Oleh: edratna | Maret 12, 2016

Melihat GMT di Balikpapan

Si kecil semangat mengambut gerhana matahari, walau di jakarta hanya 88,76%.

Si kecil belajar tata surya,  untuk menyambut gerhana matahari, walau di Jakarta hanya 88,76% (foto by Kristin).

Saat acara di Balikpapan yang direncanakan tanggal 10 Maret 2016 dimajukan menjadi tanggal 8 Maret 2016, saya langsung membuat rencana, karena tanggal 9 Maret 2014, di Balikpapan akan terjadi Gerhana Matahari Total (GMT). 

Anak sulungku menyiapkan putrinya, yang baru berumur 5 (lima) tahun untuk melihat tata surya dan menjelaskan penyebab terjadinya gerhana matahari. Pemahaman ini bisa diperoleh si kecil saat mengunjungi Skyworld di Taman Mini Indonesia Indah. Saat itu pula si sulung membeli dua kacamata untuk melihat gerhana, dan yang satu diberikan pada saya. Padahal saya ke Balikpapan 4 (empat) orang, jadi anakku mencari lagi di Gramedia Pejaten Village, yang dijawab belum tersedia. Akhirnya daripada menunggu, menantuku memesan melalui tokopedia.com ….. tidak tanggung-tanggung pesannya 15 buah, yang ternyata dapat bonus satu kacamata gerhana.

Saya bersama teman-teman menginap di hotel N, pas check in saya bertanya pada resepsionis, atraksi untuk melihat gerhana dimana saja di Balikpapan? Jawabannya, “semua diatur oleh Dinas Pariwisata bu”, membuat saya agak patah semangat, karena kelihatannya kurang ada sosialisasi. Padahal hotel N penuh dengan turis yang tujuannya melihat gerhana matahari total. Saya akhirnya mencari info dari teman yang ada di Balikpapan, serta dari internet.

Awalnya kami ingin ke pantai Manggar yang letaknya di dekat bandara, jadi bisa sekaligus kalau langsung kembali ke bandara. Namun teman di Balikpapan mengingatkan, sebaiknya di Lapangan Merdeka karena tempatnya luas, kalaupun pengunjung membeludak tidak akan berdesakan. Apalagi di sebelah lapangan Merdeka ada masjid Istiqomah, kalau ingin sholat Gerhana. Kami mengikuti saran teman ini, karena dia yang bertanggung jawab atas keselamatan kami yang dari Jakarta.

Pemandangan langit yang indah sebelum GMT

Pemandangan langit yang indah sebelum GMT

Di hotel N, sarapan pagi disediakan mulai pukul 6 wita, jika tamu ingin sarapan sebelum jam tersebut, di lobby disediakan roti dan teh/ kopi panas. Saya menyampaikan kepada resepsionis, apakah bisa kalau sarapan dimajukan, karena sekalian promosi buat turis yang menginap di hotel tersebut, yang sebagian besar dari mancanegara. Syukurlah akhirnya pas pagi hari jam 5.30 wita kami turun ke lobby, ternyata restoran sudah dibuka. Dan dibalik jendela restoran ini saya mendapatkan pemandangan menakjubkan, langit merekah pagi hari menjelang GMT.

Kendaraan berdesakan menuju lokasi GMT

Kendaraan berdesakan menuju lokasi GMT

Kami langsung menuju lapangan Merdeka, yang biasanya dapat ditempuh sekitar 10 menit dari hotel kami menginap. Begitu dari hotel keluar ke jalan, ternyata sudah macet padahal perkiraan gerhana masih satu jam lagi.

Kendaraan parkir di tepi Lapangan merdeka.

Kendaraan parkir di tepi Lapangan Merdeka.

Akhirnya kami memutuskan keluar mobil, agar pak sopir memarkirkan mobil entah dimana. Saat itu ada dua pilihan, mengamati proses gerhana (dengan kamera biasa dan saya jelas bukan fotographer profesional), atau ikut sholat gerhana.

Bersiap ikut sholat gerhana

Bersiap ikut sholat gerhana.

Akhirnya saya dan teman-teman memilih ikut sholat gerhana di masjid Istiqomah, yang letaknya persis di sebelah Lapangan Merdeka. Pengunjung yang mau ikut sholat penuh sesak, jadi kami menggelar koran di teras masjid. Ternyata ini menjadi keuntungan bagi kami, karena walau sambil sholat, kami bisa merasakan proses gerhana melalui perubahan cuaca serta suhu yang berubah.

Ini pertama kalinya saya ikut sholat gerhana, walau sudah banyak panduan melalui internet dan Whatsapp, akan lebih khusuk jika sholat berjamaah dan dipandu oleh Imam di masjid.  Ternyata sholat gerhana memerlukan waktu sangat lama,  seluruh rangkaian nya 90 menit dari jam 7.30 sd 9.00 wita.

Saya merasakan matahari bersinar sangat terang sebelum sholat gerhana, jauh lebih terang dibanding sehari sebelumnya, dan cuaca cerah. Sebelum mulai sholat, Imam mengingatkan agar bagi bapak ibu yang tak tahan berdiri, bisa sambil duduk, karena akan dibaca adalah surat Al Baqarah, yang akan memerlukan konsentrasi penuh dan lama.  Saat rakaat pertama, saya mulai merasa mau jatuh, akhirnya saya melanjutkan sholat sambil duduk, syukurlah rakaat selanjutnya saya bisa bertahan tetap berdiri.

Perubahan cuaca sangat terasa, dimulai angin bertiup sepoi-sepoi dan terasa sejuk, karena suhu turun 2-3 derajat, kemudian lama-lama makin gelap. Saat pas gelap total, kami semua sedang posisi sujud…. sungguh terasa mengharukan dan badan menjadi merinding, ada beberapa ibu yang menangis tersedu-sedu … suasana magis sangat terasa. Sungguh saya merasakan bahwa manusia tak ada artinya dibanding Sang Pencipta.

Saya tak menyesal, karena tak bisa melihat proses gerhana matahari total sejak dari mulai terang kemudian gelap total karena tertutup bulan, karena saya justru mendapatkan pengalaman spiritual yang tak terkira, yang membuat saya makin menyadari keagungan Allah swt. Kemudian saya diberi tahu  oleh pak Edi, sopir yang mengantar kami, yang terpisah  karena dia mesti cari parkir dan akhirnya bisa sholat di dekat pantai, dia mengatakan pas cuaca menjadi gelap, burung-burung mulai terbang ke pohon karena dikira sudah malam. Saya tak mengalami ini, karena tak ada pohon besar di dekat masjid tempat saya sholat gerhana.

Melihat proses GMT yang masih berlangsung, walau matahari sudah bersinar terang.

Melihat proses GMT yang masih berlangsung, walau matahari sudah bersinar terang (foto by mbak Kurnia)

Selesai sholat, matahari bersinar terang, tapi sebetulnya masih berlangsung gerhana matahari. Saya segera memakai kacamata gerhana dan melihat ke atas….. Subhanallah indahnya ….. matahari terlihat seperti bulan sabit ….  bulan  menutupi tiga perempat bagian matahari ….. namun cuaca sudah terang benderang. Tanpa kacamata gerhana, kami tak bisa melihat proses tersebut, matahari terlihat biasa, seperti foto di bawah ini. 

Memotret dengan kemera posel selesai sholat Gerhana, proses gerhana masih berlangsung. Sayang, hasilnya tidak memuaskan.

Memotret dengan kamera ponsel selesai sholat Gerhana, proses gerhana masih berlangsung. Sayang, hasilnya tidak memuaskan. Padahal jika menggunakan kacamata gerhana, matahari terlihat seperti bulan sabit, dan tertutup tiga perempatnya.

Kami heboh nggak bisa memotret matahari, ada mbak yang mengajari agar memotretnya ditutup oleh kacamata gerhana. Namun tetap saja tidak sukses ….. ya sudahlah.

Bersama mbak Kurnia dari TV Balikpapan.

Bersama mbak Kurnia dari TV Balikpapan.

Ternyata si mbak tadi dari TV Balikpapan,  dia ingin mewawancara kami yang diwakili oleh ibu Gayatri.  Bagaimana kesan-kesan kami atas pengalaman melihat gerhana matahari total, serta apa yang telah disiapkan sebelumnya. Dan kami akhirnya bisa mengajak wartawati TV Balikpapan ini ikut foto bersama.

Anak SMA 3 Balikpapan bersama ibu Guru

Anak SMA 3 Balikpapan bersama ibu Guru (foto by Ibu Gayatri)

Selanjutnya  kami menuju lapangan Merdeka, disitu saya melihat ada tiga telescope di Lapangan merdeka untuk melihat dan merekam gerhana.

Ternyata mereka adalah anak-anak SMA 1, SMA 2 dan SMA 3 Balikpapan yang didampingi gurunya, ikut merekam proses gerhana.

Telescope anak SMA3 Balikpapan.

Telescope anak SMA3 Balikpapan.

Senang melihat kegiatan mereka, kami pun mengobrol dengan mereka, dan ikut mencoba melihat lewat telescope. Saya jadi pengin mencoba ikut meneropong lewat telescope anak SMA3  ini.

Tak lama kemudian, kami menuju hotel, terpaksa berganti baju karena basah kuyup keringat, dan segera menuju bandara Sepinggan untuk kembali ke Jakarta. Penerbangan Airbus menuju Jakarta penuh sesak…..

Sungguh pengalaman yang tak terlupakan … terimakasih Tuhan yang telah memberi kesempatan saya dan kawan- kawan untuk menikmati keagungan Mu. Tanpa perkenan Mu, kami tak mungkin berada di Balikpapan pas ada Gerhana Matahari Total.


Responses

  1. Rame dan seru bgt ya, beruntung deh yg bs liat

  2. Seru ya?
    Iri dengan Ibu yang bisa melihat gerhana secara full.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: