Oleh: edratna | Agustus 17, 2016

Napak tilas Laskar Pelangi di Belitong

The essence of travel
Perjalanan bersama teman2ku kali ini adalah salah satu yang kuimpikan selama ini. Satu group yang tidak banyak (12 orang) bersama seorang ‘guide’ yang sangat menguasai tentang lanskap alam dari destinasi yang kami kunjungi. Sepanjang perjalanan tak hentinya temanku yang profesor di bidang mineralogi berbagi ilmunya dengan penuh antusias menceriterakan proses terjadinya fenomena lanskap yang indah di Belitung. Batuan yang terbentuk selama jutaan tahun tersebut ternyata juga mengandung unsur2 kimia yang menurut salah satu peserta group, seorang profesor dari kedokteran gigi, merupakan bahan untuk menambal gigi!
Menikmati keindahan alam dan memperoleh pengalaman dan pembelajaran adalah satu kriteria yang selama ini aku perkenalkan sebagai ‘ecotourism’, the essence of travel …
 (Oleh Tinoek).
Tempat shooting "Laskar Pelangi di Tanjung Tinggi.

Tempat shooting “Laskar Pelangi di Tanjung Tinggi.

Setiap tahun, teman-teman seangkatan saat kuliah dulu selalu menyisihkan waktu untuk mengunjungi berbagai tempat di tanah air. Tak diragukan, bepergian bersama teman, sahabat, menumbuhkan keakraban yang bahkan terkadang melebihi saudara, Kali ini kami merencanakan tour ke Belitung, untuk melihat keindahan alam Belitung sebagaimana digambarkan oleh novel nya Andrea Hirata., dan kemudian di filmkan dalam film “Laskar Pelangi”. 

Danau bekas tambang Kaolin di Belitung

Danau bekas tambang Kaolin di Belitung

Tentu saja, kami tak sekadar napak tilas film Laskar Pelangi, namun juga menyempatkan diri melihat bekas tambang kaolin,  bekas tambang timah dan mampir ke museum geologi.

Dari bandara H.AS Nadjamoedin, rombongan langsung menuju restoran untuk menikmati mie Belitung. Setelah itu istirahat sejenak di hotel, sementara para pria sholat Jumat. Setelah cukup istirahat, rombongan menuju danau Kaolin yang merupakan bekas tambang Kaolin. Airnya sungguh biru….walau panas menyengat banyak orang yang selfie di tepi danau. Pemandu wisata mengingatkan agar tak terlalu dekat dengan tepi danau, karena pernah ada  yang terpeleset dan masuk danau.

Mencoba bermain musik....

Mencoba bermain musik….

Kami menyempatkan diri mengunjungi rumah Adat Belitung, yang mempunyai panggung, sebagaimana umumnya rumah adat di pulau Sumatra.

Alat untuk mengangkat beban

Alat untuk mengangkat beban

Di bagian ruang perempuan, yang menjadi satu dengan dapur terdapat berbagai alat musik, juga alat untuk membawa dan mengangkat beban.

 
A678 di depan Museum Geologi

A678 di depan Museum Geologi

Selanjutnya kami menuju museum Geologi (dulunya gedung TT Bel) …. pemandu wisata menjelaskan sepanjang perjalanan, tempat-tempat yang dulunya kompleks Timah, yang ditutup saat kondisi Timah menurun…

Pantai Tanjung Tinggi

Pantai Tanjung Tinggi

Sebenarnya mengasyikkan untuk menjelajahi museum, namun kami masih punya satu tujuan lagi, yaitu pantai Tanjung Tinggi tempat shooting film Laskar Pelangi. Pantai ini terkenal dengan batu- batu nya yang menjulang tinggi yang konon umurnya telah 250 juta tahun.

 
Prof Son sedang menjelaskan bagaimana batu-batu an di Tanjung Tinggi terbentuk.

Prof Son sedang menjelaskan bagaimana batu-batu an di Tanjung Tinggi terbentuk (foto by Tinoek).

Kebetulan rombongan kami ada Profesor, yang sangat antusias untuk  menularkan ilmunya, jadilah kami menerima kuliah gratis di alam terbuka. Gara-gara kuliah terbuka tentang batu-batu an ini, kami semua terkena promosi tentang batuan yang khas pulau Belitung, yaitu batu satam.

Kuliah terbuka tentang batu-batuan (foto by Tinoek).

Kuliah terbuka tentang batu-batuan (foto by Tinoek).

Jadilah kami ramai-ramai membeli batu satam, minimal untuk dipakai sendiri. Malamnya kami makan malam di tepi pantai Tanjungpendam, dan menikmati kopi Kong Djie yang mantap. 

  
Besoknya kami menuju kota Manggar di Belitung Timur, yang berjarak 90 km dari Belitung Barat dan bisa dicapai selama 1,5 jam. Jalanan yang mulus dan cukup lengang membuat sebagian rombongan tertidur. 
SD Muhammadiyah Gantong.

SD Muhammadiyah Gantong.

Sampai di Gantong, kami segera menuju replika SD nya Laskar Pelangi, karena saat shooting film menggunakan replika di dekat SD yang telah hancur.

Mira Lesmana membuat replika SD untuk film disitu, namun masih  dekat dengan Sekolah Tsanawiyah … dan ternyata sejak ada film tersebut pengunjung membludag, akibatnya mengganggu kegiatan belajar murid-murid SD tersebut.

Kemudian oleh Pemda dibuatkan replika Sekolah Laskar Pelangi di tanah yang berasal dari pembuangan tambang timah yang tak terpakai (cerita dari pemandu wisata).
Panas menyengat, pasirnya juga terasa sangat panas, namun itu semua tak membuat semangat rombongan ini surut semangatnya. Kami semua menuju Sekolah Laskar Pelangi,  menikmati suasana kelas, sambil membayangkan bagaimana Andrea Hirata dulu sekolah di daerah sini.
Di depan SD MUhammadiyah Gantong.

Di depan SD MUhammadiyah Gantong.

Setelah itu kami berfoto di depan SD Muhammadiyah Gantong … tentu saja Prof  Son sibuk mempelajari tanah di sekitar bekas galian tambah timah yang sudah mulai menghijau. Dan menemukan tanaman mendong serta bunganya yang kecil. Juga mulai tumbuh tanaman cemara… serta rerumputan.

 
Mencoba naik sepeda di Galerie Laskar Pelangi.

Mencoba naik sepeda di Galerie Laskar Pelangi.

Setelah puas berfoto di sekitar SD Muhammadiyah Gantong, kami menuju Galerie Laskar Pelangi, yang menayangkan cerita tentang Laskar pelangi.  Beberapa teman sibuk mempelajari lukisan kaca, diskusi tentang alat musik dengan petugas yang menjaga galerie tersebut.

Puas dari sini, kami mampir di di toko batik Simpor, yang merupakan batik khas Belitung. Daun simpor ininbisa digunakan untuk membungkus lontong, fungsinya membuat lontong lebih awet. Daun simpor ini juga merupakan pengganti daun pisang, dan tumbuh secara liar.
Museum Kata Andrea Hirata

Museum Kata Andrea Hirata

Dari sini rombongan menuju museum Kata Andrea Hirata, yang terletak tak jauh dari replika SD Muhammadiyah Gantong.  Saya memotret rumah orangtua Andrea Hirata yang bercat pink, tak jauh dari Museum Kata.

Bersama adik di depan rumah Ahok.

Bersama adik di depan rumah Ahok.

Dari museum Kata, kami menuju kampung Ahok yang didepannya ada rumah orangtua Ahok…tentu saja kami tak menyia-nyiakan untuk mengambil foto rumah orangtua Ahok ini.

 
Kunjungan diakhiri dengan makan siang di RM Seafood Sinar Laut Ayung BB, disinilah kami menikmati sayur gangan (sop kental mirip kari yang isinya ikan) yang sedaaap. Setelah makan, kami mampir untuk sholat di masjid, kemudian mencari jalan dimana Ahok pernah difoto saat memegang pel dan ember, untuk mengabsen pegawai Pemda yang telat datang.
 
Tour diakhiri dengan menuju bandara H. AS. Hanandjoedin, yang penuh sekali dengan rombongan lain yang berniat pulang hari itu. Sungguh besar jasa Andrea Hirata dan film Laskar Pelangi, yang  membuat Belitung menjadi lebih dikenal.  Secara pribadi, saya bahagia ikut serta dalam rombongan tour Belitung ini, banyak sekali ilmu dan pengalaman yang saya peroleh. Dengan pariwisata, banyak sekali ikutannya, dari tiket pesawat, tukang perahu untuk mengantar ke pulau-pulau (akan ditulis di tulisan terpisah), rumah makan, tempat oleh-oleh … yang semuanya harus berkoordinasi dengan baik agar meninggalkan kesan yang mendalam bagi pengunjung. Dan kopi Belitung sungguh sedaap.
 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: