Oleh: edratna | Mei 29, 2015

Mengunjungi Hunian Pilihan Para Lansia

Bunga di depan halaman cluster Aster

Bunga di depan halaman cluster Aster

Reuni alumni Putri IPB (walaupun ada yang kuliahnya masih bernama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia), kali ini agenda pokoknya adalah mengunjungi Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti”.

Ide awal mengunjungi Sasana Tresna Werdha (STW), diawali karena keprihatinan para alumni terhadap alumni senior IPB yang hidup sendirian, istri sudah meninggal dan anak-anak berjauhan.

Masalah untuk tinggal di STW merupakan masalah yang kompleks, terutama dari sisi budaya, yaitu anggapan bahwa memasukkan orangtua ke panti adalah dosa.

“Menjadi tua patut disyukuri, Bahagia di hari tua, merupakan pilihan hati”

Quote di atas perlu, karena sebagian besar dari kita tentu belum rela jika ada anggota keluarga yang tinggal di Panti. Istilah Panti ini sebenarnya tidak selalu tepat, karena  pada dasarnya ada empat jenis yang kita kenal dengan nama Panti, yaitu;

  • Panti untuk orang-orang yang menunggu tutup usia. Di Indonesia baru memiliki dua panti sejenis ini, yaitu Yayasan Kanker dan Yayasan Darmais.

  • Day Care Center. Orang tua dititipkan, pada siang atau sore dijemput untuk pulang ke rumah.

  • Ini yang dikenal oleh masyarakat luas, yaitu penitipan para orangtua yang sudah tak ada yang mengurus, dan terbengkalai.

  • Apartment elderly. Merupakan apartemen untuk orangtua, inilah yang cocok jika ada alumni Putri IPB yang berminat.

Cluster Aster di STW

Cluster Aster di STW

Apartemen  untuk orangtua ini lebih tepat jika kita sebut dengan nama “Hunian Pilihan Lansia”. Sebetulnya rahasia orangtua ada 3 (tiga): Harus banyak gerak, Harus banyak bicara dan Harus bergaul dengan sesama umur.

Kamar di Cluster Aster, seperti di hotel

Kamar di Cluster Aster, seperti di hotel

Munculnya hunian untuk para lansia ini, disebabkan makin berkurangnya peran sosial kemasyarakatan dan menurunnya tuntutan tanggung jawab rutin dalam keluarga, membuat kehidupan lansia menjadi kurang bermakna bila hanya duduk berdiam diri di rumah.

 

 

Lansia membutuhkan teman sebaya tempat saling mengadu cerita, merajut semangat agar tetap merasa bermakna dan bermanfaat bagi kehidupan.

Fasilitas kamar di Cluster Aster

Fasilitas kamar di Cluster Aster

STW didirikan pada 14 Maret tahun 1984, merupakan gagasan ibu Tien Soeharto, yang diresmikan oleh mantan Presiden Soeharto, bersamaan dengan pembukaan Balai Kerta Rajasa dan Desa Taruna.

Pada awalnya ada 70 orang penghuni, terdiri dari berbagai profesi, antara lain ada Profesor, dokter dan wartawan.

Kamar mandi dengan pegangan agar tidak jatuh

Kamar mandi dengan pegangan agar tidak jatuh

Ada empat jenis hunian, yaitu Bungur, Cempaka, Dahlia dan Aster. Treatment sama, hanya untuk Aster, kamarnya seperti di hotel. Wisma Aster merupakan cluster terbaru yang disiapkan untuk memenuhi tuntutan aktivitas lansia masa kini.

Taman di STW

Taman di STW

Bukan sekedar bangunan mewah, tapi juga merupakan sarana hunian pilihan lansia yang aktif, mandiri, sehat dan sejahtera. Disini terdapat wifi, sehingga penghuni masih bisa menjangkau teman-teman dari berbagai belahan dunia.

Dari pertanyaan para peserta,  dapat dirangkum jawaban dari pengurus STW sebagai berikut:

  • Saat ini sementara check up kesehatan dilakukan 3 kali dalam sebulan, namun ada klinik dan perawat yang berjaga selama 24 jam untuk keadaan darurat.

  • Untuk yang akan tinggal di STW, selain melalui serangkaian wawancara, juga harus ada penanggung jawab minimal 3 (tiga) orang. Penanggung jawab bisa anak, menantu, keponakan, adik (yang masih mempunyai hubungan keluarga).

  • Penghuni bisa melakukan kegiatan, seperti angklung untuk melatih motorik, karaoke untuk melatih paru-paru, serta ada kegiatan sesuai hobby penghuni STW, seperti memasak, menyulam dan sebagainya.

  • Saat ini ada 3-4 penghuni di STW yang tak mempunyai keluarga. Secara case by case akan terus dievaluasi. Bila sakit pada saat di STW, akan diantar ke rumah sakit, namun diharapkan ada keluarga yang ikut mendampingi. 

  • Hasil karya para penghuni STW, seperti sulam menyulam, tas, magnit untuk ditempel di kulkas, bisa dijual kepada para tamu.

  • STW menerima penghuni yang tinggal sementara, bisa tiga hari, satu minggu, sampai tiga bulan. Saat ini STW belum memiliki kemampuan untuk melakukan perawatan intensif bagi penghuni yang sakit serius, sehingga tetap harus dirujuk ke rumah sakit. Namun STW bekerja sama dengan berbagai instansi untuk kenyamanan para lansia.

Ibu Chandra  (Kepala STW) menjelaskan bahwa STW bukan Panti, tetapi Sasana. Semua lansia datang atas kemauan sendiri. Tempat ini adalah tempat hunian yang dipilih. STW bisa survive sampai sekarang karena berkolaborasi dengan keluarga. Ada anak/cucu yang menengok, ada yang akhir pekan dibawa pulang untuk menginap di tempat keluarga. Secara case by case, STW berusaha memberikan pelayanan bagi lansia sesuai kebutuhan. Namun yang tak boleh dilupakan, “Kebutuhan utama orangtua yang terbaik adalah tinggal di rumah sendiri.”

Menari lenso dengan penghuni

Menari lenso dengan penghuni STW

Selanjutnya  kami bertemu dengan para penghuni di aula. Para penghuni terlihat gembira menerima tamu, karena dikunjungi tamu berarti rejeki, serta ada kesempatan silaturahim. Kami juga mendengarkan cerita dari ibu I, mantan guru SMA 3 Bandung, Eyang T yang hampir berusia 90 taun dan telah tinggal di STW 20 tahun. Eyang T masih sehat dan memimpin kawan-kawannya untuk menyanyikan lagu Selamat Datang dan Mars Lansia yang merupakan lagi wajib untuk dinyanyikan pada hari Usia Lansia Nasional, yang akan jatuh pada tanggal 29 Mei. Bunda L membacakan puisi, serta eyang/Opa A menyanyi.

Kami melihat berbagai hasil karya para lansia, saya membeli hasil sulaman yang mengingatkan saya pada sulaman alm ibu. Kemudian kami mengunjungi kamar-kamar yang terawat dengan baik. Setelah mengunjungi ruang Aster yang seperti hotel, kami mengunjungi kamar ibu N (mantan guru SMP Swasta terkenal di Jakarta) yang lebih sederhana, namun bersih dan nyaman dengan kamar mandi sendiri di dalam kamar.

Alumni Putri IPB

Alumni Putri IPB bergaya

Kami berpamitan pada para penghuni dan pengurus panti, kemudian menuju kerumah kak Idjah (salah satu alumni Putri IPB) untuk makan siang. Tentu saja tak seru, jika acara reuni ini tanpa foto bersama …. walau rata-rata semua sudah menjadi nenek, terlihat betapa cerianya para alumni putri IPB ini.

 

 


Responses

  1. Bu Enny, bagus ya ada tempat untuk lansia seperti ini. Saya pikir, kalau para lansia itu berkumpul, mereka bisa curhat dan saling memahami (kalau sebaya, barangkali kan lebih bisa memahami–itu pengandaian saya, sih).

    Oiya, STW ini terletak di kota mana, Bu Enny? Saya tadi coba membaca ulang, tapi kok belum nemu lokasi persisnya. Atau jangan-jangan mata saya yang sudah mulai menua? Hahaha…

    STW, singkatan dari Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” terletak di Cibubur, tepatnya di jalan Karya Bhakti no.2 RT.08/07,
    Cibubur, Jakarta Timur 13720.
    Telp. 021-8730179, email: stwykbrp@yahoo.com.

  2. Kegiatan kakak-kakak alumni putri yang cihuy nih ibu Enny.
    Menyambung komen Jeng Meniek di atas selain di kota mana bisa dapat gambaran rate nya kah Ibu?
    Senang dengan quote “Menjadi tua patut disyukuri, Bahagia di hari tua, merupakan pilihan hati” sesanti yang ampuh selama pendampingan kegiatan Adiyuswa di kota kecil kami. Salam

    Salam manis mbak Prih.
    Saya sempatkan kegiatan ikut kakak alumni Putri IPB ini (sebagian besar pernah tinggal di APIPB), karena benar-benar bermanfaat.
    Karena bagaimanapun, dengan kemajuan saat ini, anak-anak sering bekerja di luar negeri, yang sulit untuk merawat orangtua karena kesibukannya sehari-hari.
    Jika hanya karena nggak ada teman, ada juga yang bersifat “day care“…diantar pagi, dijemput setelah makan siang, biar bisa ketemu teman sebaya, serta ada kegiatan yang positif. Jika kita masih punya keluarga besar, tentu tak perlu untuk tinggal di sana. Kamarnya bersih, satu orang sekamar sendiri, lengkap dengan kamar mandinya. Enaknya nggak perlu mikir masak….jadi ingat saat kost kuliah dulu.
    Ratenya bervariasi mbak Prih…. makan sebulan plus cuci setrika, snack lengkap dengan fasilitas kegiatan lain, total jendral Rp.3.500.000,-…sewa kamarnya tergantung pilihan. Kalau VIP ya agak mahal…

  3. Menyenangkan yah bu. Betapa…kalau sudah sepuh tak punya kawan. Duuh mau sharing sama siapa yah.

    Iya mbak Tini. Justru itulah kita perlu teman seusia, sahabat yang pemahamannya dan passion nya sama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: