Oleh: edratna | Agustus 24, 2014

Unit Gawat Darurat tak selalu menakutkan

Pertama kali mengenal Unit Gawat Darurat adalah saat mengantarkan teman sekamar yang perutnya sakit,  ternyata terkena radang usus buntu. Saat itu saya masih tinggal di asrama putri IPB (APIPB), kami beramai-ramai mengantar dengan mencarter bemo. Dan karena sakitnya tengah malam, bisa dibayangkan betapa riuh rendahnya kami semua, yang tak punya pengalaman mengurus orang sakit, beberapa dari kami masih pakai daster, lengkap dengan rol rambut, karena tak semuanya sempat mengambil jaket untuk menutupi daster. Syukurlah kami datang tepat waktu, karena pas di meja operasi, usus buntu teman yang sakit pecah, akibatnya operasi usus buntu yang tergolong ringan memerlukan waktu tiga bulan untuk penyembuhannya.

Pengalaman kedua saat suami sakit, sekitar tahun 80 an, saya mengantar ke UGD RSCM…..  ternyata semua kamar penuh, sehingga malam itu juga harus keliling Jakarta untuk mencari Rumah Sakit. Syukurlah ada teman yang meminjamkan mobil dan sopir, untuk mencari rumah sakit, dan saat itu harus membayar uang muka lebih dulu, baru pasien bisa di rawat. Dan bersyukur, uang muka  yang diminta oleh Rumah Sakit milik Pemda DKI ini tak banyak, sisanya boleh dibayar besoknya…mungkin kasihan karena saya menyerahkan buku Tabungan sebagai uang jaminan.  Makanya, begitu saya mengenal kartu kredit, rasanya sebagian beban terangkat, karena jika ada keadaan darurat, paling tidak memegang kartu kredit. Apalagi saat ini, ada ATM dimana-mana, yang penting ada isinya…. Selanjutnya pengalaman ke UGD selalu tak mengenakkan, pasien yang kesakitan dan suasana yang riuh rendah karena adanya pasien yang datang dan pergi, membuat yang tidak sakitpun bisa ikut sakit.

Pengalaman berhubungan dengan UGD  selanjutnya, agak menenangkan,  karena  saya mengantar suami yang sakit  ke sebuah RS Swasta (karena sudah kapok ke Rumah Sakit Umum, betapapun bagusnya seperti RSCM…..saya pernah semalaman nggak tidur, pasien bolak-balik diperiksa oleh para calon dokter spesialis, dan baru dipastikan besok paginya saat dokter yang bisa menentukan datang, itupun dikelilingi para calon dokter spesialis dan pakai diskusi heboh dulu). UGD di RS Swasta ini cukup tenang, karena kebetulan tak banyak pasien yang datang, sehingga suami dapat cepat tertangani.

Walaupun, kalau boleh memilih, tentu saja saya tak ingin melalui UGD. Namun terkadang kita dihadapkan pada hal-hal yang tak bisa dihindari, dan terpaksa berhubungan dengan Rumah Sakit. Suatu ketika saya terkena vertigo parah, muntah-muntah dan dunia terasa berputar-putar. Berdasarkan pengalaman, saya berusaha menarik nafas panjang, memanggil si mbak, agar menyiapkan baju saya di tas kecil, kemudian memanggil taksi untuk mengantar ke RS Setia Mitra, yang merupakan rumah sakit terdekat yang dapat dijangkau dari rumah saya. Syukurlah petugas dan dokter di RS SM ini ramah dan langsung ditangani. Saat ditanya tentang biaya dan sebagainya, saya hanya menyodorkan kartu kredit, rupanya perawat jaga ingat bahwa Rumah Sakit ini ada kerja sama dengan Yayasan  Pensiunan tempat saya bekerja, sehingga saya langsung bisa dirawat dengan asuransi yang setiap tahun preminya dibayar oleh Yayasan Pensiunan.

Pengalaman ini membuat saya menjadi akrab dengan rumah sakit ini, karena selain tak terlalu ramai, rumah sakit ini sangat dekat dengan rumah saya, jaraknya tak sampai 2 (dua) kilometer. Saat si bungsu demam tinggi, padahal dua hari lagi akan melangsungkan syukuran pernikahanan nya, saya mengajak ke UGS RSSM….. si bungsu mendapatkan suntikan melalui infus, dan syukurlah dia bisa melalui seluruh rangkaian acara, walau memang agak lemas.  

Teman akrab saya mengatakan, jika kita mempunyai keluhan, sebetulnya paling baik adalah pergi ke UGD, karena di sana pasti ada dokter jaga. Dan jika ada masalah kesehatan, paling tidak bisa langsung di rawat. Tapi, bagaimanapun lebih menyenangkan sehat bukan? 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: