Oleh: edratna | Februari 4, 2016

Jalan-jalan A678: Lembah Anai, Minangkabau Village, Ngarai Sianok, dan Lobang Jepang

Air terjun Lembah Anai

Air terjun Lembah Anai

Jika kita melakukan perjalanan dari kota Padang menuju Padangpanjang, di kiri jalan ada air terjun yang cukup besar,  dengan ketinggian sekitar 35 meter, yang merupakan bagian dari aliran sungai Batang Lurah Dalam dari Gunung Singgalang yang menuju daerah patahan Anai (Wikipedia).

Foto bersama adik dan teman

Foto bersama adik dan teman

Tak jauh dari air terjun ini terlihat  pemandangan perbukitan dan rel kereta api peninggalan Belanda, yang sekarang jalurnya akan diaktifkan lagi. Ini merupakan ketiga kalinya saya menikmati Lembah Anai. Menjelajahi Sumatra Barat, mata kita disegarkan oleh pemandangan yang masih hijau, sehingga kita benar-benar bersyukur hidup di bumi Indonesia ini.

Kami menyempatkan berfoto di sini, airnya sungguh sejuk. Tak jauh dari air terjun terdapat deretan kios kecil, di antara nya ada penjual sandal kulit, saya membeli dua buah sandal seharga Rp.50.000,-/sandal yang katanya berasal dari Padang Panjang. Dan ternyata sandalnya enak dipakai …. tahu begitu bisa memborong sandal.

Mendengarkan penjelasan tentang filosofi adat Minang

Mendengarkan penjelasan tentang filosofi adat Minang

Dari Lembah Anai, rombongan kami menuju Minangkabau Village, di sini diberi penjelasan tentang filosofi rumah Gadang dan adat Minang. Sungguh filosofi yang sangat bagus, pantas saja di daerah Minang ini tanahnya masih hijau, sawah ladang masih luas, kemungkinan karena merupakan tanah pusaka yang tak mudah dijual, dan hanya bisa diturunkan sebagai hak pakai untuk dikelola, bukan untuk dijual.

Foto dengan baju adat Minang

Foto dengan baju adat Minang di tangga Rumah Gadang.

Tentu saja, kami mencoba berpakaian adat Minang yang indah tersebut, dan merasa cantik dan ganteng semua.

Anak daro menatap dari balik jendela

Anak daro menatap dari balik jendela

A678 di Ngarai Sianok

A678 di Ngarai Sianok

Setelah makan siang di rumah makan pak Datuk dan sholat, perjalanan dilanjutkan menuju Bukittinggi untuk melihat Ngarai Sianok dan Lobang Jepang.

Menuruni tangga menuju Lobang Jepang

Menuruni tangga menuju Lobang Jepang

Kondisi Lobang Jepang saat ini lebih terang karena di kiri kanan bawah diterangi lampu, tidak seperti sebelas tahun sebelumnya, kami harus menggunakan senter dan suasana magis sangat terasa.

Meity depan ruang amunisi

Meity depan ruang amunisi

Kami memasuki lorong-lorong dalam goa yang luas sekali, bahkan ada ruang amunisi, ruang rapat serta dapur. Juga ada ruang untuk memnghukum serta ruang pembuangan mayat. Tak terbayang berapa jumlah orang yang jadi korban saat membuat lobang Jepang ini, dan sampai sekarang tak diketahui  dimana tanah hasil pengerukan untuk membuat lobang tersebut di buang.

Senang sudah keluar dari lobang Jepang

Senang sudah keluar dari lobang Jepang

Senang dan lega rasanya setelah bisa keluar dari lobang Jepang ini, bukan hanya cukup melelahkan naik turunnya terutama untuk usia kami, namun juga suasana magisnya yang masih terasa bahkan setelah sampai di luar dan menghirup udara segar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: