Oleh: edratna | April 4, 2015

Eco tour A678-Pekalongan: Museum Batik dan melihat kawasan ekowisata di Petungkriyono.

29 Maret 2015
Gedung Museum Batik yang indah
Gedung Museum Batik yang indah
Pagi-pagi setelah makan pagi, kami berkumpul di lobby hotel Horison Pekalongan. Acara pagi ini adalah meninjau museum batik, melihat proses pembuatan batik, dan mencoba sendiri bagaimana membatik di atas kain. Rombongan antusias sekali, gedung museum batik sungguh indah dan bersih sekali. Kami dipesan untuk tidak mengambil foto di dalam museum, karena batik yang dipajang merupakan batik kuno dan sangat langka.

Belajar membatik...ternyata susaaah
Belajar membatik…ternyata susaaah
Yang menarik adalah saat peserta diajari cara membatik, seru sekali celetukan kami, karena ternyata tidak mudah. Canting dimasukkan ke dalam malam, kemudian ditiup agar lilinnya kering dan tidak  menutup jalannya cairan, yang digunakan untuk melukis.
Karya batik yang belepotan malam
Karya batik yang belepotan malam
Hasilnya belepotan semua, wahh ternyata susah sekali membatik ya, pantesan saja harga sehelai batik tulis sangat mahal.
Dan ini hasil batikan saya, belepotan kena lilin, terus disiasati agar seolah-oleah bunganya kena hama, sehingga blentang-blentong.
Pemandangan ke desa Petungkriyono, diambil dari jendela mobil oleh Martha
Pemandangan ke desa Petungkriyono, diambil dari jendela mobil oleh Martha
Selanjutnya rombongan menuju kawasan ekowisata di Petungkriyono. Jalannya berkelok-kelok menanjak, yang kalau dihitung lebih dari 50 kelokan. Sepanjang perjalanan kami melihat keanekaragaman hayati yang masih asli, Letak desa Petungkriyono ini dilereng gunung Dieng sebelah utara. Disini masih tinggal Owa Jawa (sejenis monyet) yang dilindungi karena hanya tinggal sedikit.
Tiga deret air terjun (diambil dari jendela mobil oleh bu Rini)
Tiga deret air terjun (diambil dari jendela mobil oleh bu Rini)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Desa Petungkriyono ini dikelola oleh komunitas masyarakat setempat, mereka mendapatkan penghasilan dari bertani, beternak (kambing dan sapi pedaging), serta mencoba membuat produksi makanan khas yang bisa dijual ke pengunjung (seperti beras hitam, kopi owa Jawa, gula jahe merah, krupuk cantir).
Minuman khas yang terkenal adalah kopi Owa Jawa dan gula jahe merah, ternyata suami saya sangat suka minum gula jahe merah…sayang saat itu karena kebetulan persediaan menipis, saya hanya puas membeli dua buah saja. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang sangat indah, habitat tanamannya masih alami. Kami menghitung ada 25 air terjun kecil-kecil yang terlihat di kiri kanan jalan, tidak heran kalau Petungkriyono dijuluki desa seribu air terjun, ada pula yang menamakan negeri di atas awan…karena dalam perjalanan kami ke atas, kabut berarakan, sehingga se olah-olah berada di bawah kita jika kebetulan kita berada di puncaknya.
Pertanian nya  dikelola dengan baik, dengan undak-undakan (terasering) seperti halnya Subak di daerah Bali. Perjalanan cukup lama, dan sayangnya kami hanya sempat memotret keindahan alam dari jendela mobil, karena dari Pekalongan ke Petungkriyono ternyata diperlukan 2,5 jam perjalanan (kami salah perhitungan di sini), dan kami masih harus mengejar kereta api untuk pulang ke Jakarta sore harinya.
Pembelajarannya, disarankan ke daerah Petungkriyono berangkat pagi-pagi sekali, sehingga bisa beraktivitas di daerah tersbut, melihat air terjun dari dekat dan pulang ke Pekalongan sore hari, menginap semalam, baru besok paginya melihat museum batik dan lain-lain. 
Tarian kuda kepang menyambut A678 Eco Tour
Tarian kuda kepang menyambut A678 Eco Tour
Sampai di Petungkriyono kami heran karena banyaknya orang yang berkumpul dan terdengar gamelan ditabuh, kami pikir ada perayaan. Ternyata mereka memang mengadakan tarian untuk meyambut kami, yaitu tari kuda kepang oleh para remaja dengan pimpinan nya memakai topeng.
A678 dan tarian kuda kepang
A678 dan tarian kuda kepang
Kami sungguh terharu, sayangnya gerimis mulai turun, walau begitu kami tetap menikmati tarian kuda kepang yang ditarikan para remaja ini dengan menggunakan topi dan payung.
Makan siang di Petungkriyono
Makan siang di Petungkriyono
Dan makan siang itu, kami disuguhi nasi dari  beras hitam dengan lauk ikan dari sungai, sayur daun pakis dan ayam kampung.
Tak lupa kami disuguhi krupuk cantir (yang kemudian masing-masing orang dibekali krupuk cantir dan gula aren), pisang rebus dan sebagai “dessert” berupa singkong rebus yang dimasak dengan gula merah.
Ternyata ada Kepala Dinas Pariwisata yang ikut menunggu kami, walau saat itu beliau bilang hanya meninjau lapangan. Sungguh sambutan yang mengharukan. Entah kapan lagi kami sempat kembali ke sana.

Responses

  1. Kalau dari Horison ke Museum Batik, jauh gak Mbak? Bisa naik becak? Hehehe mau ke Pekalongan bulan depan, kebetulan nginapnya juga di Horison…

    Mbak Evi,
    Mohon maaf, saya tak tahu tentang kota Pekalongan. Mbak Evi kenal Mechta …saya link ke FB nya ya.
    Atau tanya lewat blognya di https://mechtadeera.wordpress.com/. Mechta orang Pekalongan, saya lupa kemarin mestinya ngasih tahu Mechta biar bisa ketemu

  2. Museum Batik sekitar 3 km dr hotel Horison mbak Evi.. bisa sih naik becak tp agak lama ya.. mungkin lbh nyaman dg taksi… Mbak Evi kpn ke Pekalongan? mudah2an bisa ketemuan yaa…🙂

    Mbak Evi,
    Itu udah dijawab Mechta….btw mungkin sebaiknya saling bertukar hape ya.
    Aku juga belum punya hapenya Mechta….japri lewat inbox FB ya Mechta…makasih.

  3. Wah, saya yang orang Pekalongan saja belum pernah masuk ke Museum Batik, Bu.😛

    Wuih, enak sekali itu makan siangnya, Bu.

    Biasa, seperti saya yang udah tinggal lebih dari 30 tahun di Jakarta, belum pernah naik ke Monas.

  4. Hehehe lama2 harus direkam nih Bu, dimasukin Youtube utk jadi web series utk liputan perjalanan Ibu🙂

    Oya… hampir semua museum itu dilarang foto2 ya Bu? Kenapa ya?
    Sayang sekali sebetulnya😦

    Kalau direkam agak susah ya…
    Dilarang karena umur barang yang ditayangkan udah puluhan tahun, serta jika batik pewarnaan dari alam, sehingga jika kena blitz bisa rusak.

  5. Kereen niy dijadikan tempat refreshing

    Setuju

  6. Pertama, salut dulu Ibu untuk stamina peserta ecotour, dengan agenda sepadat itu, tapi acara menyenangkan dan bareng teman sehati pastinya penuh tawa. Petungkriyononya ikut catat ya Ibu…kami yang dekat malah belum menikmati.
    Terima kasih Ibu Enny untuk sharing menawan ini. Salam

    Mbak Prih, kalau mau ke Petungkriyono, mas Slamet (udah jadi fiend di FB saya), termasuk orang yang aktif bersama teman-teman nya menggagas ekowisata di Petungkriyono. Monggo disambangi facebook nya….dan kenalan, agar bisa dibuatkan acara yang unik dan menarik. saat itu kami salah perhitungan dalam waktu sehingga mestinya seharian di sana.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: