpose bersama mereka.  Alhasil, ada salah satu cowok dari India yang berfoto bersama…ehh habis foto  itu lari, tak mau membayar. Marahlah para penari kabaret yang diajak berfoto tersebut  … keluarlah teriakan dengan suara besar khas cowok…hehehe.

Sungguh pengalaman yang mengesankan, dan siapa bilang wisata setelah pensiun tak menyenangkan?


Responses

  1. Ibuuu sekarang saya memasuki fase ini, saat jalan bareng ada aja yang tertinggal, lagu toilet jadi nyaring. Wah acara tepuk tangan meriah untuk peserta sangat terlambat sangat efektif ya, bisa ditiru nih. Selalu menantikan momen Ibu Enny jalan bareng kakak2 alumni.

    Iya mbak Prih…kebersamaan itu perlu.
    Dan selalu kenangannya lucu-lucu saat pergi bersama di usia tak muda ini.
    Sedihnya, setelah reuni, ada aja teman yang dipanggil oleh Nya.
    Ya, kita memang akhirnya menuju ke sana, cuma nggak tahu kapan panggilannya.

  2. Aah… saya ingin juga menikmati fase ini, ibu… Bebas merdeka ya Bu.. hehe… Semoga giliran kami nanti seru juga..Insya Allah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: