Oleh: edratna | Mei 2, 2017

Day 5- Ziarah ke Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Medan Uhud, Khandak dan Pasar Kurma.

Dini hari jam 3.30 waktu Madinah kami sudah berkumpul, kemudian bersama-sama menuju masjid Nabawi. Ustadz menjelaskan dimana letak pintu masuk untuk perempuan, karena di masjid Nabawi, perempuan dan laki-laki tempat sholat nya terpisah. Cuaca masih “agak dingin” bagi ukuran saya, sehingga saya pakai syal untuk menahan dingin. Memasuki halaman masjid Nabawi, mata terpaku melihat payung-payung yang tertata rapi di halaman nya, saat itu payung masih menutup.

Payung di Masjid Nabawi

Payung ini akan terbuka pada siang hari dan pada tiang-tiangnya akan memancarkan air untuk mendinginkan cuaca. Saya dan Minah segera memasuki Masjid Nabawi, sandal dilepas, tas diperiksa oleh Askar.

Habis sholat Subuh.

Masjid penuh sesak, saya sudah tak mendapat tempat yang ada karpetnya, syukurlah membawa sajadah sehingga bisa menahan dingin. Di sebelah kanan saya, orang dari Uzbekistan, kelihatannya sedang kurang sehat karena terus memijit kakinya. Saya lihat kakinya bengkak, dan dia tak membawa sajadah. Saya tawarkan pasmina saya dan Vicks yang selalu ada di dalam tas, syukurlah dia mau, walau kami hanya bisa berbicara menggunakan isyarat. Saat saya tawarkan untuk membawa Vicks saya, dia menggeleng-geleng. Semoga setelah berpisah, dia dalam keadaan sehat.

Bersama teman di depan masjid Quba.

Setelah makan pagi, acara kami adalah ziarah ke masjid Quba, masjid Qiblatain, Medan Uhud, Khandak dan Pasar kurma.  Pertama-tama kami ke masjid Quba, terletak sekitar 5 km sebelah barat daya Madinah. Saat Nabi Muhammad saw bersama Abu Bakar as Shiddiq hijrah ke Madinah, orang-orang Quba yang pertama kali menyambutnya.

Di masjid Quba.

Setelah mendirikan masjid, setiap minggu Rasulullah akan sholat di masjid Quba ini. Saat rombongan kami sampai di masjid Quba orang terlihat penuh sesak, bahkan untuk parkir bis memerlukan waktu lama, hal ini berbeda dibanding tujuh tahun lalu saat saya ke sini. Untuk sholat, perempuan dan laki-laki terpisah. Kami antri berdesakan untuk sholat di masjid ini, setelah selesai sholat Tahiyatul Masjid dan sholat sunnah, saya segera keluar menuju tempat yang disepakati untuk bertemu. Ternyata ada dari rombongan yang kecopetan, padahal sudah di wanti-wanti untuk berhati-hati. Kami sempat berfoto-foto di depan masjid Quba, kemudian melanjutkan perjalanan ke pasar Kurma.

Bersama Minah di kebun kurma.

Pasar kurma yang menjadi satu dengan kebun kurma Abu Faisal ini ramai didatangi orang, serta harganya tetap, sehingga memudahkan untuk membeli. Disini ditawarkan berbagai macam jenis kurma, ada kurma Ajwa (yang dipercaya banyak kasiatnya, dan dulunya ditanam sendiri oleh Rasulullah), juga kurma muda. Disini dijual pula parfum dalam botol kecil-kecil dalam kotak, satu dus berisi 12 parfum yang laris dibeli.

Dari pasar kurma kami menuju Medan Uhud, tempat para pahlawan perang Uhud dimakamkan. Selanjutnya kami menuju masjid Qiblatain. Ustadz menceritakan riwayat masjid Qiblatain ini, namun rombongan tidak turun disini. Demikian juga saat ke Khandak, Ustadz menjelaskan letak parit-parit yang digunakan untuk strategi perang agar kuda musuh tidak bisa meloncati parit tersebut saat menyerang Madinah.

Depan pintu emas

Sesudahnya kami kembali ke hotel Movenpick agar bisa segera sholat Duhur di Masjid Nabawi. Selesai sholat Duhur, karena keluarnya antri, pas sudah diluar masjid saya melihat pintu masjid sebagian tertutup, dan ternyata inilah pintu emas yang dimaksud teman-teman. Tak menyia-nyiakan waktu, saya bergantian dengan Minah, mengambil foto di depan pintu emas ini.

Saya dan Minah kemudian pergi ke pasar kaget yang ada di lapangan terbuka, disitu banyak dijual barang-barang dengan harga murah, cuma panas sangat menyengat. Setelah membeli beberapa syal untuk oleh-oleh, saya segera kembali ke hotel untuk makan siang. Sore ini ada diskusi agama setelah sholat Ashar.

Sebagaian payung di halaman masjid Nabawi mulai menutup menjelang Magrib.

Pada saat diskusi, dijelaskan rencana ke Raudah malam ini, sehingga dianjurkan agar saat salat Magrib tidak terlalu masuk ke dalam masjid, agar bisa segera keluar untuk makan malam, dan kemudian sholat Isya di masjid Nabawi, yang dilanjutkan untuk sholat di Raudah.

Iklan

Responses

  1. Baca ceritanya jadi kangen Madinah dan Mekkah, Bu 🙂

    Bener Viving….dan selalu ingin kembali ke sana.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: