Oleh: edratna | Juni 4, 2017

Jika Nin dan Akung A678++ piknik ke Korea

Bandara Inncheon, walau capek semalaman di pesawat, tetap semangat.

Kami satu rombongan 22 orang, lumayan banyak. Dan sebagian besar dari kami telah saling mengenal sejak zaman kuliah, kalaupun bukan alumni IPB, tapi telah sering ikut kegiatan bersama, sehingga semua seperti bersaudara. Tapi tetap saja banyak kelucuan yang terjadi, maklum usia makin bertambah. Yang pasti, setiap kali berhenti di rest area, yang dicari adalah toilet.

Dan karena toilet di Korea menganut sistem kering, kami semua sedia tisu basah, dan yang kurang puas membawa botol aqua kosong, yang nanti akan diisi di wastafel, sebelum antri di toilet. Rupanya ini juga menjadi perhatian Sunny, guide kami yang bisa berbahasa Indonesia. Dia cerita, setelah pulang dari Indonesia, dia juga belum merasa bersih jika hanya menggunakan tisu kering, jadi dia selalu sedia tisu basah.

Mount Seoraksan

Karena sebagian peserta adalah perempuan, kalau nggak hati-hati akan mudah tersesat, terus terang kaum ku lebih mudah tergoda untuk mampir/berhenti, hanya sekedar ambil foto …. dan nanti keliru membuntuti orang lain.

Ada dua orang yang tertinggal tidak ikut pakai Hanbok (pakaian tradisional Korea).

Apalagi saat kami jalan-jalan ke Korea, bersamaan dengan waktu liburan, sehingga warga lokal juga sedang piknik ke daerah wisata.

 

 

 

 

Apa yang sering terjadi pada rombongan ini?

  • Kehilangan arah… dan ini termasuk saya, kalau nggak hati-hati bisa nyasar. Jadi dari rombongan besar, mesti buat rombongan kecil lagi yang minatnya sama, selalu bersamaan dengan teman lain, minimal berdua.
  • Nyaris tertinggal di pesawat. Gara-gara ingin mencharge Hp, salah satu teman saat di ruang tunggu duduk menyendiri mendekati hp yang sedang di charge. Rupanya dia tertidur saat panggilan boarding, dan kebetulan panggilannya tanpa pengumunan yang keras, karena saat itu bandara Soekarno Hatta terminal 3 baru digunakan 3 (tiga) hari untuk penerbangan luar negeri dan masih hanya untuk Garuda. Syukurlah ada yang ingat dan membangunkan si mbak yang tertidur ini.
  • Saat mau naik feri ke Nami Island, dihitung masih kurang 2 (dua) orang, dicari kemana-mana nggak ketemu. Syukurlah salah satu teman kembali ke restoran tempat kami makan siang, rupanya dua nin ini juga kebingungan, saat ditinggal ke toilet, teman-teman nya sudah hilang. Jadi, setiap kali harus dihitung jumlahnya, sebelum menuju ke kegiatan berikutnya.
  • Kehilangan uang, dompet, paspor yang bisa bikin panik, ternyata hanya karena keliru menaruh barang di tempat lain. Dan ini sering terjadi.
  • Hobi foto. Nin dan akung ini tak kalah dengan anak muda soal foto agar kekinian, dan ini membuat guide senewen karena jadualnya jadi molor. Akhirnya ada yang bilang, bahwa kami ini dulunya teman kuliah, setelah pensiun baru bisa jalan bareng lagi. Saat masih aktif bekerja sulit bertemu. Jadi yang lebih penting adalah kebersamaan. Akibatnya acara banyak yang di skip ….. dan tak ada yang protes …… yang penting gembira bersama.
  • Tak lupa bawa cemilan. Bahkan saat masih di bandara Soekarno Hatta, sudah dimulai pembagian akik dan kering tempe. Ke Korea lho…memangnya di sana susah makan? Dan akhirnya kering tempe tetap berguna, dibawa balik lagi ke Indonesia untuk lauk.
  • Jika di bis paling enak duduk di tengah, selalu kebagian pembagian cemilan, baik yang berasal dari depan maupun belakang. Jika kebagian duduk di belakang, cemilan sudah habis saat di tengah. 
  • Tanaman yang hanya tumbuh di dataran tinggi di negara 4 (empat) musim, entah apa namanya. Teman-teman lama berdebat di sini.

    Heboh jika melihat tanaman yang tak ada di Indonesia. Saat di Mount Seoraksan, guide sampai berkali-kali mengingatkan saat melihat nin dan kung mengerumuni tanaman yang hanya tumbuh di dataran tinggi dan empat musim. Perdebatan selalu berlangsung dengan membawa ilmu masing-masing. Maklum semua latar belakang pertanian, kecuali saya yang membelot tidak bekerja di bidang pertanian setelah lulus.

Syukurlah guide yang menemani rombongan cukup sabar, serta bisa berbahasa Indonesia, dan kami selalu makan di tempat yang menyajikan makanan halal. Saat mengunjungi Myeongdong Street, diingatkan agar berhati-hati dalam membeli dan memilih makanan karena tak semuanya halal. Terimakasih Sunny (guide) dan Andi (photographer) yang selalu menemani rombongan kami dengan sabar, membantu jadi porter, ikut melayani kami saat makan, setelah kami semua siap makan, baru mereka berdua mulai makan.

Iklan

Responses

  1. Kakak A678 jempol banget…..berharap kami adik2 ibu bapak meneladani kebersamaan ini. Melihat raut wajah bahagia ibu bapak yg sebagian guru2 kami duh syukurnya.
    Izin ngakak sebentar saat diskusi nama tanaman, belum lagi yg ahli batuan nggih Ibu. Salam hangat

    Iya mbak..jalan-jalan sama sahabat untuk “ngrabuk” kesehatan.

  2. jadi iri, pengen deh jalan2 ke korea, mudah2an bisa, amin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: