Oleh: edratna | Oktober 30, 2014

Jalan-jalan: Dua malam di Padang

Jika kita mendapat tugas untuk ke suatu daerah, yang ada dipikiran adalah tidur dimana dan apa saja yang bisa dilihat di daerah tersebut. Kali ini saya mendapat tugas untuk mengajar, di kota Padang. Mendengar kata Padang, kenangan saya melayang ke beberapa tahun lalu, terakhir saya mengunjungi Padang dua tahun lalu. Saat itu saya menginap di hotel Alana, yang ternyata dulunya bernama hotel Ambacang (yang runtuh karena gempa). Sehari sebelum berangkat, Ian menanyakan pada saya, apa sebaiknya kita pindah hotel, kok saya baca di internet, hotel tersebut banyak hantunya? Saya agak bingung, karena nama hotel tempat kami menginap kali ini bernama Axana…..setelah saya membuka-buka halaman blog (ehh ternyata ada gunanya juga menulis di blog, seperti punya buku harian)…lho! kok gambarnya sama, cuma huruf “L” diganti dengan “X”. Karena sudah harus berangkat besoknya, saya cuma mengatakan pada Ian, ya dicoba saja, kalaupun tak bisa ya tidak apa-apa, karena saya pernah tidur di sana dan aman-aman saja. Padahal, selama tidur di hotel tersebut, saya selalu terbayang, bagaimana dulunya gempa bisa meruntuhkan hotel ini. Ian cuma bilang, “Ibu kan berdua dengan teman, saya sendirian”…hahaha. Saya menenangkan Ian, mengatakan kalau selama saya tidur di sana tak ada masalah apa-apa.

Rumah Makan Lamun Ombak

Rumah Makan Lamun Ombak

Kami berangkat menggunakan pesawat Garuda jam 11.25 wib, setibanya di Padang dijemput oleh teman dari Padang, kemudian kami mampir makan dulu di Rumah Makan “Lamun Ombak”. Interior rumah makan ini cukup menarik, dan gulai ikannya sungguh sedap. Tak disangka, kami bertemu dengan teman yang isterinya orang Jepang, dan saat ini ke Padang akan menghadiri wisuda kemenakannya. Karena putri saya menikah dengan orang Jepang, kami kemudian mengobrol dan sempat berfoto bersama. Ternyata isteri teman ini sudah lama tinggal di Indonesia, adiknya kuliah di USU, yang kemudian mendapat beasiswa di salah satu universitas di Osaka.

Depan gerbang Universitas Andalas

Depan gerbang Universitas Andalas

Dari restoran Lamun Ombak, kami segera check in ke hotel Axana, untuk berganti pakaian karena baju saya sudah basah kuyup, entah kenapa cuaca di Padang benar-benar panas, dan berkabut karena kena asap dari daerah Pekanbaru dan Jambi. Setelah berganti pakaian dan sholat, hari telah menunjukkan pukul 16.30 wib. Jadi akhirnya kami memutuskan untuk melihat kampus Universitas Andalas. Tak lama hujan rintik-rintik mulai membasahi kota Padang…rasanya setiap kali ke Padang dan mengunjungi kampus Unand ini, selalu saya diiringi hujan yang mengguyur. Yang menarik adalah gapura di pintu masuk Universitas Andalas, kami sempat berfoto di sini. Sayang makin gelap, jadi foto-foto nya kurang bagus. Setelah berkeliling di kampus ini, ke gedung Rektorat Universitas Andalas, dan Conference Hall, kami kembali menuju kota Padang. Magrib telah menjelang, akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke Sendik BRI Padang, kebetulan Kepada Sendik BRI Padang dulunya pernah bertetangga saat di kompleks BRI Cipete Selatan.

Lukita masih terlihat segar setelah bekerja seharian, dia agak kaget, tahu-tahu kami telah muncul di depan pintu rumahnya. Setelah mengobrol sebentar dan mengambil foto-foto, kami ikut menumpang sholat magrib di Guest House Sendik BRI Padang. Tak terasa waktu berlalu cepat, kami segera pamit, karena besoknya kami akan mengajar seharian. Sebelum menuju hotel, kami mampir dulu di RM Sederhana untuk membeli makan malam, dan dibungkus untuk di makan di hotel nantinya. Syukurlah malam itu berlalu tanpa kejadian yang berarti, walau sebetulnya saya agak merasa aneh, karena tiba-tiba Televisi menyala dan acaranya adalah film luar negeri. Selama saya bepergian bersama temanku ini, kami biasanya hanya menyetel berita, karena kalau menyetel berita bisa ditinggal-tinggal. Sebelum tidur, kami menggunakan lampu yang redup dan lampu kamar mandi dimatikan. Ternyata lampu kamar mandi ini berlanjut mati nya, terpaksa paginya saya dan teman mandi bergantian dengan pintu kamar mandi yang terbuka. Entah kenapa, saya juga tak merasa apa-apa, bulu kuduk juga tak berdiri, jadi kemungkinan memang bolam nya putus atau bagaimana.

Besok siangnya, saya meminta teknisi untuk membereskan urusan lampu kamar….saya perhatikan, kalau bolam putus, seharusnya masih ada dua lampu lagi yang persis di atas wastafel tak masalah, karena menggunakan saklar yang berbeda. Sejak di Medan, saya merasakan kalau AC di hotel di setel agar menghemat energi. Kalau hotel Aryaduta di Medan di blok pada kisaran angka 22 derajat celsius dan membuat saya kedinginan, di hotel Axana ini kelihatannya di blok di angka 26 derajat celsius. Setelah diperbaiki teknisi, tetap saja tak bisa turun….pas jam 3 pagi, saya terbangun karena basah kuyup dengan keringat…ternyata AC nya 28 derajat Celsius…..sekalian saja kami mengambil air wudhu untuk sholat Tahajud. Ternyata pas hari kedua, tanpa sekalipun mengutak-atik remote AC, semakin malam terasa semakin dingin, pas bangun pagi ternyata AC nya 21 derajat Celsius. Syukurlah saya sudah memakai kaos kaki dan baju hangat….tapi jadi melewati waktu sholat Tahajud karena terbangun sudah jam 5 pagi. Saya tidak mengkaitkan dengan hal-hal aneh, apalagi Ian juga tenang-tenang saja, mungkin saja memang setelah AC nya belum pas.

Hari kedua, setelah mengajar, yang acaranya juga dilaksanakan di Hotel Axana di lantai 3, kami menuju Shirley, tempat oleh-oleh khas Minang. Dari hasil pembicaraan dengan teman-teman dari Bank Nagari, saat ini orang cenderung membeli oleh-oleh dari Shirley, walau secara “brand” toko Christine Hakim lebih dulu terkenal. Karena kebetulan toko Shirley di dekat hotel tempat kami menginap, saya membeli oleh-oleh di Shirley. Dari sini kami melanjutkan ke Toko Silungkang, saya hanya membeli kaos untuk garis belakang rumah yang selama ini mendukung berjalannya rumah tangga saya, membeli mukena untuk cucu saya yang masih kecil, dan juga untuk saya sendiri. Hujan turun deras sekali, cuaca menjadi lebih segar karena mengurangi hawa panas karena kabut asap. Tak lama kami disini, karena malam ini kami berjanji dengan teman di Padang untuk makan malam sama-sama. Makan malam kali ini di “Soussa Restaurant”, yang dari luar terlihat seperti rumah biasa. Kami mengobrol ngalor ngidul, melepas kangen, karena kami dulu sering berhubungan dinas saat teman ini bertugas di Surabaya.

Pantai Air Manis dengan Latar belakang Pulau Pisang....kalau lagi air surut bisa jalan kaki ke sana lho

Pantai Air Manis dengan Latar belakang Pulau Pisang….kalau lagi air surut bisa jalan kaki ke sana lho

Paginya. sambil menunggu sopir menjemput jam 10.00 pagi, saya dan teman mengobrol di lobby hotel, waktu terasa lama sekali berlalu. Akhirnya kami tanya pada resepsionis, daerah mana yang bisa dikunjungi, dan jaraknya dekat. Akhirnya kami menggunakan taksi Blue Bird untuk pergi ke pantai Air Manis. Karena asyik berfoto dan mngambil spot yang dirasa bagus untuk foto, taksi yang kami tumpangi kejeblos di selokan. Disini saya terharu, melihat warganya berpartisipasi membantu pak sopir mengangkat mobil, karena saat diundurkan sulit.

Taksi Blue Bird yang kami tumpangi ke Pantai Air Manis kejeblog selokan, syukurlah warga langsung berlarian untuk membantu (sayang lupa memotretnya karena ikut senewen).

Taksi Blue Bird yang kami tumpangi ke Pantai Air Manis kejeblog selokan, syukurlah warga langsung berlarian untuk membantu (sayang lupa memotretnya karena ikut senewen).

Para pesepeda yang kebetulan lewat, para sopir yang berpapasan, bergotong royong bahu membahu membantu sopir taksi, mengangkat mobil dari selokan. Sayangnya saya terlambat mengambil foto saat mobil diangkat dari selokan, dan baru sadar setelah semua selesai. Terimakasih teman-teman, senang sekali melihat kerja sama warga saling tolong menolong. suatu ketika kita juga harus menolong orang lain yang kesulitan.

Universitas Negeri Padang

Universitas Negeri Padang

Rakiang (?) atau bangunan khas berbentuk lumbung, yang ada di depan Universitas Negeri Padang

Rakiang (?) atau bangunan khas berbentuk lumbung, yang ada di depan Universitas Negeri Padang

Sopir menjemput jam 10.00 wib untuk pergi ke bandara Minangkabau International Airport, setelah check out, kami segera menuju bandara. Kebetulan jalan ke arah bandara melalui Universitas Negeri Padang, kami mampir dulu untuk mengambil foto-foto disini. Di depan gedung Rektorat sebelah kanan, persis dekat jalan masuk, ada semacam pos jaga berbentuk lumbung (Rakiang?)…dulunya di pedesaan bangunan Rakiang ini ada di hampir setiap rumah adat yang berguna untuk menyimpan padi. Pada perjalanan berikutnya, saya melihat bangunan ini difungsikan sebagai pos jaga, di perlintasan rel kereta api. Saya merasa agak pusing, jadi mampir dulu di RM Lamun Ombak yang ada dekat dengan bandara. Awalnya ingin membeli saja nasi dan lauknya, nanti di makan di bandara. Syukurlah kami memutuskan makan di restoran, ternyata bandara penuh sesak, bahkan di lounge makanan habis.

Jam gadang di halaman Minangkabau International Airport

Jam gadang di halaman Minangkabau International Airport

Setelah makan siang kami menuju bandara, di halaman bandara ada tiruan tugu jam gadang seperti yang ada di Bukittinggi, tapi dalam versi lebih kecil, kami sempat berfoto disini, juga memotret bandara MIA (Minangkabau International Airport) dari depan. Masuk bandara, terasa sekali orang ramai sekali, padahal bandara ini termasuk baru. Dan ini juga terjadi di Bandara Soekarno Hatta. Ini mencerminkan adanya pertumbuhan kelas menengah di Indonesia yang cukup signifikan, hanya yang perlu diperbaiki adalah bagaimana agar kesenjangan tidak terlalu jauh antara masyarakat menengah atas dan orang miskin,  pekerjaan rumah yang berat untuk pemerintahan baru. Kami segera menuju mushola untuk sholat, mushola nya penuh sesak, kami sholat berdempetan. Setelah itu kami menuju ruang tunggu, yang juga penuh sesak, syukurlah kami masih bisa mendapat tempat duduk.


Responses

  1. Membeli oleh2 di Shirley.juga kami lakukan Bu Enny pilihan ragamnya hm banyak, di samping hotel lagi (Muaro)
    Wow Bu Enny memanfaatkan waktu menunggu dengan wisata Pantai Air Manis.
    Senangnya mengikuti serial T&W ini.

    Saya ikut senang jika tulisan ini bermanfaat mbak Prih…

  2. Dari dulu saya ingin banget ke Padang karena saya suka banget masakan Padang dan bercita-cita bisa makan masakan Padang di tempat asalnya. Semoga cita-cita ini bisa kesampaian tahun depan🙂

    Semoga kesampaian Cut Inong, saya doakan.

  3. Ini adalah kali kedua ibu ke Padang, dan kita tidak juga berjumpa. Padahal Ibu mengajar ditempat saya bekerja. Dan satu lagi ketidak sengajaannya, foto pesepeda yang ada di tulisan ini adalah adik ipar saya,… ahhh suatu ketidak sengajaan.
    Semoga pada saat ibu kembali kepadang nanti, kita bisa jumpa ya Bu,…
    Salam

    Semoga lain kali kita bisa ketemu ya…

  4. Bu.. Bolehkah saya meminta info mengenai cara untuk bisa menjadi pengajar di sendik BRI Padang. Krn saya baca di blog ibu di atas menceritakan jika ibu kenal dgn kepala sendik Padang. Trimakasih

    Maaf mbak, sebaiknya menghubungi langsung Kepala Sendiknya, karena saya sendiri tidak tahu persyaratannya.

  5. rumah makan lamun ombak populer banget ya … padahal dekat rumah mertua tapi belum pernah kesana ….🙂

    Lain kali bisa dicoba kalau ke sana.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: