Lebaran

Saat ini kita sedang menikmati libur Lebaran, yang sejak beberapa tahun lalu kita mengenal adanya cuti bersama. Yang berarti, libur Lebaran tidak hanya dinikmati oleh keluarga muslim, namun juga oleh seluruh masyarakat Indonesia. Saat saya masih kecil, libur Ramadhan adalah 40 hari, sehingga saat mulai bulan Ramadhan sampai dengan seminggu setelah Idul Fitri, yang ditandai dengan istilah “Lebaran Kupat”, kami bisa menikmati liburan. Dan karena ayah ibu bekerja sebagai guru, maka kami sekeluarga menikmati libur panjang ini. Dimulai dengan acara “megengan” berupa selamatan, serta berdoa, memohon agar kita bisa melalui bulan Ramadhan dengan penuh syukur dan khidmat. Selamatan ini diadakan dari rumah ke rumah, tak terkecuali tetangga yang bukan muslim, semua bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Selamatan kedua adalah “maleman” yaitu setelah tanggal ke-20 bulan Ramadhan, kemudian selamatan menjelang Idul Fitri, dan terakhir adalah selamatan seminggu setelah Idul Fitri. Makanan yang dimasak juga berbeda-beda, namun yang tak boleh dilupakan adalah apem, makanan yang berasal dari tepung beras, ragi, santan, telur, gula dan garam sedikit, diuleni (diaduk), dan didiamkan agar mengembang. Lanjutkan membaca “Lebaran”

Bagaimana cara membuat perjanjian yang baik?

Sering kita membaca dan mendengar, ada dua pihak berperkara karena terjadi pelanggaran dari salah satu pihak atas perjanjian yang dibuatnya. Kita sering tidak membaca secara teliti apa yang telah dibuat dalam perjanjian, entah perjanjian kerjasama, perjanjian kredit, perjanjian jual beli properti dan sebagainya, karena kita menganggap sudah diserahkan kepada notaris. Yang perlu dipahami, bahwa kita sendiri yang akan rugi jika nanti terjadi masalah hukum di kemudian hari. Begitu kita menanda tangani sebuah perjanjian, maka sejak saat itu, risiko hukum terbuka, baik risiko karena terjadinya wan prestasi dalam kontrak atau karena sebab-sebab lain.

Syarat sahnya perjanjian menurut 1320 BW: 1) Adanya kesepakatan. 2) Kecakapan. 3) Suatu hal tertentu. 4) Suatu sebab yang halal. Akibat tidak memenuhi persyaratan tersebut, yang terjadi adalah: a) Jika tidak memenuhi syarat subyektif, dapat dibatalkan. b) Jika tidak memenuhi syarat obyektif, batal demi hukum. Lanjutkan membaca “Bagaimana cara membuat perjanjian yang baik?”