Mencoba memasak untuk sehari-hari

Andai disuruh memilih, memasak atau menjahit, saya akan memilih menjahit. Rasanya memasak adalah pekerjaan yang cukup sulit buatku, selain rasa masakanku sangat biasa, juga badan rasanya gerah. Jika si mbak pulang kampung dan saya harus memasak untuk anak-anak….wahh tiap habis memasak, saya mandi dan cuci rambut…jadi cucian bertambah drastis. Saya salut dengan orang yang hobi memasak.

Jadi memasak ini merupakan  ilmu yang betul-betul kurang saya kuasai. Dibesarkan oleh ibu pekerja yang aktif berorganisasi, memasak bagi keluargaku yang penting sehat dan praktis. Bahkan saat saya kecil sampai remaja, jika musim ujian, yang penting masak nasi, lauknya bisa dibeli.

Bayangkan saat saya mahasiswa dan harus tinggal di APIPB (Asrama Putri IPB),  penghuni dalam satu kamar bergiliran masak untuk seluruh penghuni asrama yang berjumlah 50 orang. Jenis yang dimasak: sayur, tempe/tahu, daging/telor/ikan, buah dan sambal (ada dua jenis sambal, sambal terasi dan bukan terasi). Apa nggak ada bibi asrama? Ada dong ….. total ada 11 bibi dan satu penjaga (laki-laki). Bibi untuk bersih-bersih kamar ada 8 (delapan), bibi yang khusus untuk mencuci sprei 1 (satu), bibi yang membantu memasak ada 2 (dua). Sedang tugas pak Sukidi, selain jaga malam , juga memasak nasi untuk pagi hari, serta jika ada listrik mati atau hal-hal lain yang memerlukan tenaga laki-laki.

Kalau begitu, kenapa harus masak bergiliran? Karena bibi tukang masak baru datang jam 6.30 pagi, sedang kami mulai kuliah tepat jam 7 pagi. Bibi biasanya hanya membantu saja karena jam 6.30 pagi kami harus berangkat kuliah. Dan susahnya teman sekamarku, alm Uni Zalidar Jacub yang asli Minang, pintar memasak. Kebayang kan, betapa stres nya dia punya teman sepertiku yang kikuk urusan dapur. O, ya kalau pas giliran belanja untuk memasak, belanja nya bisa 3 (tiga)  jam di pasar Bogor…pulang nya satu bemo penuh belanjaan kami untuk keperluan masak makanan 2 (dua) hari. Ada hikmahnya sekamar sama Uni, minimal saat awal menikah saya bisa memasak seperti yang selama ini dimasak oleh kamar M (kamarku).

Sapo tahu buatan Hiro

Nahh menantuku yang dari Jepang pinter masak. Dia udah bisa masak masakan Indonesia yang rasanya udah persis aslinya, antara lain: pepes ikan, ayam bumbu rujak, semur daging, kare, sop, soto ayam, sapo tahu. Adanya dedek bayi membuatku harus terjun ke dapur juga, karena saya nggak tega lihat Hiro jempalikan ngurus dedek dan harus selalu masak.

Orak-arik telor

Walau keder, akhirnya saya terjun juga ke dapur…masakan pertamaku “ca pocai” (sayang lupa difoto), kemudian pagi besoknya dadar telur…. selanjutnya orak-arik telor. Hahaha…masakan sederhana kok dibanggakan. Bagaimanapun itu suatu achievement lho….dan Hiro ikut makan masakanku, entah apa yang dipikirkan…semoga nggak terlalu kacau. Buat anakku, komentarnya ” masakan ibu enak kok”….mungkin agar ibunya semangat…hahaha.

Begitulah, saya bergantian memasak  dengan Hiro. Saya membuka kulkas, menemukan daging, kemudian saya lihat ada kentang. Jadi saya kemudian memasak semur daging kentang. Bawang merah diganti dengan bombay, karena Ani nggak punya persediaan bawang merah. Karena bumbu dapur seperti laos, salam, cabe merah, ditaruh di freezer, maka terpaksa saya menunggu agak lama agar laos bisa diiris. Sebetulnya Ani sudah dibawakan temannya layah (apa ya bahasa Indonesia nya) dan uleg-uleg, tapi saya malas menguleg, jadi pilih masakan yang bumbunya cuma diiris saja. Senang melihat anakku makan dengan lahap.

Tumis buncis tahu

Hiro tanya, “ibu mau dibelikan buncis?” Tentu saja saya menjawab mau, karena di Valor supermarket nggak selalu ada buncis, sayur yang selalu ada adalah wortel. Jadi bisa ditebak, selanjutnya saya buat oseng-oseng buncis dan wortel. Dan ternyata Hiro suka sekali masakanku oseng-oseng buncis dan daging cincang. “Oishi“, kata Hiro….Wahh serasa sudah lulus ujian.

Pas ada tempe, yang harganya sama dengan harga daging, saya mencoba membuat kering tempe. Karena bagi orang Jepang, minyak sisa tak bisa dibuang sembarangan, harus dicampur dengan tepung, kemudian baru dibuang ke tempat sampah, saya menggoreng tempe dengan minyak secukupnya…. artinya minyaknya hanya sisa sedikit, dan cukup untuk memasak bumbunya sebelum dicampur dengan tempe dan diberi kecap manis. Ini masakan yang disukai anakku, sehingga selama berada  di Toyohashi, saya membuat kering tempe dua kali.

Semur daging, kentang, wortel.

Sebelum pulang ke Jakarta, saya sempat memasak semur daging kentang….betapa bahagianya saat anakku kirim WA, bahwa Hiro menanyakan resepnya apa. Saya percaya, Hiro masakannya akan lebih enak dibanding saya.

Pas draf tulisan ini dibuat, baby D bolak balik  minum susu, sehingga mamanya klenger. Saat jam 9 malam, kami baru bisa menikmati makan malam, mengobrol sambil menikmati pisang goreng buatan Hiro.

 

 

Satu pemikiran pada “Mencoba memasak untuk sehari-hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s