Oleh: edratna | Agustus 24, 2014

Good Corporate Governance sebagai Pilar Kesehatan Bank

Mengapa Perbankan perlu melakukan Good Corporate Governance atau disingkat menjadi GCG? Hal ini, antara lain, adanya perubahan strategis di tingkat global, yaitu: a). Adanya globalisasi, akan menyebabkan borderless, persaingan yang semakin ketat di antara industri perbankan, efisiensi yang tinggi, spesialisasi, interdependensi yang tinggi yang akan menyebabkan systemic risk. b). Terjadinya krisis ekonomi global, terorisme, pemanasan global dan bencana alam. c). Terjadinya corporate actions, seperti merger & aquisitions, dan aliansi. d). Gelombang perkembangan teknologi dan sistem informasi, seperti: information high-ways, perubahan cara berbisnis, perkembangan berbagai produk dan layanan. e). Makin maraknya berbagai bentuk fraud dengan sindikat global. 

Di satu sisi, peran penting bank, antara lain: membiayai ekspansi berbagai industri/jasa, memfasilitasi pengembangan perusahaan yang masih baru, meningkatkan efisiensi dalam alokasi modal, memantau perilaku berbagai perusahaan dan bisnis, pilar ekonomi makro sebuah negara yang berperan penting dalam stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan makro ekonomi (Levine, 1997: 2004). Karena pentingnya peran bank , maka tata kelola bank pun menjadi sangat penting untuk dilakukan. Sedangkan dari sisi tuntutan para pemangku kepentingan, bank dituntut antara lain dari: a) Regulator: peer pressure, regulatory compliance, same level of playing field, prudential banking practices. b) Pemegang saham: going concern company, sustainability, kinerja keuangan yang prima, nilai pemeang saham. c) Nasabah: pelayanan prima dengan harga terbaik dan reputasi yang bagus. d) Investors: keterbukaan, tidak ada kejutan, capital gain, deviden, risk-return yang terprediksi. e) Manajemen dan Karyawan: sustainable company, tempat berkarir yang baik, kompensasi sesuai pasar. f) Publik: tanggung jawab dan kepedulian sosial.

Manfaat Penerapan GCG: 1). Peningkatan nilai bank melalui 5 Pilar GCG, agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun global. 2). Pengelolaan bank secara profesional, transparan dan efisien, dengan memberdayakan fungsi dan kemandirian organ-organ bank. 3). Pengambilan keputusan dan tindakan bank berlandaskan nilai moral yang tinggi, dan kepatuhan terhadap per-undang-undang an yang berlaku, serta kesadaran adanya tanggung jawab sosial bank terhadap stakeholders termasuk kepedulian terhadap lingkungan.

Bagaimana  Infrastruktur dan Tata Kelola yang Baik?

Ruang lingkup GCG adalah suatu perangkat hubungan antara Board of Commissioners, Board of Director, pemegang saham, dan pihak-pihak berkepentingan. Sedangkan pilar GCG dikenal dengan singkatan TARIF (Transparency, Accountibility, Responsibility, Independency, Fairness), sebagaimana telah diuraikan pada tulisan sebelumnya.

Bank wajib melakukan penilaian sendiri (self assessment) atas tingkat kesehatan bank, dengan pendekatan risiko (Risk Based Bank Rating, atau RBBR), baik secara individual maupun secara konsolidasi. Salah satu faktor tingkat kesehatan bank, antara lain adalah GCG. Penilaian sendiri ini dilakukan tiap semester untuk posisi akhir bulan Juni dan akhir bulan Desember.

Penilaian faktor GCG merupakan penilaian terhadap kualitas manajemen bank atas pelaksanaan prinsip GCG, dengan memperhatikan signifikansi atau materialitas suatu permasalahan terhadap penerapan GCG pada bank secara bank-wide, sesuai skala, karakteristik dan kompleksitas usaha bank. Dengan lima prinsip dasar GCG (TARIF), Bank melakukan self assessment secara berkala, paling kurang terhadap 11 (sebelas) faktor penilaian GCG dan informasi lainnya yang terkait dengan penerapan GCG Bank. Penilaian dilakukan secara komprehensif dan terstruktur yang diintegrasikan  menjadi 3 (tiga) aspek governance, yaitu: governance structure, governance process dan governance outcome.

Penilaian governance structure: menilai kecukupan struktur dan infrastruktur tata kelola Bank, agar  proses pelaksanaan prinsip GCG menghasilkan outcome sesuai dengan harapan stakeholders Bank. Penilaian governance process: menilai efektivitas proses pelaksanaan GCG yang didukung oleh kecukupan struktur dan infrastruktur tata kelola Bank. Penilaian governance outcome: menilai kualitas outcome yang memenuhi harapan stakeholders Bank,  merupakan hasil proses pelaksanaan prinsip GCG, yang didukung oleh kecukupan struktur dan infrastruktur tata kelola Bank. Governance outcome meliputi aspek kualitatif dan kuantitatif, antara lain: 1) Kecukupan transparansi laporan. 2) Kepatuhan terhadap peraturan per-unang-undang an. 3) Perlindungan konsumen. 4) Obyektivitas dalam melakukan assessment/audit. 5) Kinerja Bank seperti rentabilitas, efisiensi dan permodalan. 6) Peningkatan atau penurunan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku dan penyelesaian permasalahan yang dihadapi Bank, seperti: fraud, pelanggaran BMPK (Batas Maksimum Pemberian Kredit), pelanggaran ketentuan terkait, laporan bank kepada Otoritas Jasa Keuangan/Bank Indonesia.

Hasil penilaian Tingkat Kesehatan Bank RBBR (Risk Based Bank Rating) pada semester 1 dan semester 2 sebuah Bank menghasilkan nilai seperti digambarkan dalam tabel di bawah ini:

PTKB-RBBR sebuah Bank

PTKB-RBBR (Risk Based Bank Rating) sebuah Bank

Hasil penilaian Self Assessment GCG pada salah satu Bank.

Hasil self assessment GCG pada salah satu bank

Hasil self assessment GCG pada salah satu bank

Penjelasan: Dari tabel, manajemen bank telah melakukan penerapan GCG, dimana secara internal (self assessment) dinilai Baik. Hal ini tercermin dari pemenuhan yang memadai atas prinsip-prinsip GCG. Sementara Bank Indonesia memberi penilaian Cukup Baik.

Bank wajib melaporkan hasil penilaian GCG kepada regulator, dan bagi Bank yang telah go public, maka hasil penilaian tersebut dapat dilihat pada website bank yang bersangkutan, dengan demikian stakeholders dapat memberikan penilaian atas bank yang bersangkutan. Dengan adanya transparansi seperti ini, Bank dipaksa untuk meningkatkan kinerja, sehingga pada gilirannya akan menghasilkan suatu rating yang bagus.

Sumber Bacaan:

  1. Gayatri, R.A dan Enny, D.R. Good Corporate Governance Sebagai Pilar Keberhasilan Bank.  Hotel Century Atlet, Jakarta, 16 Agustus 2014.
  2. Lam, J. Enterprise Risk Management: From Incentive to Control. IRPA, 2003.
  3. Suprayitno, G., Susanty, A., Yasni, S., Salim, S.R.A. Mewujudkan Good Corporate Governance sebagai Sebuah Sistem: Kajian dan Penerapannya pada BUMN. IIGG, Jakarta, 2007.
  4. Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/15/DPNP  tentang: Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Jakarta, 29 April 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: