Minggu pertama Baby D di apato

Adanya dedek bayi, membuat jadual harian orangtua mesti menyesuaikan, kecuali Hiro yang tetap harus ke kantor. Walau baby D tidak rewel, tapi mengenali bahasa bayi susah juga…tiap nangis, kemungkinan nya adalah: lapar, pipis, pup. Padahal ada kemungkinan-kemungkinan lain. Tapi yang utama ya tiga hal tadi.

Bak mandi dengan alas yang menaik, untuk memudahkan menyangga kepala bayi.

Saya berusaha meminimalisir menggendong baby D, jangan sampai bayi jadi rewel saat eyangnya pulang kampung, apalagi di siang hari, nantinya Ani sehari-hari sendirian dengan bayinya, kecuali saat Hiro libur. Memang benar, orang-orang tua selalu bilang, jangan sampai si bayi bau tangan, maksudknya si bayi karena sering digendong jadi suka digendong.

 

Tapi membiarkan bayi menangis lama juga tidak tega, apalagi antara kamar di dalam apato tanpa sekat, dan ruang diantara penghuni satu dan lainnya dinding penyekatnya tidak kedap suara. Jangan sampai tetangga kiri kanan ikut tak bisa tidur. Lha alarm bel tetangga sebelah sering kedengaran, yang membuat anakku hafal kapan jam alarm akan berbunyi. Selama tinggal di apato sebulan di Toyohashi, ada jam tertentu tetangga yang tinggal di pojok berangkat kerja (?) di pagi-pagi sekali, karena bersamaan dengan saya mau sholat Subuh.

Kehebohan lain adalah memandikan bayi. Sesuai cara mandi yang diajarkan di RS Kota Toyohashi, bak mandi diisi air hangat. Baby D dicemplungkan ke air dengan posisi setengah duduk. Kemudian mamanya bayi akan menyabuni seluruh tubuh bayi. Bayi dibilas dengan air yang ada di bak, kemudian dibilas dengan air bersih yang disiapkan di gayung. Kemudian bayi diangkat, dikeringkan dengan handuk, langsung dikasih popok dan baju.

Yang jadi problem, tangan ibu harus kuat untuk menjaga leher dan kepala bayi, sedang tangan anakku kecil. Syukurlah Hiro menemukan bak mandi, yang alasnya menaik (tidak datar), dari plastik dan ada sandaran punggungnya. Dan yang menyenangkan, baby D suka dengan acara mandi, dia tidak rewel bahkan menikmati mandi, ini yang membuat Ani semangat memandikan bayinya. Memang persiapannya agak ribet, maklum apato kecil, dan dua ruangan ada karpet dan tatami, yang tak memungkinkan memandikan bayi disitu. Dulu sekali, saya memandikan anak-anakku di kamar tidur (jangan ditiru ya)…bak mandi di bawa ke kamar, karena saya takut terpeleset jika memandikan di kamar mandi. Saat bayi sudah bisa duduk, baru dimandikan di kamar mandi.

Sarapan sederhana: ikan bakar dan orak arik telor

Kenapa persiapan ribet? Karena mesti menyiapkan back up untuk baju ganti. Pernah baru saja saya selesai mandi dan dipakaikan baju…ehh baby D pup dan dilanjutkan dengan pipis…wahh heboh deh. Terpaksa dibersihkan lagi dan diganti bajunya.

Saya bawa minyak telon dari Jakarta, tapi di sini tidak diajarkan untuk memberi minyak telon dan membedaki badan bayi. Dan kuatir juga jika terlanjur cocok dengan minyak telon, kalau habis repot. Yang penting bayi tenang, minum ASI nya makin banyak, dan habis mandi tidur nyenyak.

 

Ikan mackarel, sapo tahu, mini tomato. Ditambah teh panas tongtji…hmm yummy

Yang lain adalah soal memasak. Hiro kayaknya kalau nggak memasak, nggak happy. Jadi Hiro dibiarkan memasak pada malam hari. Jika pagi hari, masak makanan yang mudah dimasak. Saya baru menyumbang masakan telur dadar, orak-arik telur dan semur daging kentang. Hiro ikut makan masakannya, entah cocok apa tidak.

 

Steak ala Chef Hiro…uenakk

Di Valor juga dijual masakan matang, yang nanti tinggal dipanaskan. Masakan yang kami suka adalah ikan bakar dari ikan ” yellow tail“, dan “mackarel“…. saya tanya Hiro, apa sih bumbu ikan bakar ini? Ternyata cuma garam n merica sedikit, langsung dibakar….tapi rasanya benar-benar  yummy, mungkin karena ikan nya segar.

Buah yang lagi musim selain pisang (rata-rata diimpor dari Filipina), adalah melon. Buah melon ini dibudidayakan di rumah kaca, dan melon dari Hokkaido manis sekali. Saya makan melon hijau yang ratingnya 13 saja sudah manis sekali, ternyata melon oranye dari Hokkaido yang ratingnya 15 manis nya luar biasa. Jadi penasaran cara mengukur ratingnya. Yang menarik lagi adalah kue yang dikemas dengan berbagai cara. Sebetulnya saya penasaran dengan kue-kue tradisional Jepang, cuma nggak berani beli karena setiap kali ke Valor saya sendirian, dan sudah beberapa kali salah beli.

 

Satu pemikiran pada “Minggu pertama Baby D di apato

  1. Mbak Ani, langsung terampil memandikan putranda ya Ibu. Tersenyum saat membaca minyak telon khas bayi.

    Awalnya kagok juga mbak Prih…jadi ikut kursus berdua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s