Oleh: edratna | Oktober 12, 2015

Mengunjungi Tjong A Fie Mansion

Setelah mengajar sehari di Medan, saya melihat jadual dan ternyata masih punya waktu untuk jalan-jalan di kota Medan sebelum berangkat ke bandara Kualanamu. Tentu saja tujuan pertama adalah mencari oleh-oleh sesuai pesanan teman, yaitu bika Ambon Zulaikha dan bolu Meranti.

Bangunan kuno di Kesawan

Bangunan kuno di Kesawan

Saat sampai di Kesawan (sekarang jalan A Yani), saya terpukau dengan bangunan kuno di sepanjang jalan A Yani ini, benar-benar indah dan terawat. Di jalan A Yani no 105 ini terletak rumah Tjong A Fie, seorang Mayor Cina yang melegenda, kini rumah kediaman nya menjadi salah satu ikon dan simbol sejarah multi etnis di kota Medan.

Bentuk jendela

Bentuk jendela

Di museum dan cagar budaya seluas 6000 meter persegi ini, dan umurnya lebih dari seabad, arsitekturnya gabungan antara Cina, Melayu dan Eropa. Saat saya datang belum ada tamu lainnya, tak lama kemudian ada rombongan lain. Tiket masuknya Rp.35.000,- per orang.

Bangunan dan jendela

Bangunan dan jendela

Dengan ditemani guide, kami berjalan-jalan menikmati keindahan masa lalu. Ruang tamu mansion ini terdiri dari 3 (tiga), ada ruang tamu untuk tamu-tamu Eropa, ada ruang tamu untuk keluarga, serta ada ruang tamu untuk menerima Sultan Melayu.

Pemisah ruangan dari kayu berselaput emas

Pemisah ruangan dari kayu berselaput emas

Rana (pembatas ruangan)  dari kayu bertatah emas, terbayang dulunya pasti sangat gemerlapan. Lantainya masih terdiri dari keramik tempo doeloe, seperti keramik di Istana Maimoon.

Tempat tidur Tjong A Fie

Tempat tidur Tjong A Fie

Kami juga melihat kamar Tjong A Fie yang masih tertata seperti saat dia masih hidup, lengkap dengan tempat tidur dan kelambunya.

Meja makan

Meja makan

Ruang makan lengkap dengan set piring makan dan gelas yang tertata dengan keramik kuno yang asli.

Halaman samping dan akamar-mkamar (ada 20 kamar)

Halaman samping dan akamar-mkamar (ada 20 kamar)

 

 

 

 

 

Tangga menuju ke lantai atas berupa kayu yang terawat. Di lantai dua ini terdapat balairung yang digunakan untuk pesta dansa dengan teman-teman Eropa Tjong A Fie. Rumah Tjong A Fie ini terdiri dari dua lantai, dan 20 kamar tidur.

Ukiran di tembok

Ukiran di tembok

Pada dinding terlihat lukisan, seperti yang saya lihat pada lukisan dinding di kraton Kasepuhan Cirebon.

Tungku kayu bakar dengan cerobong asap di atasnya

Tungku kayu bakar dengan cerobong asap di atasnya

Di Dapur terdapat tungku dari kayu untuk memasak, yang menarik adalah diberi cerobong sampai ke atap sehingga asapnya tidak memenuhi dapur. Pintu dan jendelanya sangat khas, lebar dan tinggi dengan warna hijau gelap dengan kuning muda.  

Sungguh menyenangkan melihat-lihat mansion ini dan membayangkan zaman saat itu. Sayangnya, karena hanya sendirian, saya tak membawa kamera sehingga foto-foto yang saya ambil hanya menggunakan kamera hape. Dan saya tak bisa memotret secara keseluruhan Tjong A Fie dari depan, karena tertutup oleh gapura.


Responses

  1. Cakep
    Ya mansion ini 😊

    Yup…setujuu

  2. lucu ya rumah kuno nya … antik banget…🙂

    Iya Arman…rumahnya bagus dan antik

  3. Gabungan kemegahan mansion dengan tungku kayu bakar. Terima kasih Ibu, berbagi kekayaan budaya dari Medan. Salam

    Salam kembali mbak Prih, senang kalau ke suatu daerah bisa melihat budaya di daerah sana, sisa-sisa kejayaan masa lampau.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: