Oleh: edratna | Mei 14, 2016

Naik kereta api Jakarta-Cirebon bersama si kecil

Sebelum memutuskan mengajak si kecil naik kereta api Jakarta-Cirebon, saya dan bunda nya si kecil mendiskusikan berbagai kemungkinan. Namun perjalanan selama tiga jam, menurutku masih bisa ditoleransi. Untuk jaga-jaga, bunda membawa tablet dan buku gambar agar si kecil tidak bosan selama perjalanan. Kebetulan, kami bepergian saat libur pekan yang panjang karena ada liburan Isra Mirajd dan Paskah. Gerbong yang kami tumpangi penuh dengan keluarga yang membawa anak-anak, sehingga si kecil ada teman nya, anak-anak kecil bermain dan berjalan-jalan sepanjang gerbong.

Bel dari Thomas Raflles di Keraton Kanoman

Bel dari Thomas Raflles di Keraton Kanoman.

Kereta terlambat hampir satu jam, sampai Cirebon sudah malam. Dari stasiun kami langsung menuju hotel tempat kami menginap. Besoknya, saya bersama teman ke acara kondangan, sedang si kecil diajak ayah bundanya naik becak ke keraton Kasepuhan dan Kanoman. Dan setelah berkeliling cukup lama, si kecil dengan lugunya bertanya…” Jadi, ini tadi kita cerita tentang orang tua zaman dulu ya?” (cerita ayah si kecil saat ketemu esok harinya).

Besoknya saya bersama anak menantu dan si kecil menuju Gua Sunyaragi. Saya sudah siap-siap kalau si kecil kemungkinan bosan dan tidak tahan panas. Kebetulan, karena hari libur panjang, ada acara kesenian yang menampilkan berbagai tarian khas Cirebonan. Ternyata di kompleks gua Sunyaragi, yang terdiri atas 10 gua, si kecil justru bersemangat masuk keluar gua, tidak kenal takut dan gelapnya gua, serta berani memanjat gua. Dan si kecil justru memimpin di depan bersama tour guide, dan setiap kali bertanya…”Habis ini kemana lagi mas?”

Gua Pengawal, terletak paling depan dari kompleks Gua Sunyaragi

Gua Pengawal, terletak paling depan dari kompleks Gua Sunyaragi.

Gua Sunyaragi dibangun pada 1536 Masehi oleh Sultan Pakungwati, sejaman dengan Keraton Kasepuhan yang kita kenal sekarang. Yang dibangun awalnya adalah Gua Pengawal, Gua Pawon, Gua Lawa, Kompleks Gua Peteng, Gua Padang Ati, Gua Langse dan Gua Kalanggengan. Gua Pengawal adalah tempat para pengawal Sultan mengawal, sambil bertapa atau semedi.

 

Patung Garuda bertubuh manusia

Patung Garuda bertubuh manusia.

Gua Padang Ati merupakan tempat Sultan bertapa, di bagian bawah ada air mengalir, yang berfungsi sebagai  pengaman, agar siapapun yang datang bisa diketahui dari bunyi suara air berkecipak. Di depan Gua Padang Ati ada patung Garuda yang berbadan manusia.

Gua Peteng, di atas nya terletak Gua Puncit.

Gua Peteng, di atas nya terletak Gua Puncit.

Sayang saat saya memotret patung gajah yang berada di depan Gua Peteng, tak terlihat bentuknya pada hasil foto saya.Diatas Gua Peteng terlihat bangunan Gua Puncit, yang merupakan tempat untuk mengintai musuh.

Bagian gua Arga Jumut yang miring terkena bom Belanda.

Bagian gua Arga Jumut yang miring terkena bom Belanda.

Pada tahun 1703 Masehi dibangun Gua Arga Jumut, Bale Kambang dan Mande Beling. Pada abad ke 18, kompleks Gua Sunyaragi menjadi dwi fungsi dalam rangka menyusun kekuatan melawan Belanda. Karena ada yang berkhianat, maka kompleks gua Sunyaragi di bom oleh Belanda. Pada bagian kompleks gua Arga Jumut, saat ini terlihat bekas pecahan gua yang jatuh disamping,  serta ada bagian gua yang miring.

Meja pertemuan untuk membahas strategi, juga digunakan saat menjamu tamu Sultan.

Meja pertemuan untuk membahas strategi, juga digunakan saat menjamu tamu Sultan.

Di dalam gua Arga Jumut ini terdapat meja dari batu bata yang merupakan tempat Sultan mengatur strategi, juga tempat menjamu tamu-tamu nya.

Arsitektur Gua Arga Jumut yang terpengaruh Eropa.

Arsitektur Gua Arga Jumut yang terpengaruh Eropa.

Desain dalam kompleks gua Arga Jumut ini bentuk pintu-pintu nya telah dipengaruhi oleh desain Eropa.

Setelah puas berkeliling, dan beristirahat sambil mendengarkan kesenian Cirebon, kami segera menuju kampoeng Wisata Batik Trusmi. Di sini tak terlalu lama, karena cuaca panas menyengat, kemudian kami menuju CSB (Cirebon Super Block) untuk makan siang sambil menunggu waktu untuk pergi ke stasiun Pejagan.

Kereta api yang kami tumpangi berangkat pukul 15.15 wib, selama perjalanan si kecil sekaligus belajar mengenal sawah yang menghijau, kemudian ada bagian sawah yang menguning dan para petani yang memanen padinya. Kali ini kereta api sampai stasiun Gambir pukul 18.20 wib. Sungguh menyenangkan mengajak si kecil jalan-jalan naik kereta api.

Sumber:

  1. Bahan cerita berasal dari tour guide yang menemani kami keliling Gua Sunyaragi.
  2. Taman Air Gua Sunyaragi, yang disusun oleh E. Nurmas Argadikusuma.

 


Responses

  1. Bisa jadi buat panduan saat ke Cirebon

    Silahkan.

  2. selalu suka deh dengan kereta api, nyaman banget yaaa skr kereta kesana

    Iya…sekarang naik kereta api nyaman.

  3. Uti, Babe dan Bunda yg menyemaikan benih suka sejarah dan alam pada si kecil. Salam

    Salam kembali mbak Prih…..perjalanan sangat menyenangkan bersama si kecil yang masih polos, dan menyerap semua yang kita ceritakan. Dan kadang beradu argumen.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: