Jalan-jalan di sekitar Stasiun Toyohashi

Toko di depan stasiun Toyohashi

Hari kedua di Toyohashi badan saya masih lemas, cuma saya harus tetap bergerak. Menjelang siang, saya dan Narp menuju stasiun Toyohashi yang lokasinya tak jauh dari apato Hiro dan Narp.

 

Taman di halaman atas stasiun Toyohashi

Setelah berkeliling toko-toko yang ada di stasiun, melihat-lihat siapa tahu ada yang menarik, serta berfoto ria, kami menuju area terbuka yang terletak di halaman atas stasiun Toyohashi.

Saya melihat beberapa turis asyik berfoto,  burung dara yang biasanya banyak hanya terlihat beberapa, mungkin karena cuaca musim panas masih terasa menyengat, bahkan bagi saya yang sudah terbiasa dengan cuaca panas di Jakarta.

Ekimae Oodori

Memang kelembaban di Toyohashi lebih tinggi dibanding di Jakarta, sehingga keringat mengucur deras. Dari halaman stasiun di atas ini bisa dilihat Ekimae Oodori yang bersih, lebar dan terlihat bukit menghijau di ujung nya.

 

Tully’s Coffee

Kami menuju ke Tully’s Coffee, yang merupakan cafe kesukaan Narp, dia banyak menghabiskan waktu di Cafe ini saat  harus belajar dan menginginkan konsentrasi, belajar di cafe ini

Trem listrik di Ekimae Oodori

menyenangkan apalagi wifinya lancar.

Di Cafe ini juga ada toilet di dalam, yang membuat pengunjung cafe makin betah. Saya melihat wajah-wajah mahasiswa sedang belajar dan membuka laptopnya, diskusi pelan-pelan bersama teman-teman nya.

Toyohashi kotanya kecil, bersih dan asri. Terlihat trem listrik melalui  Ekimae Oodori…. pas menengok si bungsu tahun 2013 saya suka naik trem listrik  yang membelah kota Toyohashi ini sendirian, karena saat itu si bungsu sibuk di lab.

Kecap Bango kok jadi made in Filipina?

Habis makan di Tully’s Cafe, kami menyusuri pertokoan di stasiun, cuaca panas dan lembab. Setelah itu kami mengunjungi Mega Don Quijote (dibaca Don Kihoote) yang luas. Di sini menemukan barang-barang,  yang sebetulnya  asli Indonesia, namun disitu di situ tertulis dari Filipina (kecap bango, indomie dll).

Saya dan Narp mencari kaos bertuliskan huruf kanji untuk anak sulung dan menantuku. Sayang tak menemukan kaos yang cukup untuk Ara (umur 7 tahun).

Yoshiki Restaurant

Capek keliling, kami mulai lapar. Setelah diskusi kami memutuskan mencari makanan yg netral untuk perut, jadi kami menjemput Hiro untuk bergabung makan Tempura di Yoshiki Restaurant.

 

 

 

 

Tempura yang Yummy

Resto tempura ini sejak kenal pertama saya langsung suka, lokasinya persis di bawah jalan kereta api. Jadi, bagi orang Jepang, lokasi di bawah jalan kereta api tak masalah, malam itu restaurant penuh, mungkin karena hari Minggu, ada beberapa keluarga yang sedang makan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s