Bogor Heritage Trail: Berkunjung ke Klenteng Phan Ko Bio (Vihara Mahabrahma)

Pintu masuk Vihara Mahabrahma.

Saat orde baru, nama Klenteng tidak diperbolehkan, sehingga klenteng Phan Ko Bio yang usianya sudah ratusan tahun ini, diubah menjadi Vihara Mahabrahma. Lokasi Vihara Maha Brahma terletak di tengah Pulo Geulis. Suasana toleransi antar umat beragama sangat terasa di Vihara ini.

Tempat untuk sholat bagi kaum muslimin.

Saat ada acara keagamaan bagi kaum muslim, dapat diadakan di Vihara ini, yang aula nya cukup luas. Acara peringatan hari Maulud Nabi, Iedul Fitri, ceramah oleh salah satu Ustad kondang pernah diadakan di Vihara ini, dan dihadiri oleh banyak umat yang berbeda keyakinan. Di sini ada tempat bagi kaum muslim untuk menunaikan sholat, ada sajadah dan mukena yang disiapkan.

Petilasan dari karuhun.

Setiap minggu sekali juga diadakan pengajian. Hal itu dilakukan lantaran terdapat petilasan dan makam tokoh besar Islam di Vihara ini“,  penjelasan pak Bram yang mendampingi kami mengelilingi Vihara Mahabrahma ini. “Perbedaan itu harus dihormati, dan tidak harus disatukan, karena perbedaan itu indah“, kata pak Bram lagi. Sampai saat ini tidak pernah terjadi konflik antar penduduk yang beda keyakinan di wilayah Pulo Geulis ini.

Depan tempat peribadatan.

Di aula depan terlihat batu megalitikum yang sangat besar, yang diyakini berada di Pulo Geulis saat terjadi banjir bandang sungai Ciliwung,  saat  terjadinya letusan Gunung Gede, yang mengakibatkan sungai Ciliwung tak dapat digunakan untuk pelayaran kapal. Sebagaimana Vihara Dhanagun, di depan meja tempat peribadatan, terdapat dewa Bumi yang diapit oleh dewi Kuan Im, dan dewa lainnya yang menaungi keamanan.

Alat untuk melakukan sembahyang, lilin bersifat menerangi, asap hio bersifat membersihkan.

Pembangunan klenteng tidak bisa sembarangan. Klenteng yang dibangun di sini karena dekat air, yaitu sungai Ciliwung, serta daerah di Pulo Geulis ini dipercaya sebagai petilasan dan rekreasi keluarga kerajaan Pajajaran, karena ditemukannya batu megalitikum.

Karuhun lokal

Dalam budaya Megalitikum, batu itu berfungsi sebagai menhir atau tempat untuk berdoa kepada leluhur. Hingga kini, masih banyak orang berdatangan untuk berdoa.

Di ruang belakang,  terdapat makam yang diyakini sebagai Uyut Gebok, orang yang membangun kampung Pulo Geulis. Di dekat makam dan batu inilah, tulisan “Allah” dalam bahasa Arab digantungkan.

Menurut  pak Bram, di tempat ini para peziarah yang beragama Islam kerap menjalankan salat. Karena itu, pihaknya menyediakan sajadah dan mukena.

Petilasan nenek moyang orang Sunda.

Di Vihara ini ada tempat wudu di samping kelenteng. Di sini juga ada petilasan Jayadiningrat, leluhur Pulo Geulis, serta ada patung Harimau, yang merupakan budaya lokal dari suku Sunda.

Kami mengobrol sambil dijamu makan kripik dari singkong, yang disebut sermier (di Jawa), serta teh hangat.

Foto bersama pak Bram dan pak Chan (?).

Jendela dibelakang tempat kami mengobrol berwarna warni dengan bentuk segi delapan, sehingga kami ingin foto bersama pak Bram untuk kenangan.

Tak terasa hari semakin siang, kami segera pamit, dan siapa tahu ada kesempatan berkunjung lagi. Pak Bram meminta salah satu petugas untuk mengantar kami keluar dari Pulo Geulis.

Mungkin kalau tidak diantar kami bakal kesasar di jalan, karena jalannya berkelak-kelok seperti labirin.

Setelah melewati jembatan, terdapat jalan lurus yang ternyata menuju jalan Oto Iskandar Dinata, tepat di sebelah Kebun Raya Bogor dekat Tugu Kujang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s