Pembelajaran Ara selama Liburan (libur puasa dan libur akhir tahun pembelajaran).

Mampir dulu ke ATM

Sebetulnya telat ya nulis ini. Draf nya sudah selesai di bulan puasa, tapi karena sibuk kok jadi lupa ya.

Tapi menurutku tidak apa-apa cerita hikmah selama bulan Ramadhan dan kaitannya dengan pembelajaran cucu. Ya inilah kalau sudah jadi eyang, cerita tentang cucu tak ada habisnya.

Sudah dua tahun ini Ara mulai ikut puasa Ramadhan dan sholat Tarawih di masjid dekat rumah. Tahun ini si kecil menginjak umur 7 (tujuh) tahun.

Ara juga ikut sholat Tarawih dan rupanya mendengarkan ceramah dengan tekun yang dilaksanakan setelah sholat Isya berjamaah dan sebelum sholat Tarawih. “Yangti, kalau kita rajin baca Al Qur’an, maka amal kita di bulan puasa diterima Allah swt ya?” Karena saat itu, ceramahnya tentang amalan di bulan puasa, antara lain membaca Al Qur’an.

Masjid di dekat rumah kami melaksanakan sholat Tawarih 8 rakaat dengan setiap kali salam setelah dua rakaat, kemudian disambung dengan sholat Witir 3 rakaat. Waktu untuk sholat Isya sampai dengan sholat Tarawih sekitar 1,5 sampai dengan 2 jam, tergantung panjang pendeknya surat yang dibaca. Jadi saya mengatakan pada Ara, tidak harus ikut sholat terus menerus, boleh istirahat, yang penting tetap berada di sebelah yangti. Tahun ini Ara semakin pintar, tahun lalu masih tergoda untuk mengobrol atau berlarian bersama teman di belakang orang yang sholat.

Yang paling sulit adalah membangunkan si kecil saat sahur. Apalagi jika malamnya dia susah tidur. Akhirnya kami mencoba membuat si kecil boleh makan sahur apa saja, asal ada yang masuk perut dan terakhir minum susu. Dan rupanya hal ini lebih mudah, bagi si kecil makan roti saat sahur lebih mudah dibanding makan nasi.

Suatu sore, saat kami sedang berbuka puasa, si kecil nyeletuk.

“Yangti, ternyata kalau puasa itu enak ya saat  buka puasa. Apa aja yang dimakan enak,” kata si kecil.

“Terus yang nggak enak saat kapan?”, tanya Yangti.

“Yang nggak enak saat puasa dan harus sahur,” jawab si kecil.

Tapi sahur itu perlu nak, agar engkau kuat untuk menjalankan puasa sehari penuh.Dan senangnya, Ara tidak tergoda untuk berbuka puasa saat diajak pergi ke Mal. Dia hanya pengin dibelikan ayam dan kentang goreng untuk buka puasa sore harinya.

Tajil dan makanan untuk berbuka puasa.

Yang menyenangkan, kompleks tempat tinggalku mengajak kami bergantian untuk ikut menyumbang tajil dan makanan untuk berbuka puasa di masjid. Saat waktunya saya menyumbang makanan berbuka dan tajil, Ara ikut menemani. Jam lima sore saya mengajak Ara ke masjid untuk membantu menyiapkan, membagi tajil dan makanan untuk berbuka puasa sekitar 40 orang. Sambil menunggu buka puasa, dipimpin Ustad kami berdoa dan berzikir,  kemudian buka puasa serta sholat Magrib berjamaah. Setelah selesai, saya kembali ke rumah untuk ganti baju, dan kembali ke masjid untuk melaksanakan sholat Tarawih. Rupanya Ara terkesan dengan kegiatan ini, apalagi ibu-ibu yang dapat tugas mengajak Ara ikut serta untuk menata gelas dan piring untuk berbuka.

“Yangti, kita tiap hari ikut buka puasa di masjid saja, kan sholat Magribnya berjamaah, jadi pahalanya lebih besar, ” kata Ara.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s