Oleh: edratna | November 4, 2014

Jalan-jalan ke Tanakita di kaki Gunung Gede, bersama A678

Camping ground Tanakita

Camping ground Tanakita

Kembali A678 ingin bersilaturahim, mumpung kami masih dikaruniai kesehatan dan masih kuat melakukan beberapa perjalanan yang tak terlalu melelahkan. Tapi, camping? Betulkah? Tinoek, teman yang terbiasa melakukan perjalanan dari hutan ke hutan, maklum dia pernah mbaurekso hutan-hutan Taman Nasional di Indonesia, meyakinkan kami kalau kami tak sulit melaksanakannya. Ini bukan camping biasa, namun camping eksekutif, artinya semua fasilitas camping, lengkap dengan sleeping bag nya telah disediakan. Kami juga tak perlu memikirkan makanan, juga jika ingin mengadakan api unggun, maka kayu yang siap dibakar juga ada. Dan pemandangan alamnya dijamin membuat kenangan yang manis.

Senangnya sampai di Tanakita

Senangnya sampai di Tanakita

Masalah kedua, apakah kami masih mampu naik turun bukit/gunung, karena wisata yang ada adalah danau Situgunung, Air Terjun, serta pemandangan indah sungai Cinumpang. Kami juga bisa melihat-lihat pasar tradisional. Selanjutnya, bagaimana cara orang Jakarta mencapai stasiun Paledang, apakah ada commuter lines pagi-pagi sekali (sebetulnya ada commuter lines jam 5.42 wib dari stasiun Tanjung Barat menuju Bogor), karena yang paling nyaman adalah naik kereta pertama jam 7.45 wib dari stasiun Paledang menuju Cisaat. Kendaraan selama di gunung adalah naik angkot dan jalan kaki, karena begitu memasuki Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, tak dibolehkan adanya kendaraan roda empat. Masalah selanjutnya, ternyata untuk akhir pekan telah penuh sampai akhir tahun, terpaksa kami memilih hari kerja untuk pergi ke Tanakita, sehingga teman-teman dosen/Guru Besar  yang masih aktif  bekerja tak bisa ikut serta.

Kami bertemu di stasiun Paledang, langsung naik kereta api menuju stasiun Cisaat. Di depan stasiun Cisaat telah menunggu angkot yang dipesan. Perjalanan dari Cisaat ke Tanakita bukan melalui jalan yang mulus, namun jalan kecil meliuk-liuk, dan mendekati Tanakita jalannya berupa batu-batu besar yang membuat perut rasanya seperti dikocok. Betapa senangnya setelah kami memasuki camping ground dan melihat pemandangan di depan mata yang sungguh indah. Tanakita ini bisa memuat 125 orang tamu yang menginap, disediakan kamar mandi dengan air panas, yang letaknya terpisah dari tenda, namun masih di kompleks Tanakita.

Foto dulu depan tanda Danau Situgunung

Foto dulu depan tanda Danau Situgunung

Setelah makan siang, kami mulai jalan kaki menuju ke Danau Situgunung. Perjalanan nya sungguh berat karena jalanan dipenuhi batu-batu besar tak rata yang berserakan, membuat saya tak berani menengok ke kanan maupun ke kiri, kawatir terpeleset. Namun kesulitan ini mendapat hadiah yang luar biasa, pemandangan danau Situgunung yang indah.

Danau Situgunung

Danau Situgunung

Danau ini dikelilingi pepohonan besar yang rindang, pengunjung bisa juga melakukan aktivitas seperti bersampan dan sebagainya. Di pinggir danau agak menjorok ke hutan ada bangunan Wisma Tamu, yang sayangnya tak terawat, sayang sekali, padahal letaknya di lokasi yang strategis. Kami mengelilingi danau, setelah puas bergurau dan bercanda, kami mulai berjalan pulang.

Jalanan makin menanjak, tetes air hujan mulai turun, tapi saya tidak berani mempercepat langkah, selain memang badan rasanya berat, juga kawatir jatuh. Syukurlah Tinoek ada dibelakangku, jadi saat hujan mulai mengguyur deras, saya ada teman nya. Gara-gara tadinya jalan menunduk, kami kurang memperhatikan kanan kiri, jadi kami tersesat  ke arah pintu gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Syukurlah ada teman yang sadar bahwa ada dua orang ketinggalan, dikira kami berteduh karena tak membawa payung…jadi ada staf Tanakita yang kembali mencari kami.

Api unggun

Api unggun

Malam hari setelah makan malam, staf Tanakita mulai membuat api unggun. Kami mengelilingi api unggun agar badan terasa hangat, maklum cuaca cukup dingin. Rupanya mereka memberi kejutan dengan menyanyikan lagu-lagu country menggunakan gitar, dan menyediakan bandrek, colenak serta jagung bakar. Sungguh mengesankan, suara mereka bagus sekali, dan kami ikut bernyanyi walau tak hafal. Malam itu pertama kalinya saya menggunakan sleeping bag, tidur nyenyak sekali.

Paginya, sebetulnya kami ingin melihat air terjun. Sayangnya sebelum kami datang, terjadi kecelakaan di air terjun, ada wisatawan domestik yang terjatuh. Saat jenazahnya diangkat, ternyata ada mayat lagi yang diperkirakan sudah lama. Jadi air terjun untuk sementara ditutup untuk memudahkan pemeriksaan oleh polisi. Akhirnya tujuan dialihkan melihat pemandangan di sungai Cinumpang, dan kami ditawari apakah mau berjalan kaki atau naik angkot? Tentu saja kami semua memilih naik angkot. Angkot hanya boleh sampai di depan pos penjagaan.

Rumah panggung

Rumah panggung

Karena berpikir hanya melihat sungai, dan tidak ada niat untuk bermain air (mencebur ke dalam sungai….walau kedengarannya menyenangkan), maka kami meminta sopir angkot untuk  datang menjemput satu jam lagi. Rupanya kami semua terpesona dengan pemandangan sungai Cinumpang yang sungguh indah sekali. Jalan menurun harus dilakukan dengan hati-hati, agar tidak terpeleset dan terjun ke jurang.

Rumah beratap bambu

Rumah beratap bambu

Di kiri  ada bangunan rumah panggung, serta didekatnya ada bangunan rumah yang unik dengan atap dari pohon bambu yang di potong-potong.

Enny dan ketel air

Enny dan ketel air

Di depan bangunan beratap bambu tersebut, ada ketel berwarna hitam di atas tunggu kayu bakar.

Jembatan bambu

Jembatan bambu

Di atas sungai Cinumpang ada jembatan bambu yang artistik, juga ada rumah tenda….Jenny, turis asal Australia yang pergi bersama rombongan kami sangat terpesona. Dia berkata…”It’s amazing….” karena kebetulan latar belakang Jenny dari desain (lansekap).

Sungai Cinumpang airnya jernih, kami bisa melihat dasar sungai, mengalir melewati batu-batuan besar. Ada batu yang menyerupai gua, entah bentukan manusia, atau memang sudah seperti itu sejak awalnya. Setelah puas mengambil foto, kami segera naik kembali untuk pulang menuju Tanakita.

Ternyata staf Tanakita membuat kejutan lagi untuk kami, di depan rumah beratap bambu telah disediakan kopi dan teh panas, kemudian ada pisang goreng aroma (pisang yang dibungkus kulit lumpia) baru digoreng….rasanya sungguh sedap. Selesai menikmati snack pisang aroma dan teh panas manis kami kembali naik angkot menuju Tanakita.

Foto bersama para staf Tanakita

Foto bersama para staf Tanakita

Kami mulai merapihkan barang-barang, mendung mulai menggantung di langit, jadi kami memutuskan segera membawa travel bag ke tempat makan yang letaknya terpisah. Kami mengobrol, sambil menunggu makan siang. Kami berfoto dulu bersama Staf Tanakita, mengucapkan terimakasih atas pelayanannya dan mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan yang diperbuat oleh rombongan kami.

Stasiun Cisaat tampak depan

Stasiun Cisaat tampak depan

Selesai makan siang, kami bersiap menuju stasiun Cisaat karena rencananya kami mau mampir mencari oleh-oleh di jalan Raya Rambay, yaitu jalan raya ke arah kota Sukabumi. Toko oleh-olehnya terletak di dekat jembatan, saya hanya membeli kue moci, tak berani banyak membawa bawaan karena pulangnya akan naik kereta, yang disambung commuter lines ke Jakarta. Stasiun Cisaat yang dibangun sejak zaman Belanda masih terawat, banyak sekali penumpang, karena ada rombongan dari Solo.

Menunggu kereta api Siliwangi dari Sukabumi (imigran dari Cisaat)

Menunggu kereta api Siliwangi dari Sukabumi (imigran dari Cisaat)

Sejak kereta api nyaman, banyak orang bepergian dengan naik kereta api. Sambil menunggu kereta api di stasiun Cisaat, tak lupa saya ambil foto teman-teman yang sedang duduk menunggu. Betapa leganya melihat kereta api datang, kami segera naik ke kereta yang akan membawa kami ke Bogor.


Responses

  1. Terima kasih sdh menuliskan pengalaman ini, Ibu… Ah, jadi ingin ke sana juga.. Mudah2an bisa terlaksana… Aamiin…

    Ayoo Mechta, bersama teman-teman ke sana…pemandangannya sungguh indah, rasa lelah langsung hilang.

  2. Lokasi camping yang ‘sempurna’, Mbak.
    Itu rumah panggungnya untuk apa ya, sama fungsinya dengan menara pengawas?

    Kelihatannya hanya untuk keindahan yang menyatu dengan alam sekitarnya…ehh soalnya nggak berani memanjat.
    Letaknya di perkemahan Cinumpang.

  3. Kegiatan camping serasa kita masih di tingkat dua ya Ibu. Postingan ini sungguh memotivasi kami bagaimana mensyukuri waktu dengan menikmatinya bersama kerabat dan sahabat. Terima kasih, semakin kangen berjumpa dengan Ibu Enny.

    Betul mbak Prih, tadinya kawatir nggak kuat…ehh ternyata malah kecanduan.
    Senang berkumpul, mengobrol kembali, serasa masih mahasiswa tingkat dua.

  4. wahh… jadi pengen juga camping begini Bu… *yang nggak perlu repot bawa tenda dan peralatan masak kayak jaman pramuka dulu.. hehehe…

    Seru ya kayaknya camping rame-rame dengan teman-teman…

    salam hangat,
    nana

    Coba Nana, bersama teman-teman dan keluarga…menyenangkan sekali kok.
    Kita juga jadi fresh dan senang melihat pepohonan.

  5. Ini patut dicatat baik-baik nih.. Sepertinya menyenangkan libur keluarga ke sini.. Semoga kesampaian.. Terima kasih, Bu sudah menceritakannya..🙂

    Memang menyenangkan Uda…..saya juga pengin bawa cucu ke sana, cuma mesti mencari waktu yang tepat.

  6. […] Tentu saja kami mengambil berbagai foto sebagai kenangan, karena perjalanan kesini belum tentu terulang kembali. Sepulangnya dari curug Sawer kami mampir di perkemahan Cinumpang, teman-teman saya sibuk mengabadikan pemandangan yang indah disini. Kebetulan tiga minggu sebelumnya, saya sudah kesini, bersama grup yang lain, yang telah saya tulis disini. […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: