Oleh: edratna | Januari 8, 2017

Mencoba akupuntur

Saya sering mendengar dari beberapa teman tentang penyembuhan melalui akupuntur. Dan semakin tertarik setelah teman-teman di WA grup membahas cara pengobatan ini karena tanpa pemberian obat. Tapi yang masih membuat ragu, sakitkah? Bukankah badan kita ditusuk beberapa jarum? Membayangkan disuntik saja sudah sakit, bagaimana pula dengan badan ditusuk berbagai macam jarum. Namun sakit di bahu kanan yang mengganggu membuat saya harus berani mencoba.

Biasanya kalau badan pegal atau keseleo, saya mempunyai langganan yu pijet, terus ada refleksi kaki, dan belakangan mencoba totok Peter Chung, bahkan punya kartu diskon nya. Dari obrolan di WAG, saya akhirnya janjian sama Dien, teman seangkatan saat masih kuliah dan setelah pensiun hubungan kami menjadi lebih akrab. Kebetulan rumah Dien di Bintaro, dan dekat dengan dokter akupuntur ini, cuma belum pernah mencoba.

Saya diantar anak sulung menuju ke rumah Dien di Bintaro sektor 2 (dua), sampai di sana Dien sudah menunggu,  kami langsung menuju ke tempat praktek dr. H. Lho kok masih sepi? Pintu pagar bisa saya buka dari luar, saya masuk ke halaman nya, namun tak ada seorangpun terlihat. Akhirnya kami menunggu di pos satpam yang kebetulan persis di depan paktek dr. H. Kami mengobrol santai, kemudian ada pasien yang datang, yang langsung bergabung dengan kami. Ibu yang datang ini sudah pernah mencoba pengobatan di dr. H tiga kali, keluhannya vertigo yang sudah berat, sehingga sering pingsan.

Tak lama kemudian ada sepeda motor datang, rupanya asisten dr. H datang, si mbak langsung membuka pintu pagar, kemudian membersihkan ruang tunggu yang dipenuhi daun-daun kering karena tertiup angin, dan menyiapkan kursi tunggu untuk pasien. Suami isteri yang masih muda kemudian datang, dari obrolan dengan kami, ternyata dia ingin segera mendapat keturunan karena telah menikah 4 (empat) tahun, dan belum dikaruniai keturunan.

Tak lama kemudian pintu dibuka, saya dan Dien masuk, bersama ibu yang sakit vertigo dan teman nya. Karena sudah pengobatan ke empat, ibu tadi langsung menempati tempat tidur yang telah disiapkan. Rupanya dr. H masih muda, beliau lahir saat saya masuk kuliah di IPB,  beliau menjelaskan, bahwa sebetulnya terapi akupuntur yang dilakukan saat ini dibagi atas 3 (tiga) keahlian dari yang melaksanakan nya: a. Berlatar belakang pendidikan kedokteran, seperti dr. H yang alumni Fakultas Kedokteran UI kemudian melanjutkan spesialis akupuntur, b. berdasarkan keahlian empiris yang diperoleh dari pelatihan, dan c. Ada yang dilakukan oleh Shinse.

Untuk Dien, dokter H akan melakukan terapi yang berkaitan tiga hal: a. Menurunkan Berat Badan, b. Memperbaiki mikro sirkulasi pembuluh darah, dengan memperbaiki aliran/turbulensi darah. c. Mengurangi lemak dengan olah raga. Dalam hal penyakit varieses dalam dan jantung, dr. H menyarankan agar Dien berkonsultasi dengan dokter ahli jantung. Menurunkan berat badan dapat dilakukan melalui akupuntur, namun harus diintegrasikan dengan diet dan olah raga. Diet disini untuk menurunkan lemak, sehingga jika kombinasi antara akupuntur, diet dan olahraga dilakukan, dalam sebulan bisa turun sekitar 4-6 kg. Kemudian dr. H memberikan aturan untuk program diet nya, untuk itu Dien perlu akupuntur tiga kali seminggu, selama kira-kira 4,5 bulan. Untuk olahraga, yang disarankan adalah menggunakan sepeda statis, agar tidak membebani kaki. Olah raga penting dilakukan karena olah raga yang sampai berkeringat akan membakar lemak, serta akan meningkatkan metabolisme.

Untuk saya, keluhan utama adalah punggung sebelah kanan pegal, dan ini saya rasakan sejak sebulan lalu. Saya sudah mencoba kerokan, pijet dan akhirnya totok, enak saat selesai dilakukan, namun keluhan muncul lagi. Selain itu ada masalah kolesterol dan asam urat, walau menurut dr. H bisa diatur dengan diet makanan. 

Saya dan Dien dipersilahkan menempatkan diri masing-masing di tempat tidur. Dien mendapatkan tusuk jarum di kepala, telinga, perut, dan kaki. Sedangkan saya di leher kanan bawah, punggung dan pangkal lengan kanan, semuanya ada 9 (sembilan) jarum. Tidak terasa sakit, malahan terasa hangat yang menyebar, terapi dilaksanakan sekitar 30 menit. Saya dianjurkan untuk datang seminggu dua kali, dan diperkirakan selesai terapi 6 (enam) kali. Oleh dr. H, jika Bintaro dirasakan terlalu jauh, disarankan ke RS Pondok Indah, karena dr. H juga praktek di situ.

Selesai terapi, saya dan anak saya mengantar Dien pulang, kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Anak saya mengajak ke arah jalan yang menuju Ciputat, rupanya kami nyasar … syukurlah akhirnya kami sampai di pertigaan jalan Veteran, setelah belok kiri ketemu lampu merah, dan menuju ke arah Pondok Indah. Karena merasa capai dan lapar, kami mampir di restoran “Lada Putih” Terogong. Saya memesan ketan mangga dan jus nanas yang sedap, sedang anak saya pesan ayam kemangi. Karena keasyikan mengobrol, jadi lupa memotret deh.

Malam itu nyaris tak bisa menahan kantuk, rupanya terapi akupuntur juga menyebabkan enak tidur. Begitu sudah selesai menunaikan kewajiban sholat Isya, saya mulai membaca sambil tiduran …. terbangun jam 3.45 wib dengan lampu masih menyala. Segaar nya…..

Iklan

Responses

  1. Heibat Enny bravo

    Makasih Iswandi

  2. Enny memang oce

    Makasih Wati

  3. Ibuuuu apa kabaaar?:D

    Hallo Chic…kabar baik….
    Makin susah nih nulisnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: