Mengunjungi Ulu Kasok Kampar di Riau

Di perjalanan pulang dari kota Siak ke Pekanbaru, kami berdiskusi, enaknya mau pergi kemana lagi. Kami masih punya waktu seharian  hari Kamis, tanggal 10 Januari 2019, karena Jumat sore sudah kembali ke Jakarta. Dari beberapa pilihan yang kami diskusikan dengan pak Al (driver), kami sepakat melihat Ulu Kasok Kampar, yang konon mirip dengan Raja Ampat  sehingga oleh orang-orang Riau disebut sebagai  Raja Ampat KW, dan  mirip dengan Puncak Mandeh di Sumatra Barat. Bedanya Puncak Mandeh berada di pinggir laut, sedang Ulu Kasok di tepi danau PLTU Koto Panjang.

Fakultas Pertanian Universitas Riau

Keluar kota Pekanbaru menuju Bangkinang, kami melewati Universitas Riau. Sesuai kebiasaan kami, dalam setiap perjalanan ingin menengok universitas yang berada di kota tersebut. Jadi kami  berbelok memasuki kampus Universitas Riau, melewati jalan yang lebar dan terdapat pohon karet di kiri kanannya.

Kami hanya berkeliling tanpa tujuan sambil melihat-lihat, mampir dan mengambil foto Fakultas Pertanian Riau.

Hutan di lingkungan Universitas Riau

Gedung yang terlihat banyak mahasiswanya adalah gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Semakin dekat terlihat beberapa mahasiswi sedang berfoto sambil membawa buket bunga. Ada wisudakah? Saya dan teman yang ingin foto di situ mendekat dan setelah mengobrol, rupanya mereka baru lulus untuk mendapat persetujuan melakukan Tugas Akhir (thesis). Agak bingung juga kok sudah foto-foto…ya sudahlah situasinya mungkin berbeda dengan zaman saya dulu.

Pintu masuk Ulu Kasok Kampar

Dari Universitas Riau kami melanjutkan perjalanan ke kota Bangkinang, saya pernah ke sini tapi sudah lama sekali dan jauh sekali bedanya. Masuk ke kota Bangkinang terlihat ada masjid Agung yang indah di kiri jalan, dalam hati, sempatkan kami nanti mampir ke sini?

 

 

 

Pemandangan indah di Ulu Kasok Kampar

Perjalanan dari Pekanbaru ke  Ulu Kasok Kampar cukup lama, jarak sekitar 100 km dari Pekanbaru ditempuh 120 menit (Pekanbaru-Bangkinang 90 menit dan Bangkinang-Ulu Kasok 30 menit).

 

Lokasi Ulu Kasok Kampar persis di pinggir jalan Pekanbaru-Padang. Daerah wisata ini baru dibuka 1,5 tahun lalu sehingga alamnya masih asli.  Untuk mencapai puncak Ulu Kasok Kampar, harus jalan kaki menanjak atau naik ojek.  Saya yang takut naik ojek deg-deg an, tapi kalau jalan kaki dan naik ke atas sendirian juga nggak kuat.

Mirip Raja Ampat dan Bukit Mandeh

Apa boleh buat, saya memutuskan naik ojek, pegangan kuat sambil merem dan berdoa. Jalan meliuk-liuk terdiri dari bebatuan yang  licin bercampur tanah ….. benar-benar serem kalau sampai jatuh. Tukang ojek yang tahu saya kawatir bilang,  …”Aman kok bu, kalau ada apa-apa kan kaki saya yang kena duluan.”

Ceria

Sampai di puncak, pemandangan di Ulu Kasok Kampar sungguh indah …… dari atas terlihat keramba-keramba ikan dan kapal-kapal kecil. Jika cukup waktu ada kapal yang bisa disewa untuk melihat pulau-pulau, sayang waktu kami tak banyak. Kami memuaskan diri untuk mengambil foto, dan menikmati pemandangan alam yang indah ini.

Foto sambil pegangan kuat.

Pulau-pulau yang terbentuk berasal dari desa yang ditenggelamkan, dialiri air dari sungai Kampar, untuk membuat bendungan guna keperluan PLTU. Setelah sekian tahun pemandangan desa yang ditenggelamkan menjadi pulau-pulau yang indah. Dari puncak Ulu Kasok, saya melihat ke seberang, terlihat jejeran bukit-bukit, bis dan kendaraan pribadi ramai melewati jalan yang berbelok-belok menuju kota Padang.

Ketemu pak Dodi di RM Tapak Lapan Baru

Dari Ulu Kasok Kampar, kami kembali ke Bangkinang untuk makan siang di RM Tapak Lapan Baru ….. yang menyediakan masakan Jamin (singkatan Jawa Minang).

 

 

 

Asam Pedas Baung yang mak Nyuuz

Lodehnya sungguh sedap, yg terkenal di restoran ini adalah masakan ikan asam pedas Baung. Sayang saya tak berani makan pedas, jadi hanya berani mencoba sedikit. Di restoran ini ketemu teman-teman dari BRI Bangkinang yang baru saja selesai acara.

Mungkin dari salah satu staf BRI ada yang menelpon Pak Dodi, Pemimpin Cabang BRI Bangkinang, karena tak lama kemudian pak Dodi menghampiri kami yang baru akan makan. Pak Dodi mengundang kami mampir di kantornya, sekalian untuk sholat di sana. Jadi akhirnya kami mampir ke BRI Bangkinang untuk ikut sholat di mushola nya.

Perpustakaan Islamic Center di Bangkinang

Setelah mengucapkan terimakasih telah menawari kami mampir, kami kembali ke Bangkinang melewati masjid Agung  tadi. Kami sempatkan untuk mampir sebentar, mengambil foto-foto. Badan terasa capek, dan kok ya sudah kangen pulang,  jadi kami langsung kembali ke Pekanbaru.

Jalan dari Bangkinang ke Pekanbaru macet sekali, rupanya banyak para pegawai yang rumahnya di Bangkinang bekerja di Pekanbaru, atau sebaliknya. Jalan raya penuh dengan mobil pribadi, sudah saingan dengan Jakarta deh macetnya, apalagi kami melewati perempatan jalan yang lampu merahnya mati. Lengkap sudah kemacetan yang terjadi.

Akhirnya sampai juga ke kota Pekanbaru, mampir dulu di Ayam Suharti, agar sampai hotel kami sudah tidak harus keluar lagi untuk mencari makan malam. Makan di hotel biasanya kurang pas untuk perutku, jadi kalau sempat memang beli makanan yang sesuai di luar hotel. Masuk kamar hotel, jam sudah menunjukkan pukul 7.00 malam, kami bergantian mandi, dan setelah sholat, makan rame-rame sambil mengobrol … rupanya kami semua punya kesan yang bagus terhadap Ulu Kasok Kampar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s