Oleh: edratna | Desember 26, 2014

Bubur ayam

Bubur ayam
Bubur ayam
Siapa tak kenal bubur ayam? Saya mengenal jenis makanan ini pertama kali saat diajak ibu menengok saudara sepupu saat masih SMA. Saat itu, saya dan ibu menginap di mess WARA di komplek Halim Perdana Kusuma. Teman kakak sepupuku sedang ulang tahun, dan bibi memasak bubur ayam.
Saya melihat bibi memasak bubur ayam dalam dandang (sejenis panci yang digunakan untuk memasak nasi) besar, dan dalam proses nya, bubur diaduk terus. Awalnya terasa aneh makan bubur ayam ini, karena bagiku yang dinamakan bubur adalah bubur sumsum, bubur kacang ijo dan lain-lainnya. Walau tidak terbiasa, namun bubur ayam yang dimasak oleh bibi ini, rasanya enak, karena daging ayamnya langsung dicampur dengan ayam saat dimasak, sehingga rasa ayamnya sangat terasa. Dari yang awalnya tidak suka, lama-lama justru bubur ayam ini masakan yang paling saya suka, terutama jika badan mulai terasa kurang sehat.
Bubur ayam, adalah jenis makanan dari beras, yang dimasak dengan air yang banyak sehingga memiliki tekstur yang lembut dan berair. Bubur ayam biasanya disajikan dalam suhu panas atau hangat, disajikan dengan irisan daging ayam, irisan daun bawang, cakwe, bawang goreng dan lain-lain, sesuai selera.
Bubur ayam sebenarnya dapat dimakan kapan saja. Karena teksturnya yang lembut, disajikan hangat-hangat, serta memiliki kandungan gizi yang cukup baik, bubur ayam kerap dijadikan makanan bayi, anak-anak, atau orang sakit yang tengah dirawat untuk pemulihan. Kenapa saya menulis tentang bubur ayam ini? Akhir-akhir ini, karena kegiatan yang cukup padat, juga karena faktor “U”,  perut saya sering bermasalah, terutama jika terkena makanan pedas dan berlemak (santan dan sebagainya). Di akhir tugas keliling selama dua minggu pada awal Desember ini, hanya jeda dua hari dan pergi lagi, tujuan terakhir mengajar di Padang.
Bisa dibayangkan, semua makanan di Padang, rasanya hanya “enak” dan “enak sekali” dengan kuah santan dan pedas. Walau namanya ikan bakar, dan memang enak sekali, tetap saja diberi bumbu sebelum dibakar, jadi rasanya masih pedas untuk ukuran perut saya. Setelah itu saya mengajar di sebuah hotel di Jakarta, saya tergoda untuk minum kopi … sebetulnya bukan kopi pekat, namun susu yang dicampur dengan kopi. Badan memang terasa segar dan saya cukup kuat untuk menggantikan mengajar materi yang seharusnya diajarkan oleh teman saya yang berhalangan sakit……, tapi, dua hari sesudah itu perut mulai bermasalah, rasanya kembung seperti masuk angin.
Jika perut kembung, makan apa saja terasa tidak enak, karena perut terasa kenyang….tapi harus tetap makan, karena kalau perut kosong akan makin bermasalah.  Jadi selama perut kembung, saya makan bubur ayam, kadang-kadang roti, atau pancake, makanan yang lembut dan tidak pedas. Setelah kembung hilang, ganti deh sariawan….waduhh benar-benar harus dicatat nih….lupakan kopi, dan ini betul-betul harus ditepati. Enaknya sebentar, nggak enaknya dua minggu.
Di saat perut bermasalah, saya janjian ketemuan dengan teman si bungsu, janji yang sudah berulang kali batal. Apa boleh buat, setelah berkali-kali batal, kalau nggak saya yang kebanyakan acara, juga Achie (teman si bungsu) yang sibuk, karena setelah selesai ambil program Master di Jepang, dia sudah mulai kembali bekerja di Jakarta. Pas hari “H”, ganti Achie yang sakit perut…waduhh….syukurlah sore harinya, akhirnya kami bisa ketemu. Dan walaupun sore hari, Achie mau diajak ke American Grill….Achie pesan steak, lagi-lagi saya cuma pesan salad bar, yang bebas memilih makanan yang ada di meja. Tentu saja pilihanku bubur ayam, dan sampai saat ini, untuk ukuran seleraku, bubur ayam di American Grill paling enak. Mungkin karena mangkuknya kecil, bisa mengambil sendiri, serta bisa menambahkan bawang goreng, cakwe, irisan daun bawang, dan  teri asin goreng kecil-kecil sesuai selera.
Dan kemarin, karena si sulung tetap masuk kerja tanggal 26 Desember ini (padahal tanggal ini dia ulang tahun),  saya masih sariawan, dan menantuku juga “agak flu”, kami memilih merayakan ulang tahun si sulung dengan makan-makan di Ta Wa Restaurant yang berlokasi di Cilandak Town Square. Restoran ini terkenal dengan bubur ayamnya. Bubur ayamnya berbagai rasa, sesuai pilihan kita…… menurut saya rasanya enak, cuma porsinya termasuk besar untuk ukuran saya.
Jadi kalau ditanya, bubur ayam pilihanku tetap yang di American Grill. Ini bukan promosi lho….entah kenapa,  selama ini AG selalu menjadi pilihan untuk tempat ketemu dengan teman-teman untuk pertama kalinya,  untuk mengobrol dan temu kangen dengan teman yang lama tak ketemu….. tempatnya menyenangkan, lokasi mudah dijangkau, dan kita bisa mengobrol sampai lebih dari 4 (empat) jam tanpa sungkan.

Responses

  1. hihihi AG memang tempat favoritnya ibu ya😀
    Nanti kalo mudik saya ajak ke bubur barito ya… timingnya sih yang penting, juga kalau tidak ada mobil rada sulit ke situ. Kemarin pulang dadakan, aku ke buryam barito sama ria dan eka jono jam 9 malam. Pas aku juga ngga enak perutnya bu.

    Iya Imelda…AG favorit saya karena mudah dicapai. Apalagi kalau badan sedang tak enak, nggak nafsu makan…makan di AG, dijamin habis banyak (bubur ayamnya).
    Ehh kita rencana terus ya makan bubur ayam Barito ini..semoga suatu kali kesampaian…hehehe

  2. Menu bubur ayam yang tidak terlalu berat dan nyaman di perut ya Ibu. Bubur ayam plus gurih teri usai jalan pagi sangat nikmat. Salam hangat

    Benar mbak Prih, bubur ayam bisa dinikmati kapan saja.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: