Oleh: edratna | Juli 2, 2017

Jalan-jalan ke Museum Bahari yuuk

Menara Bahari atau dulu disebut Menara Syahbandar.

Sebelumnya nggak ada niat untuk mengunjungi museum Bahari, walau sudah lama ingin ke sana. Situasi Lebaran dan mengajak cucu, mesti lihat situasi dan kondisi “mood” cucu. Jadi, niat dari rumah hanya sekedar makan siang ke Cafe Batavia, karena mumpung masih liburan sehingga jalan ke arah Taman Fatahillah nggak macet. Setelah makan siang di Cafe Batavia, saya hanya bilang sama si sulung, bisa nggak kita melewati museum Bahari? 

Museum Bahari

Lokasi museum Bahari ini sebetulnya  nggak jauh dari museum Fatahillah, nggak sampai 1 km, jika ingin naik angkutan umum, naik KW 15 berhenti di dekat museum. Kalau menggunakan mobil pribadi jalannya agak memutar. Saat parkir mobil di tempat parkir dekat Menara Syahbandar, atau dikenal dengan Menara Bahari, penjaga memberi tahu bahwa sebaiknya ke museum satunya dulu, sekaligus beli tiket, karena koleksinya lebih banyak.

Pintu masuk museum Bahari

Kami berjalan kaki menuju ke museum Bahari, yang terletak di dekat Pasar Ikan (sekarang sudah dipindahkan)…..dan betul-betul senang sekali bisa kesini.

 

 

 

 

 

 

Rempah-rempah yang dulu di simpan di Gudang ini, yang membuat Belanda menjajah Indonesia.

Museum Bahari ini dulunya gudang rempah-rempah, sejak tahun 1977 dialihkan menjadi museum Bahari (saat Gubernur DKI nya Ali Sadikin).

Jendela yang kokoh dari kayu jati.

Gudang rempah-rempah yang sekarang menjadi museum Bahari ini terletak di kawasan teluk Sunda Kelapa, yang namanya berubah-ubah dan sekarang menjadi Jakarta.

Ya…karena rempah-rempah inilah Indonesia menjadi daerah yang diperebutkan, dan menjadi jajahan Belanda sampai 3,5 abad. Lada hitam termasuk rempah-rempah yang bernilai sangat tinggi, senilai dengan harga emas saat itu. 

 

 

 

 

Gedung galangan VOC

Menara Syahbandar yang didirikan Belanda masih berdiri sampai saat ini, sekarang terkenal dengan nama Menara Bahari .Di seberang jalan, berhadapan dengan Menara Bahari, terletak  gedung galangan kapal VOC.

 

Lorong berupa taman di antara bangunan Museum Bahari

Museum Bahari berdinding tebal, dengan kayu jati yang kokoh, serta tiang penyangga yang kuat, terdiri atas 3 lantai, dan tiga bangunan yang dipisahkan oleh taman yang cukup luas dan bersih.

Mencoba menjadi jurumudi

Saat ini museum Bahari menyimpan koleksi benda-benda bersejarah kelautan seluruh Nusantara, berbagai jenis perahu, yang asli maupun  replikanya. Juga ada beberapa video yang menggambarkan pertempuran di laut, serta gambar-gambar legenda yang berkaitan dengan laut, seperti Bima dan dewa Ruci, Poseidon dan lain-lain.

Perahu asli dari Papua

Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan untuk logistik tentara Jepang. di museum ini juga ada foto-foto dan sejarah perang dunia kedua, yang imbasnya juga sampai ke nusantara. Saya senang sekali melihat bangunan dan koleksi museum yang terawat baik, bersih dan tertata.

Menurut guide yang menyertai kami, Pemda DKI sejak dua tahun ini banyak memperhatikan revitalisasi Kota Tua serta museum yang ada di Jakarta. Sayang pengunjungnya tak terlalu banyak, tak seperti Taman Fatahillah yang penuh sesak. Kurang promosikah?

Mungkin setelah Kota Tua tertata dengan baik, dan renovasi gedung tua selesai, berharap masyakat Jakarta tak hanya mengunjungi Taman Fatahillah, namun juga museum-museum yang ada di sekitarnya. Dan mungkin yang perlu diperhatikan adalah informasi jalur kendaraan umum untuk mencapai lokasi ini. 

Bagi pengelola museum, yang perlu diperhatikan mungkin adalah membuka cafe yang menyediakan minuman, karena panas yang menyengat membuat haus, apalagi pengunjung yang datang, rata-rata membawa anak kecil. Dan saya senang karena melihat cucu yang berumur 6 (enam) tahun menikmati mengunjungi museum ini, serta banyak bertanya pada guide. Bahkan, saat saya dan bundanya sudah kelelahan, si kecil masih menyusuri lorong museum bersama babe nya sampai koleksi terakhir yang dipamerkan di museum ini.  Semoga pengelolaan museum makin baik lagi, dan makin banyak keluarga yang mengajak anak-anaknya mengunjungi museum.

Iklan

Responses

  1. Hi Ara…suka sekali ya jalan2 bareng Yangti ke museum Bahari. Tertata rapi ya ibu Enny eks menara Syahbandar ini (masih pengin nyebut nama lama hehe).

    Ara sering diajak jalan-jalan ke museum oleh babe dan bunda. Bahkan lebih banyak museum yang dikunjungi oleh Ara, dibanding oleh Yangti.

  2. Museum Bahari ini bukannya yang sebrang tol ya Bu? Yg kelihatan bangunannya dari tol ancol. Bangunannya tampaknya ga terlewati trayek double decker.

    Kebetulan si sulung juga termasuk antusias utk mengunjungi museum, apalagi waktu mengunjungi Museum Bank Mandiri, wah ga mau pulang, eksplorasi semua bagian bangunannya, sampe kluis2nya…. Jangan2 karena ayahnya kerja di bank juga :))

    Hehehe…bisa menurun nih…anakku malah nggak ada yang mau kerja di bank.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: