Oleh: edratna | Desember 27, 2015

Resensi buku: “Tumbuh Kembang Bersama, Dari Kampus Membina Keluarga. Menggali Kiat Berternak Ayam Melalui Pendekatan Biografi Dua Insan.”

Tumbuh Kembang Bersama

Tumbuh Kembang Bersama

Saya mengenal ibu Rini S. Soemarno saat ada acara jalan-jalan bersama teman-teman angkatan Faperta IPB (A678) ke Thailand di awal tahun 2013. Kesan saya pertama kali, ibu Rini adalah seorang ibu yang bertutur lembut, santun, tenang dan seolah-olah siap menghadapi apapun. Seiring dengan perjalanan waktu, saya makin mengenal beliau, dan mengagumi beliau. Bahkan di usianya saat ini, beliau tetap sehat, langsing dan sigap.

Buku “Tumbuh Kembang Bersama; Dari Kampus Membina Keluarga” yang disusun oleh Agus MD, serta editornya Srikandi Waluyo (sahabat bu Rini sejak SMA), menceritakan perjalanan ibu Rini bersama keluarga. Awalnya saya memperkirakan bahwa buku ini seperti otobiografi yang selama ini saya baca. Namun rupanya, buku ini lebih banyak menceritakan bagaimana pak Soerojo (suami ibu Rini, yang merupakan seniornya saat di IPB, saat itu masih Fakultas Pertanian Universitas Indonesia), mengawali usaha beternak ayam sambil kuliah di Bogor.

Dalam resensi ini saya akan lebih banyak membahas bagaimana pak Soerojo bergelut dalam usaha peternakan ayam, tanpa melupakan pekerjaan nya sebagai pegawai di Departemen Perdagangan, dengan posisi terakhir sebagai Direktur. Tanpa kedisiplinan yang tinggi, hal ini tak akan tercapai. Di buku ini juga digambarkan, bagaimana pak Rojo mengelola usaha, yang terpisah dengan keuangan keluarga, walaupun memulai usaha hanya berbekal buku-buku serta pengalaman di lapangan, karena pak Rojo bukan dari Fakultas Peternakan, namun usaha tetap berjalan lancar, bahkan tetap berjalan saat krisis ekonomi menimpa Indonesia.

Apa kiat sukses pak Soerojo?

  • Percaya Diri. Setiap orang yang memulai usaha harus mempunyai rasa percaya diri yang tinggi.  Pak Rojo mengawali usaha peternakan ayam di asrama tempat ia mondok, yaitu asrama mahasiswa IPB (saat itu Fakultas Pertanian UI) di wilayah Sukasari.
  • Mencintai pekerjaan nya. Pak Rojo memutuskan memilih beternak ayam petelur, dan bukan ayam potong. Beternak ayam petelur risikonya lebih tinggi, modal lebih besar dan menuai hasil lebih lama dibanding ayam potong. Di saat harga telur mahal, beternak ayam petelur bisa sangat menguntungkan.
  • Kaya wawasan dan Pengalaman. Pak Rojo mempunyai pengalaman memadai dalam bidang keuangan dan teknik, sehingga tahu persis berapa uang yang harus digunakan, cara pembelanjaannya, bagaimana investasinya, dan prediksi masa depan nya. Dalam menentukan skala usaha, pak Rojo memilih yang sedang-sedang saja, tidak besar, tidak raksasa, tetapi juga tidak kecil. Hasilnya, sampai pak Rojo meninggal, sampai masa krisis moneter pun perusahaan nya tetap berjalan.
  • Banyak inovasi. Pak Rojo banyak melakukan inovasi dalam usaha peternakannya, dalam hal gaya manajemen nya, pakan, obat-obat an, sampai masalah kandang. Meski bukan dari latar belakang Sarjana Peternakan, dalam usahanya banyak melakukan percobaan, yang akhirnya membuahkan kiat-kiat usaha peternakan yang ideal.
  • Rasionalisasi Supply dan Demand. Kemampuan Gaharu Farms (nama usaha peternakan pak Rojo) bertahan lama adalah berkat adanya keseimbangan antara supply dan demand yang diterapkan pak Rojo, sehingga perusahaan nya bisa bertahan.
  • Terlibat penuh. Pak Rojo tidak hanya terlibat langsung pada urusan sekecil apapun di perusahaan peternakannya, tapi bahkan ikut aktif ambil bagian di dalam nya.
  • Keunggulan manajemen. Pak Soerojo merupakan tipe manusia yang irit bicara dan banyak bekerja, ia juga profil pekerja keras yang pantang menyerah. Pak Soerojo  sebagai manajer maupun kepala keluarga, memisahkan urusan manajemen usaha  dari urusan keuangan keluarganya, meski kantor perusahaan satu atap dengan rumahnya.
  • Profesional. Pak Soerojo sanggup bersifat profesional, namun tidak mau meninggalkan nilai-nilai tradisional. Pada satu sisi sangat ketat terhadap uang miliknya, namun di sisi lain sangat menghargai kebersamaan dalam usahanya. Selanjutnya diceritakan bagaimana pak Soerojo mendelegasikan wewenang, melatih para karyawan, dengan disilpin tinggi namun karyawan diperlakukan sebagai anggota keluarga.

Setelah pak Rojo meninggal dunia, usaha peternakan ayam dikelola oleh Tony dan Nunny (putra dan putri pak Rojo) … dan selanjutnya dilanjutkan oleh Nunny yang latar belakang pendidikannya Sosial Ekonomi IPB. Hal yang menarik adalah bagaimana buku ini menceritakan jatuh bangun nya usaha setelah pak Soerojo tak ada, namun akhirnya Nunny (putri sulung) dapat mengatasi masalahnya.

  • Gaya Manajemen orang muda (Nunny dan Tonny). Nunny membuat struktur perusahaan, dan mencoba menerapkan sistem manajemen modern. Masing-masing karyawan diberi wewenang mengelola secara berjenjang sesuai dengan bagian dan kemampuannya. Namun akhirnya Nunny menyadari, ada orang-orang tertentu yang tak perlu ke lapangan, mereka adalah para pemegang strategi dan mereka ada di setiap bagian. Akhirnya Nunny menyadari bahwa ayahnya selama ini telah menempatkan pegawai sesuai dengan karakternya masing-masing. Oleh karena itu, usaha Nunny untuk mengubah struktur organisasi perusahaan tak sepenuhnya berhasil.
  • Langkah pertama Tonny merapihkan manajemen perusahaan. Tonny merancang program-program khusus dengan komputer, terutama untuk menangani laporan keuangan dan penjualan. Jumlah telur yang diproduksi dari 30 kandang masing-masing diberi nomor, laporannya masuk dalam komputer setiap hari. Dengan demikian bisa dimonitor, kenapa kandang yang satu kok produksinya berbeda dengan yang lain, padahal jumlah dan umur ayam nya sama. Sebabnya bisa ditelusuri dengan meneliti pemberian pakan nya, pemberian vitamin nya, adakah pencurian dan sebagainya.
  • Mengubah komitmen. Hanya setahun Tonny membantu di Gaharu Farms, setelah itu Nunny mengambil alih perusahaan. Nunny mengubah komitmen, dengan menyadari bahwa dia punya anak berupa perusahaan ini. Nunny melihat ayahnya merintis usaha ini, maka Nunny, ibu maupun saudara-saudara yang lain tentu tidak tega membiarkan usaha ini hancur karena tak seorangpun bersedia mengurus usaha peternakan ini. Dengan sikap ini, Nunny bisa memimpin usaha warisan ayahnya dengan tenang. Sikap Nunny berdampak baik pada karyawan.
  • Kandang grower ala Nunny. Selain merombak struktur keuangan, Nunny memperbaiki sistem perkandangan. Semua lantai kandang disemen. Secara bertahap, Nunny mengganti kandang-kandang bateri yang terbuat dari bambu dan reng kayu itu dengan kayu, belakangan dengan kawat, sehingga area kandang yang sama mampu menampung ayam lebih banyak. Kandang kemudian dipasangi lampu, karena ayam petelur peka terhadap cahaya, dan cahaya berpengaruh terhadap pengendalian hormonal untuk pertumbuhan maupun produksi. Dengan dipasangnya lampu di setiap kandang, ternyata waktu melek ayam lebih lama. Dan selama ayam melek, mereka banyak makan, akibatnya ayam semakin sehat dan produksi telur meningkat,
  • Racikan pakan. Gizi yang dibutuhkan pada umumnya terdiri dari komposisi protein, lemak, karbohidrat, vitamin (A dan D), dan mineral. Tepung ikan merupakan salah satu sumber protein hewani, namun karena harganya mahal, dapat diganti protein nabati, seperti: kedelai, kacang hijau, kacang tanah lalu ditambah berbagai vitamin. Perbaikan gizi ayam sebelum atau sesudah saat bertelur adalah suatu keharusan kalau ingin meningkatkan kualitas dan kuantitas telur. Dengan gizi bagus, selain memperkecil kemungkinan pembengkokan tulang belakang di masa tua, juga memperpanjang usia produksi ayam-ayam petelur.
  • Hubungan yang baik dengan relasi bisnis. Hubungan yang baik dengan relasi bisnis, membuat Nunny tidak hanya mendapatkan ilmu, namun juga peralatan untuk mengolah pakan ternak. Dengan mesin pengolah makanan, kualitas mutu makanan ayam bisa lebih terjaga.
  • Mencegah penyakit. Kendala utama dalam usaha peternakan adalah penyakit, di samping pakan dan teknis pengelolaan nya. Penyakit yang sering muncul pada setiap jenis ternak adalah cacing yang dapat menyerang ayam di segala umur. Penyakit lain yang membuat peternak kalang kabut adalah ND (New Castle Disease) atau gumboro atau tetelo. Pada akhirnya gelombang Flu burung juga menerpa Gaharu Farms, yang membuat banyak ayam mati. Konsisi ini membuat Gaharu Farms terpaksa merumahkan sebagian karyawannya.

Apa yang dilakukan bu Rini sesudah pensiun? Ternyata kesibukan bu Rini setelah pensiun bukan mereda, malah makin sibuk. Dan di usia nya sekarang, yaitu 77 tahun, ibu Rini terlihat sehat, segar dan bugar. Saat saya ketemu beliau, saya pernah bertanya, apa yang membuat bu Rini terlihat tetap cantik, sehat dan bugar? Jawaban beliau sederhana, “Jangan pernah memikirkan usia yang makin bertambah, tapi pikirkan apakah kita bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar.” Tak heran teman-teman dari Departemen Pertanian sangat mengagumi bu Rini, sayapun yang belum kenal lama merasakan bahwa bu Rini pantas sebagai panutan, bagaimana agar seperti saya yang usianya makin bertambah tak perlu kawatir, yang penting dijaga agar tetap sehat dan bisa bermanfaat bagi sesama.

Buku tentang Bu Rini dan pak Rojo ini pantas dibaca oleh kita, untuk memotivasi, agar kita terus berkarya, supaya hidup ini tetap terasa indah karena  bisa bermanfaat bagi sesama. Terimakasih tip nya ibu Rini….semoga ibu Rini selalu sehat dan bahagia bersama putra-putri, menantu dan anak cucu yang telah berjumlah 14 orang.


Responses

  1. Terima kasih Ibu Enny berbagi resensi buku inspiratif bergegas mencari buku berharga ini ah… Salam

    Ini baru dibagi untuk teman dulu mbak…di Gramedia kayaknya masih harus menunggu….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: