Oleh: edratna | Januari 16, 2015

KOPSAR di Pasar Santa

Kenapa judulnya kopsar?  Kopsar atau Kopi Pasar, akhir-akhir ini banyak dilakukan oleh kaum muda di Pasar Santa. Setelah 7 (tujuh tahun) Pasar Santa lantai atas sepi, pengelola merevitalisasi lantai atas tersebut, membuat kios-kios kecil, disewakan secara murah…membuat kaum muda yang baru belajar wiraswasta berani memulai untuk membuat usaha.

Komunitas kaum muda  ini awalnya mulai membuat resto yang menjual berbagai minuman terutama kopi, yang di blend dengan berbagai macam, sehingga membuat rasa yang berbeda-beda. Peracik kopi ini yang membuat rasa kopi menjadi sangat bervariasi. Lama-lama kaum muda juga membuat berbagai macam makanan yang dibuat dalam sajian yang berbeda, keinginan komunitas kaum muda ini adalah bagaimana makanan/minuman khas Indonesia menarik untuk dijual, yang membuat segmen kaum muda tertarik untuk datang dan mencicipi.

Tangga di Pasar Santa, menuju Food Court
Tangga di Pasar Santa, menuju Food Court

Saya tertarik untuk mengunjungi Pasar Santa sebetulnya sejak beberapa bulan lalu, apalagi setelah melihat tulisan di Kompas. Kebetulan  ada blogger yang akrab dengan saya,  temannya (Radiana Mahaga atau lebih dikenal dengan panggilan Ipaq) mempunyai resto di situ, yaitu GayoBies Kopi.

Meracik kopi di GayoBies

Meracik kopi di GayoBies

Yang menarik, Ipaq ini seorang geologist yang menemukan passionnya di kopi Gayo. Ini pertama kalinya saya ke Pasar Santa, syukurlah pak sopir tahu benar lokasi pasar ini, ternyata letaknya ada di dalam, di antara jalan Cikajang, jalan Wijaya II dan jalan Wolter Monginsidi.

GayoBies Kopi, milik seorang geologist

GayoBies Kopi, milik seorang geologist

Dari luar, penampakan Pasar Santa biasa saja, di depannya becek sehabis hujan. Agak kawatir juga, benarkah lokasinya disini?

Yoga sudah pesan, sebaiknya saya datang sekitar jam 2 (dua) siang, karena rata-rata resto baru buka siang hari, bahkan banyak yang buka hanya malam hari, karena banyak pemiliknya yang bekerja atau masih menjadi mahasiswa.

Kualisi, buka akhir pekan
Kualisi, yang masih baru

Bahkan beberapa resto hanya buka pada akhir pekan saja. Sebetulnya lebih asyik kalau berkunjung saat akhir pekan, namun kita tak bisa mengobrol santai, karena pengunjung akan memenuhi lorong-lorong di Pasar Santa ini. Pada akhir pekan sering ada musik yang ditampilkan.

Yoga, Ipaq dan Tinoek (sayang gelap)

Yoga, Ipaq dan Tinoek (sayang gelap)

Tak lama kemudian, temanku sesama mahasiswa dulu (Tinoek) datang. Kami mengobrol berbagai hal, ternyata Tinoek malah cocok dengan Ipaq, dan Yoga, karena sama-sama pencinta alam, suka berpetualang naik gunung dan wisata alam lainnya.

Obrolan makin seru menjelang malam, setelah komunitas pencinta alam teman-teman Ipaq mulai berdatangan, volunteers, penulis dan para pendaki gunung, bahkan salah satu putri teman Ipaq  yang selama ini bekerja di Liberia, ikut datang karena saat ini sedang liburan.

Hot Chocolate dari GayoBies Kopi
Hot Chocolate dari GayoBies Kopi

Sungguh menyenangkan melihat komunitas kaum muda ini, kebersamaannya sangat terasa, kami duduk berdesakan sambil menyeruput kopi Gayo (bagi yang suka kopi), sedang saya hanya berani pesan hot chocolate, dan miechino.

Kami duduk di lorong, namun situasi ini tak mengurangi rasa nyaman. Setelah lama mengobrol, kami mulai lapar lagi dan pesan pisang goreng, dilanjutkan dengan siomay Tiban (yang terkenal enak) dan dimakan ramai-ramai.

Asyiknya yang sedang meeting (lihat di latar belakang)

Asyiknya yang sedang meeting (lihat di latar belakang)

Siapa bilang hanya kaum muda yang datang? Saya melihat bapak-bapak usia matang (setengah umur) datang ke GayoBies Kopi untuk meeting … asyik sekali melihat mereka meeting sambil menikmati secangkir kopi gayo yang dibuat sesuai selera pengunjung.  Saya baru tahu kopi dicampur telor rasanya enak, seperti capucino, atau saya tak bisa membedakan rasanya?

 

Soto Medan, baru mulai usaha dua minggu. Pemiliknya masih muda usia.

Soto Medan, baru mulai usaha dua minggu. Pemiliknya masih muda usia.

Saya dan Tinoek kemudian menyusuri lorong-lorong Pasar Santa, mengobrol dengan kaum muda pemilik kios lainnya, sungguh menyenangkan melihat mereka semangat berwirausaha.

Apple Pie Meltz

Apple Pie Meltz

Saya mampir ke Aplle Pie Meltz (atau Ipie) untuk membeli apple pie buat oleh-oleh Ara. Apple pie ini selalu mengingatkan saya saat anak-anak masih kecil, saya menunggu mereka kursus piano di Yamaha, sambil makan apple pie dan juice adpukat di CFC. Sayang sekarang susah mendapatkan apple pie yang sesuai selera saya.

Siomay Hokie Tiban

Siomay Hokie Tiban

Berbagai makanan khas nusantara yang dikemas kembali, disesuaikan dengan selera muda, bertebaran di Pasar Santa ini.

Dari obrolan dengan Ipaq, saya mendapat pemahaman, bahwa komunitas kaum muda ini ingin membuat makanan khas nusantara tidak kalah dengan makanan barat. Dari pengamatan saya, resto yang ada di Pasar Santa, menyajikan antara lain: Miechino, Siomay Hokie Tiban, Miesop Medang, Soto Medan, Bengkel juice, ramen, Taco Cat dan lain-lain. Dan semuanya dikelola oleh kaum muda usia.

Teman saya menceritakan, dia dan teman-temannya pernah ngamen, menyanyi di lorong-lorong pada akhir pekan, untuk mendapat tambahan modal. Sungguh menyenangkan mendengar semua ini. Saya juga mendengar, sebuah bank besar di Indonesia, ingin membuat re branding di lantai atas Pasar Santa ini, namun komunitas kaum muda ingin tetap  menjaga komunitasnya tidak tercampuri oleh orang luar.

Saya pulang setelah Magrib, jalanan mulai cair, saya dan Tinoek naik taksi BB, taksinya mengantar Tinoek lebih dulu ke rumah anaknya di daerah Pejaten Barat, kemudian  baru ke rumahku. Sampai di rumah telah jam 20.30 wib, Ara masih bangun dan langsung ikut menikmati apple pie, senang bisa menyempatkan waktu mengunjungi pasar Santa, ketemu teman-teman baru yang sungguh menyenangkan. Bagi yang mau kongkow-kongkow di Pasar Santa jangan kawatir, toiletnya bersih dan ada mushola di lantai atas.


Responses

  1. Bu Enny sayang, boleh juga judulnya.. sebagai ganti kopdar ya Bu? Yang duluan trend sebenarnya adalah #ngopidipasar sebuah hastag yang dipopulerkan oleh abcd coffee yang menjadi pioneer di lantai 1 Santa jauh sebelum hadirnya tenant-tenant yang ada sekarang. abcd (a bunch of coffee dealer) ini adalah kursus barista yang didirikan oleh 2 orang selebritis kopi di tanah air. Berkat mereka-lah akhirnya pasar Santa menjadi seperti sekarang (kawasan perekonomian kreatif) meskipun awalnya ditujukan untuk “pusat kopi”. Saya dan mbak Ipaq aktif di komunitas sosial yang sama jauh sebelum adanya Gayobies (GB), sehingga dengan hadirnya GB di Pasar Santa otomatis menjadi alternatif tempat kami berkumpul sebagaimana kemudian Ibu lihat, kami bukan komunitas pecinta alam, Bu meskipun memang suka kegiatan di alam terbuka. Oya benar kami pernah #ngamendipasar untuk mengenalkan kegiatan sosial kami sekaligus sambil menggalang dana untuk membeli buku untuk Rumah Baca yang akan kami dirikan di Mataso, Embaloh Hulu, Kalimantan Barat, pada bulan Mei 2015 silakan link-nya http://www.1n3b.web.id Terimakasih Bu atas kunjungan ke GB, senang bertemu dan berkenalan dengan Ibu Tinuk.

    Yoga, kemarin kok lupa ya, mau lihat barista mencampur kopi di ABCD. Juga lupa untuk mencoba nasi goreng hitam di Santa. Dan juga minuman yang diuapkan, anakku dan isterinya serta Ara sudah mencoba nasi goreng hitam dan minuman yang diuapkan itu…..
    Namanya suka hiking ya pencinta alam Yog….walau tak membentuk komunitas (ngeyel.com).
    Kayak Tinoek, saya anggap (ehh kok sok teu ya?) pencinta alam…kenal dengan Tinoek, membuatku suka jalan-jalan dan ber wisata alam.

  2. Semoga Pasar Santa jadi model bagi pasar2 lain untuk menyasar anak muda ya, Mbak Enny. Tampaknya makin hits saja pasar ini..

    Iya mbak Evi..agar pemerintah dalam merevitalisasi pasarnya, juga melihat bagaimana interaksi para pedagang ini…jangan sampai jadi pasar mewah yang justru kehilangan jati dirinya. Semoga Pasar santa dipertahankan seperti ini, dijaga kebersihannya, agar anak-anak muda yang uang nya masih pas-pas an berani menjadi wirausaha.

  3. Pasar lain segera bisa menyusul kreativitas anak mudanya,
    membaca cerita pengalamannya aja seru Bu, apalagi yg ikut menikmati.

    Iya…sebetulnya kalau fisik kuat, pengin ke sana pas akhir pekan…itu rame-rame nya pasar Santa dan dipenuhi kaum muda.

  4. Semoga bisa bertahan lama …
    dan mudah-mudahan ini bukan trend sesaat saja …
    sebab … jika saya perhatikan … jika sudah ramai … biasanya para trend setter akan mencari tempat yang baru

    salam saya Bu
    (17/1 : 4)

    Saya berharap yang sama om NH…..rasanya senang melihat anak-anak muda berwirausaha…yang akan menjadi cikal bakal pengusaha besar nantinya. Semoga.

  5. salut deh, inovasi selerti ini bisa membangkitkan pasar yg sepi
    malah jadi tempat yg hits

    Semoga kontinyu ya mbak Monda…..karena mereka anak-anak muda, serta sebagian masih sambil bekerja di kantor, jadi buka hari Jumat sore, Sabtu, Minggu.

  6. Wah salut sama pasar santa. Bagus juga nyewain dgn harga murah jd anak anak muda ada tempat untuk belajar dagang ya bu. Dan kayaknya emg pasar santa belakangan jd rame dan ngetop ya karena ini…

    Saya berharap hal terus berlanjut…

  7. soal Kopsar ini sudah beberapa kali saya baca di media massa. beberapa teman juga menyebut-nyebut Pasar Santa. penasaran sebetulnya. pengin ke sana, tapi kok agak jauh dari rumah. mungkin kapan-kapan kita kopdar di sana, Bu Enny?😀

    Hayo Krismariana….saya tunggu

  8. Sepertinya tempatnya nyaman, ya🙂

    Nyaman bagi yang suka pasar tradisinil.

  9. tempat ini sepertinya lagi hipp banget…salah satunya menkeu Bambang main kesini bbrp waktu lalu.

    Betuul

  10. Kopdar dengan suasana pasar yang akrap seperti pasar Santa tentu berkesan khusus ya Ibu. Ikutan penasaran nasi goreng hitamnya.
    Salam

    Iya, saya juga masih penasaran…belum sempat ke sana lagi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: