A678- Menikmati pemandangan indah teluk Ciletuh dari Bukit SOCA

Penginapan Bukit SOCA dilihat dari jalan raya

Selama acara mengunjungi  geopark Ciletuh, A678 menginap di Penginapan Bukit SOCA.  Penginapan ini terletak di bukit,  dari penginapan Bukit SOCA, kami disuguhi pemandangan sawah dan ladang  yang terhampar luas,  bukit dan teluk Ciletuh yang melengkung dengan air berwarna biru.

 

 

Teluk Ciletuh, diambil dari depan kamar penginapan Bukit SOCA.

Angin dari laut membuat cuaca tak terasa panas, walau saat ini musim kemarau. Awalnya memang agak syok, saat kami harus memasuki penginapan yang jalannya bertingkat ini, syukurlah petugas penginapan sigap membantu membawa barang sampai ke depan kamar.

 

 

Bersantai di Bukit SOCA

Namun begitu mencapai lobby, kami disuguhi pemandangan yang sungguh indah,  langsung semua mengambil foto dari berbagai sudut yang dirasa indah.

Rombongan A678 plus bersama mas Andri (berjongkok baju abu-abu gelap)

Penginapan ini terdiri dari beberapa saung dengan ornamen bambu, kamar mandi terpisah, jadi kami harus naik turun tangga dari batu. Setiap lantai dari satu ruangan ke ruangan lainnya harus melalui tangga bertingkat, entah cuma dua tingkat atau kadang lebih dari sepuluh tingkat.

 

Kamar berbentuk saung

Awalnya kami semua berkeluh kesah, walau Tinoek sejak awal  sudah memberi tahu, kalau kami akan tidur di penginapan yang kamar mandinya  terpisah dari kamar tidur dan mesti  turun melalui tangga. Bayangan saya seperti di Tanakita, Situgintung, walau kamar mandi terpisah dari kemah tempat kami menginap, tapi turunnya tak terlalu curam.

Saat itu mas Andri, owner Bukit SOCA, menawarkan agar kami  mencoba dulu menginap di kamar no 7 sampai dengan 11 yang letaknya melalui tangga ke bawah jika dari ruang makan, besok bisa pindah ke saung lain kalau tidak kerasan.

Foto rame-rame depan kamar 7 sd 11

Kami langsung makan siang dulu, makanan yang sederhana, namun terasa nikmat diiringi semilir angin dari laut.  Selesai makan kami sholat dulu ….  ternyata kamar kami saling berdampingan. Mulai muncul kegembiraan kami, teringat masa-masa di asrama waktu kuliah dulu. Apalagi persis dari depan kamar pemandangan nya sungguh menakjubkan. Alhamdulillah ya Allah, saya diberi kesempatan sampai ke sini dan menikmati pemandangan indah ini.

Awalnya saya tidak tahu bahwa yang mengantar makanan, membawa piring kotor ke dapur, serta ikut menyapu lantai penginapan adalah mas Andri, yang merupakan pemilik penginapan Bukit SOCA.  Pada keesokan harinya, mas Andri bersedia mengantar kami  sebagai guide  menyusuri pulau Kunti dengan perahu, mengitari batuan purba yang diselimuti hutan suaka margasatwa Cikepuh, yang dipercaya masih ada habitat macan tutul dan owa Jawa di pulau tersebut.

Mas Andri juga menemani kami melihat batuan purba yang berada di air terjun Cimarinjung dan dikenalkan dengan wak Dadih, yang selama puluhan tahun merawat dan membagi air untuk sawah-sawah sekitar yang terbentang luas, serta menjaga Curug Cimarinjung sejak tahun 1970 an.

Musholla

Hari ketiga mas Andri mengantar kami menikmati curug Sodong, menjadi fotographer untuk para nin-nin yang masih suka bergaya macam-macam ini, bahkan ikut menikmati minum air kelapa muda dan makan rujak mangga.

 

 

 

Kami semua sudah berusia di atas 65 tahun, banyak sekali kejadian yang lucu. Saat jam tiga malam, saya terbangun untuk sholat Tahajud. Pelan-pelan saya menggerakkan kaki dan tangan, kemudian  menuju kamar mandi yang ada di lantai bawah. Saat menuruni tangga batu, ketemu dengan teman yang tidur di kamar lain, dan sudah selesai mandi….. Apa? Mandi jam setengah tiga pagi? Mungkin maksudnya agar tak berebut mandi lagi. Ada juga sudah mandi dan naik ke kamar, dan baru ingat…belum wudu..terpaksa turun lagi ke bawah.

Jalan menanjak dari jalan raya menuju Bukit SOCA

Saya pernah mengalami sudah mengguyur air ke badan, lupa belum membawa handuk. Terpaksa  memakai baju untuk mengambil handuk, sehingga bajunya basah kuyup.

 

 

 

 

Ngariun di Bukit SOCA

Namun kegembiraan kami tak berkurang, bersama-sama teman, yang kebetulan punya minat sama, membuat kami selalu bersenda gurau, tak terasa capeknya naik turun tangga. Sampai acara berakhir, kami tidak pindah kamar.

Makanan khas yang disajikan di bukit SOCA adalah ikan, rasanya sungguh sedap karena baru diambil dari tangkapan nelayan di laut. Malam terakhir di Bukit SOCA, kami menyanyi bersama, berkaraoke walau dari handphone, namun kami semua menari dan menyanyi. Mas Andri sangat terharu melihat, para mantan mahasiswa yang usianya tidak muda ini sangat bersemangat, walau jalannya tak sekuat dulu, namun tetap semangat mendaki tanpa mengeluh.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s