Menghadiri Launching Buku 8 Bahasa Cinta

Mbak Tuti dan buku nya, yang merupakan kumpulan dari tulisan di blog.

Saya menerima WA dari mbak Tuti Nonka, Blogger, Penulis Novel sejak tahun 70 an, dan sehari-hari beliau dosen yang aktif dengan latar belakang Teknik Sipil. ” Mbak Enny, jika ada waktu longgar, saya mengundang pada launching buku kumcer saya besok hari Sabtu.” Saya langsung lihat kalender, kelihatannya belum ada kegiatan, yang jadi kendala justru kesehatan saya lagi naik turun akhir-akhir ini, dan yang mengganggu adalah vertigo nya sering datang. Saya nggak berani janji tapi akan saya usahakan datang.

 

Kumpulan Cerpen 8 Bahasa Cinta dari 8 Penulis.

Alhamdulillah hari Sabtu pagi itu kondisi saya sehat, jadi saya merencanakan sekalian menengok teman yang sakit di RSAL dan RSCM sebelum menghadiri acara bukunya mbak Tuti. Syukurlah libur tiga hari membuat jalanan Jakarta lancar…

Senangnya ketemu penulis favorit (Mbak Tuti Nonka), juga ketemu Erna Lindasari (Baju merah).

Saat itu sudah mulai pembukaan,  saya tak tahu nama satu per satu penulis buku tersebut, tentu yang saya hafal mbak Tuti Nonka dan mbak Sanie B. Kuncoro, yang tulisan nya sudah saya kenal sejak tahun 80 an, wira-wiri di majalah Aneka Cemerlang, majalah Gadis dan Femina.

Baiklah, saya akan sharing diskusi antara yang hadir dengan para penulis buku ini, bagaimana tip nya dan cara mereka bisa terus punya semangat untuk menulis.

  • Akhirnya bisa foto barenag mbak Sanie B. Kuncoro, penulis yang selama ini saya kenal tulisan nya di berbagai majalah perempuan.

    Mengapa memilih tema “Cinta”?  Disini yang diceritakan adalah cinta kepada ibu, hal ini karena belum banyak yang bisa kita berikan pada ibu. Saat menulis ini, kami bergantian memberi semangat, karena saat ingat ibu, selalu membuat air mata keluar. Tak ada orang di dunia ini yang tak mempunyai ibu, dan cinta yang paling murni adalah cinta ibu. Ditinggalkan ibu akan membekas di hati kita, tak bisa digambarkan dengan kata-kata.

  • Mbak Ida Ahdiah mengatakan bahwa dia ditinggalkan ibu sejak umur 3 (tiga) tahun, namun rindu pada ibu  seperti rindu pada bumi. Dan tulisan mbak Ida ada beberapa tentang ibu, seperti “Kebaya Ibu.”
  • Widyawati Puspita Dewi, yang paling muda, merasa bangga bisa sepanggung dan bergabung menulis dengan para penulis senior ini, yang telah dikenal nya sejak dia remaja. Widya sendiri ditinggalkan ibu saat berumur 20 tahun.
  • Mbak Sanie B. Kuncoro menyatakan bahwa ibu adalah sumber inspirasi, setiap membuka mata kita selalu ada ibu. Ibu tak pernah meninggalkan bahunya, dimana-mana ada ibu.
  • Mbak Tuti Nonka mengatakan bahwa cerpen tentang ibu ini 50 persen riil dan 50 persen fiksi. Ibu adalah manusia biasa yang mempunyai karakter berbeda-beda. Ada ibu yang lemah lembut, namun juga ada ibu yang keras dan galak. Ke delapan tulisan ini menggambarkan karakter ibu yang komplit.
  • Untuk tip menulis, mbak Ida mengatakan, dia biasanya suka mengobrol, membaca, menonton dan jalan-jalan. Dengan menonton kita bisa melihat konflik yang ada di film, masuk akal kah konflik tersebut? Dengan berjalan-jalan ketemu berbagai karakter manusia yang bisa menimbulkan ide untuk menulis. Membaca, mengobrol dapat memperoleh ide untuk tulisan.
  • Anak-anak sekarang dimudahkan dengan adanya medsos. Mbak Tuti punya blog, saat upload tulisan ada komentar dari pembaca yang bisa menjadi sumber ide untuk memperbaiki tulisan.  Salah satu penulis mengatakan bahwa dia mempunyai catatan, ide apapun langsung ditulis di buku catatan tersebut, entah nama lokasi, nama orang yang dinilai bagus untuk dipakai sebagai nama tokoh pada tulisan.
  • Mbak Ninuk mengatakan bahwa menulis dapat digunakan sebagai terapi untuk meredakan gelisah. Kita menulis karena kita merasakan dan ingin berbagi. Saat ini lebih fokus menulis tutorial tentang merajut.
  • Mbak Sanie B. Kuncoro mengatakan suka memperhatikan nama bagus, khusus nama Chinese dia mendapatkan dari iklan orang yang meninggal dunia, juga nama lokasi sering diperoleh dari obrolan dengan orang lain. Yang penting adalah kita selalu memperhatikan, merasakan dan mencatat, yang bisa memunculkan ide untuk menulis.
Dapat tanda tangan dan foto bareng penulisnya (MBak Swan, mbak Sanie dan mbak Tita?).

Sayang saya tak banyak bisa mengobrol dengan mbak Tuti Nonka, dan bahagianya bisa ketemu blogger Elindasari yang saat ini juga diundang mbak Tuti Nonka.

 

 

Delapan penulis berpose dengan bukunya.

Acara yang ditunggu adalah tanda tangan buku oleh penulisnya….betapa senangnya mendapat tanda tangan 8 penulis, mbak-mbak yang selama ini hanya saya kenal dengan tulisannya di majalah atau novel.

Tetap menulis ya mbak Tuti Nonka dan kawan-kawan…saya tunggu tulisan berikutnya. Pertanyaan ke diri sendiri…kapan ya saya mulai menulis buku?

Iklan

Satu pemikiran pada “Menghadiri Launching Buku 8 Bahasa Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s