Oleh: edratna | Oktober 13, 2017

Metro Mini

Metro Mini-foto diambil dari google.

Bagi yang remaja atau dewasa di tahun 80-90 an tentu masih mengenal saat jaya-jaya nya Metro Mini. Dan ternyata Metro Mini ini masih bertahan sampai saat ini …. namun dalam kondisi yang memprihatinkan, tergerus oleh zaman. Akhir-akhir ini saya mesti berkenalan lagi dengan Metro Mini ini, gara-gara jalan Fatmawati yang sedang amburadul karena pembangunan MRT menjadi jalan yang dihindari sopir taksi. Bisa lebih dari satu jam berdiri di pinggir jalan Fatmawati untuk menunggu taksi, tanpa hasil. Mau pesan lewat telepon? Jika saya pesan lewat telepon setelah jam 6 pagi, pas lagi sibuk-sibuk nya, maka call center di sana akan berulang kali memberi tahu….”Ibu, taksinya belum ada, apakah masih bisa menunggu?” Jadi, saya hanya pesan taksi jika sebelum jam 6 pagi, atau setelah lewat jam 8 pagi.

Kondisi seperti itu, membuat saya mencoba untuk naik Metro Mini dari depan Pasar Mede ke blok M. Awalnya memang terasa nggak nyaman, tapi dengan berpakaian tak mencolok dan membaur dengan penumpang lain, rasanya aman-aman saja. Memang pernah agak kawatir, saat di tengah jalan ada penumpang yang naik, dan mulai mengguman….”Bapak ibu, mohon dikasihani….bla..bla….dst nya, dengan badan penuh tato.” Saya segera memberi uang kecil dan buru-buru turun, untuk menunggu Metro Mini lain yang lewat, karena tak satupun bajaj atau taksi yang lewat, dan saya tidak berani naik ojeg.

Siapakah para penumpang Metro Mini?

Setelah saya perhatikan, para penumpang Metro Mini sebagian besar para ibu atau perempuan pekerja, yang kemungkinan tidak berani naik ojeg (termasuk saya), serta para bapak yang usianya di atas 40 an tahun. Tentu saja para pekerja muda tidak termasuk yang suka naik Metro Mini, karena mereka akan lebih memilih naik ojeg, selain biaya tak jauh berbeda namun waktu tempuhnya lebih cepat.

Bagaimana memilih Metro Mini yang tepat?

Sebetulnya nggak ada pilihan yang tepat, karena rata-rata Metro Mini yang beroperasi di jalan telah berumur di atas 20 tahun, namun jika kita asal naik Metro Mini, bukannya makin cepat, namun malah lambat dan juga membuat “mood” kita hilang. Saya memilih naik Metro Mini yang penuh. Lho! Kenapa malah memilih yang penuh? Karena para penumpang Metro Mini rata-rata tujuannya jarak dekat, jadi biarpun penuh, kita lebih cepat dapat tempat duduk. Karena jika kita memilih Metro Mini yang masih setengah kosong atau kosong, bisa ngetem 3x di jalan. Dan karena naik Metro Mini, jarang yang membuka Hape, jadi saya kadang menemukan sesama penumpang yang bisa diajak mengobrol asyik. 

Hal yang membuat terharu adalah, suatu ketika saya naik Metro Mini dari depan Pasar Mede ke arah Blok M. Saya dapat tempat duduk agak di belakang, di sebelah saya bapak-bapak yang saat saya mau duduk nggak mau menggeser tempat duduknya. Ya, sudah saya duduk di dekat jendela. Rupanya bapak tadi pensiunan, yang akan mengambil uang pensiun di Bank BTPN jl Petogogan. Saat mau turun, bapak tadi berdiri dengan susah payah apalagi saat berjalan, beberapa penumpang segera turun tangan untuk membantu sampai bapak tadi turun dari Metro Mini, dan mengingatkan pak sopir agar menunggu bapak tua tadi sampai benar-benar turun di jalan. Pembelajaran lainnya, sopir metro Mini lebih ramah terhadap penumpang, walaupun nggak punya kernet, sering berpesan….”Hati-hati ya bu turun nya, lihat dulu di belakang ada motor apa tidak?”

Selain kondisi Metro Mini yang sudah tua,  tidak ber AC, sebetulnya kita masih bisa menikmati naik Metro Mini,  asal kita tidak mudah mengeluh.

Iklan

Responses

  1. Aku sekarang sering naik gojek online, tapi kadang -kadang kangen juga lho naik metro mini ini 🙂

    Kalau berani naik gojek sih, enak naik gojek…lebih cepat.

  2. Saya termasuk yang bersumpah nggak akan lagi naik Metromini jika tidak sangat, sangat terpaksa (hai TransJakarta, KRL, dan ojek online) karena banyak pengalaman tidak menyenangkan di sana. Dari yang diresein kondektur, dimaki pengamen karena kasih recehan 500, uang kembalian yang kurang (dan pas saya minta malah disindir pelit), hingga disiul-siuli penumpang laki-laki.

    Cukup deh sama Metromini. Hahaha.

  3. Alinea terakhir sangat menyentuh. Berdamai dg keadaan bisa tetap menikmati metro mini dan berbuah postingan ciamik ini. Salam syukur nggih Ibu Enny.

    Iya mbak..pembelajaran nya…lebih bisa menambah rasa syukur. Banyak penumpang Metro Mini yang tak punya pilihan naik kendaraan yang lain.

  4. sudah 2 tahun saya nggak naik metro mini bu, karena memang di tempat kerja yang sekarang nggak ada trayek metro mini…
    saya justru suka naik kendaraan umum bu, karena asalkan rajin mengamati banyak kejadian menyentuh seperti ini, orang Jakarta masih banyak yang baik dan mau menolong.

    Betul mbak Monda, banyak hal-hal yang menyentuh, kebersamaan dan saling tolong menolong. Kalau melihat linimasa sosmed kan kayaknya ribut terus…padahal riil nya rakyat kecil saling tolong menolong.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: