Oleh: edratna | Maret 5, 2016

Institut Publisistik Bogor atau Institut Perbankan Bogor?

Mungkin karena iri hati, khalayak pers menjuluki IPB sebagai Institut Publisistik Bogor karena banyak alumninya yang terjun ke bidang jurnalistik dan pers seperti: Soedarto Js, Harry Suryadi, Achmad Muchlis Yusuf, Ninuk Pambudi, Tjandra Wibowo, Uni Lubis………….(tolong sebutkan generasi baru, banyak yang tidak aku kenal). Mereka tersebar di media cetak terkemuka seperti Kompas, Tempo, Gatra, Jakarta Pos, media siaran TV bahkan kantor berita Antara.

Mengapa banyak alumni IPB berkibar dalam bidang pers dan media? Aku tidak tahu pasti. Tulisan ini adalah kilas balik pengalamanku dalam kegiatan pers kampus IPB dan UI antara tahun 1970-1977 di latar belakangi kondisi sosial-politik sekitar Jakarta-Bogor-Bandung yang amat memberi warna pada pers kampus saat itu. (Tulisan Ian Lubis di Facebooknya tanggal 5 Maret 2016).

Saya punya pengalaman berbeda, karena banyak lulusan IPB (singkatan yang benar dari Institut Pertanian Bogor) yang bekerja di Perbankan, sering nama IPB diplesetkan menjadi Institut Perbankan Bogor. Bahkan karena beragamnya bidang pekerjaan lulusan IPB di luar bidang pertanian, diplesetkan lagi menjadi  Institut Pleksibel Banget. Tapi saya tak kecewa, apalagi saat sempat ketemu pak Andi Hakim Nasution (bisa ditanyakan ke putrinya, Andini N Nasution, jika saya salah), bahwa sebetulnya pendidikan di IPB merupakan dasar, yang bisa dimanfaatkan untuk bekerja dimana saja.
Saya merasakan hal tersebut, walau karir saya setelah lulus di luar kegiatan yang terkait dengan pertanian. Kadang-kadang saja saya meninjau ke lapangan untuk melihat debitur yang bergerak di bidang tanaman sawit, tembakau, hortikultura, dan lain-lain, namun sebagian besar adalah berkaitan dengan bidang industri dan jasa.
Bersama mentor dan mantan wartawan "Gema Almamater IPB"

Bersama mentor dan mantan wartawan “Gema Almamater IPB

Hari  Jumat, 4 Maret 2016, saya diajak teman ketemu mantan wartawan majalah kampus “Gema Almamater IPB” sekaligus makan siang di Dapur Sunda restoran, Setia Building 2.

Pertemuan dengan grup yang tidak biasa. Bang Masmimar Mangiang (dari UI), merupakan mentor saat awal lahirnya majalah kampus IPB, “Gema Almamater.”  Dan sekitar tahun  1974 tersebut selama satu semester mondar mandir, melakukan perjalanan seminggu sekali  dari Jakarta ke Bogor. Rusdian Lubis atau lebih dikenal dengan nama panggilan Ian, adik kelas saya, memang terkenal suka menulis.

Ceria ketemu teman lama

Ceria ketemu teman lama

Kalau teman satunya, Gayatri RA memang lebih sering ketemu, selain satu angkatan dengan adik saya di IPB, pernah satu asrama di APIPB … juga bekerja di perusahaan yang sama, serta pernah bertahun -tahun tinggal satu kompleks di perumahan dinas yang disediakan perusahaan. Sedang Uni Z. Lubis selama ini saya kenal sebagai jurnalis, yang namanya sering terlihat di Face Book teman-teman saya.

Uni Z. Lubis dan bang Mimar

Uni Z. Lubis dan bang Mimar

Ya mungkin hanya saya sendiri yang bukan wartawan, walau saya kadang-kadang nulis di blog. Namun karena satu almamater dan walau baru ketemu disini, obrolan langsung nyambung dan seru.

Dari mulai membahas majalah almamater,  sebagai umumnya kaum netizen sekarang, kami juga mengobrol tentang politik dan kondisi ekonomi saat ini. Tentu saja saya lebih banyak sebagai pendengar dan sesekali ikut menimpali pembicaraan.

Kami juga membahas bagaimana agar usaha penerbitan, majalah berita tetap sustainable dalam menghadapi situasi sekarang dan ke depan nya. Diakui, keberlangsungan kehidupan majalah tidak bisa hanya ditopang oleh iklan, namun beberapa majalah berinisiatif melakukan kerjasama dengan training provider, untuk mengadakan seminar/pelatihan.
Kita bisa melihat, majalah yang melakukan ini, antara lain Tempo, Infobank, dan Stabilitas (majalah tentang Governance, Risk Management & Compliance, yang diterbitkan oleh Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia). Pengelolaan majalah berita mengharuskan efisien, struktur organisasi ramping dengan kompetensi tenaga kerja yg harus bisa multitasking. Juga kemampuan untuk bisa mencium berita yang akan jadi “news” (istilah Uni Z Lubis).
Obrolan beranjak pada apa pekerjaan yg cocok setelah usia pensiun. Dari sisi pemikiran, ketajaman pikiran usia pensiun masih bisa diasah, namun fisik tak mungkin digenjot lagi. Pekerjaan haruslah yg merupakan hobby atau passion sehingga kita gembira saat melakukannya. Mengajar atau menjadi konsultan merupakan salah satu pekerjaan yang cocok, namun harus diikuti dengan passion serta disiplin diri yang tinggi, karena tetap harus meng update pengetahuan dan kompetensinya harus pas. Di satu sisi harus punya teman atau tim yang gelombangnya sama, karena banyak hal harus dikerjakan sendiri.
Tahu goreng dan sambalnya yang enak, es sekoteng, jus adpokat

Tahu goreng dan sambalnya enak, es sekoteng, jus adpokat

Akhirnya kami berpisah ….. dan entah kapan bisa bertemu lagi, karena ini pertemuan pertama sejak lebih dari 35 tahun yang lalu. Obrolan yang menyenangkan, makanan yang enak terutama sop ikan gurame nya yang hangat dan segar. Juga tahu goreng dan sambal mangga nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Responses

  1. Aku juga kalo sudah pensiun nanti mau jadi guru bahasa Jepang, Bu…dan sekarang lagi ngumpulin modal buat bikin tempat kursus bahasa Jepang🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: