Mencoba ” Ikan Patin Bakar Bambu” di de’ Clan

Hari itu cuaca sungguh panas menyengat, saya baru saja keluar dari RS Setia Mitra, mengantar si sulung yang agak kurang enak badan. Saya sendiri mulai merasa meriang, jadi ingat kebiasaan alm ibu, jika badan merasa kurang sehat, makanlah yang sesuai kesukaanmu sehingga makan nya bisa banyak….yang akhirnya tak jadi sakit. Beberapa kali saya menerapkan resep alm ibu ini, dan lumayan berhasil, kecuali memang sakitnya sudah terlanjur parah. Sambil menunggu kendaraan umum lewat, saya menanyakan pada si sulung, “Bagaimana kalau kita makan siang bersama, mencoba restoran di jalan Cipete Raya, katanya ada masakan ikan patin bakar bambu yang enak?”

de' Clan
de’ Clan

Si sulung setuju, dan karena cukup dekat jaraknya, angkutan umum yang memungkinkan hanya angkot dan bajaj. Tak lama kemudian muncul angkot merah no.11, yang akan melewati jalur Cipete Raya, menuju Pasar Minggu. Kami menyetop angkot tersebut, dan ternyata penumpangnya cuma kami berdua. Ehh begitu sampai dipojok jalan Cipete Raya, si angkot berhenti, ngetem…maklum penumpang cuma berdua. Sabaar…hanya itu yang bisa saya lakukan, harga murah mana mungkin protes. Tak lama ada ibu-ibu masuk angkot dan angkotpun berjalan lagi…tak lama kami sampai di pojokan jalan, antara jalan Cipete Raya dan jalan ke arah SMP 68 dan sekolah Al Ikhlas. Dengan membayar Rp.6.000,- (enam ribu rupiah) kami berdua turun dan langsung menuju restoran de’ Clan. Lanjutkan membaca “Mencoba ” Ikan Patin Bakar Bambu” di de’ Clan”

Unit Gawat Darurat tak selalu menakutkan

Pertama kali mengenal Unit Gawat Darurat adalah saat mengantarkan teman sekamar yang perutnya sakit,  ternyata terkena radang usus buntu. Saat itu saya masih tinggal di asrama putri IPB (APIPB), kami beramai-ramai mengantar dengan mencarter bemo. Dan karena sakitnya tengah malam, bisa dibayangkan betapa riuh rendahnya kami semua, yang tak punya pengalaman mengurus orang sakit, beberapa dari kami masih pakai daster, lengkap dengan rol rambut, karena tak semuanya sempat mengambil jaket untuk menutupi daster. Syukurlah kami datang tepat waktu, karena pas di meja operasi, usus buntu teman yang sakit pecah, akibatnya operasi usus buntu yang tergolong ringan memerlukan waktu tiga bulan untuk penyembuhannya. Lanjutkan membaca “Unit Gawat Darurat tak selalu menakutkan”

Good Corporate Governance sebagai Pilar Kesehatan Bank

Mengapa Perbankan perlu melakukan Good Corporate Governance atau disingkat menjadi GCG? Hal ini, antara lain, adanya perubahan strategis di tingkat global, yaitu: a). Adanya globalisasi, akan menyebabkan borderless, persaingan yang semakin ketat di antara industri perbankan, efisiensi yang tinggi, spesialisasi, interdependensi yang tinggi yang akan menyebabkan systemic risk. b). Terjadinya krisis ekonomi global, terorisme, pemanasan global dan bencana alam. c). Terjadinya corporate actions, seperti merger & aquisitions, dan aliansi. d). Gelombang perkembangan teknologi dan sistem informasi, seperti: information high-ways, perubahan cara berbisnis, perkembangan berbagai produk dan layanan. e). Makin maraknya berbagai bentuk fraud dengan sindikat global.  Lanjutkan membaca “Good Corporate Governance sebagai Pilar Kesehatan Bank”

Bisakah Pelaksanaan GCG diterapkan di semua lini?

Good Corporate Governance atau disingkat GCG, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Tata Kelola Perusahaan, didefinisikan sebagai berikut: adalah rangkaian proses, kebiasaan, kebijakan, aturan, dan institusi yang memengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengontrolan suatu perusahaan atau korporasi. Tata kelola perusahaan juga mencakup hubungan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat serta tujuan pengelolaan perusahaan. Pihak-pihak utama dalam tata kelola perusahaan adalah pemegang saham, manajemen, dan dewan direksi. Pemangku kepentingan lainnya termasuk karyawan, pemasok, pelanggan, bank dan kreditor lain, regulator, lingkungan, serta masyarakat luas (Wikipedia).

Pelaksanaan GCG dalam industri perbankan berlandaskan pada lima prinsip yang sering disingkat sebagai TARIF, yaitu: Lanjutkan membaca “Bisakah Pelaksanaan GCG diterapkan di semua lini?”

ART infal, kenapa tidak?

Saya susah mencari arti kata infal, walau istilah ini populer digunakan untuk mendapatkan pembantu yang bekerja sementara waktu karena pembantu utama sedang mudik. Dari tulisan di kompasiana, disebutkan yang benar adalah inval,  yang berarti PRT (Pembantu Rumah Tangga) Pengganti/ Sementara/Pekerja Cadangan. Asal kata ini adalah “invaller” dari Bahasa Belanda. Menurut Kamus Bahasa Belanda-Inggris, kata invaller (de) berarti  substitute, replacement, person or thing that takes the place of another atau pengganti/ orang pengganti. Sayangnya saya belum menemukan kata inval atau infal ini dalam KBBI. Lanjutkan membaca “ART infal, kenapa tidak?”

Bermain tidak harus memakai mainan yang mahal

Libur panjang ini, saya lebih banyak mengamati cucu bermain, dan ternyata mengasyikkan melihat permainan si kecil ini. Cucu saya yang berumur 3,5 tahun ini sudah sekolah di TK (PAUD), dan mulai diajarkan disiplin serta etika berperilaku sesuai norma sopan santun. Kami yang berada disekelilingnya harus mendukung program sekolah agar si kecil tidak bingung. Orangtua juga harus mulai mengajarkan kemandirian anak, sehingga saya merasakan betapa nyamannya melihat cucu berkembang, dia bisa asyik bermain sendiri, dan orangtua hanya mendampingi di dekatnya, sambil mengerjakan urusan masing-masing.

Apa saja permainan si kecil selama liburan ini? Lanjutkan membaca “Bermain tidak harus memakai mainan yang mahal”