Diomedia: Obrolan Menulis Memoar Inspiratif

Ini kedua kalinya saya ikut mengobrol lewat google meet bersama teman-teman para memoaris, belajar bersama dan saling mensupport agar kami bisa menulis dengan baik dan bermanfaat untuk orang lain. Kegiatan yang sungguh positif menurut saya, dan setelah berkenalan dengan para anggotanya, kali ini yang hadir 24 orang….woo latar belakang anggota benar-benar mengesankan.

Saya mengenal Komunitas Menulis Memoar ini karena diajak teman sesama blogger (walau saya sudah sangat jarang menulis). Dan ternyata teman-teman saya kelas berat euy …ada dokter ahli paru yang masih aktif bekerja di RSCM, ada jurnalis,  ada pustakawan, ada dosen, guru dan ahli pertanian…wahh banyak lagi, mungkin nanti saya akan makin mengenal beliau-beliau ini. Saya juga mengajak teman-teman ikut (biar ramai dan punya teman yang sama-sama baru), yaitu bu Ninik (sayang bu Ninik sedang isoman, cepat kembali sehat ya bu). Dari teman kuliah, ada mas Iwan, senior saya dan Iswandi Anas Chaniago, teman seangkatan.

Sejak tahun 2017, Diomedia telah menerbitkan 50 buku, prestasi yang bagus menurut saya, penjualan pada umumnya dilakukan secara daring. Dari obrolan ini, saya baru memahami bahwa menulis memoar merupakan proses “ healing”, yang antara lain digunakan oleh psikolog untuk menyembuhkan trauma.

Penjelasan mas Diyo, owner dan founder penerbit Diomedia, saya coba tulis di sini, agar bermanfaat bagi teman-teman yang ingin mulai menulis memoar, sebagai berikut:

Kita mengenal memoar yang menginspirasi, antara lain: Catatan Harian Anne Frank, Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie, Laskar Pelangi dan Multatuli yang Membunuh/Mengakhiri Kolonialisme.

Jadi, secara legacy: a. Menulis memoar hakikatnya menulis untuk diri sendiri. b. Membuka kenangan dan fakta hidup yang pernah terjadi, c. Memasuki ruang privat dalam diri. d. Ketika menuliskannya tentu dengan sepenuh jiwa. Jadi, sebetulnya memoar adalah kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau menyerupai autobiografi yang ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang tokoh yang berhubungan dengannya. Dan merupakan catatan dan pengalaman hidup seseorang.

Bentuk memoar bisa berupa: prosa, surat, puisi dan esai.

Bagaimana langkah pertama menulis memoar?

  1. Tentukan tema khusus.
  2. Mengawali dari mana saja.
  3. Sudah memikirkan/merencanakan akhir dari memoar yang akan ditulis.
  4. Termasuk menyiapkan foto-foto, dokumen beserta keterangannya.
  5. Eksplorasi perasaan ketika menulis.
  6. Rasa penggerak menuangkan memoar.

Bahan menulis memoar adalah fakta dan kenangan.

Resep menulis:

“ Menulis, jika dilakukan secara benar, tak ada bedanya dengan kegiatan bercakap-cakap” (Laurence Sterne 1713-1759, novelis Inggris).

Isak Dinesen, penulis Denmark menceritakan, awal mulanya cerita:  Mula-mula saya merasakan dorongan kuat untuk menulis sebuah cerita. Kemudian datanglah karakter-karakter, dan merekalah yang membangun cerita. Dari gerak karakter-karakter itu, munculah plot. Jika segalanya telah siap, tema, karakter dan bangunan cerita, maka Tuan plot akan datang.

Delapan Langkah menulis memoir oleh Linda Joy Myers:

  1. Memahami alasanmu menulis.
  2. Lakukan penelitian.
  3. Psikologi menulis memoar.
  4. Bagian gelap.
  5. Menyusun cerita lama.
  6. Terbitkan atau tidak terbitkan.
  7. Kedahsyatan menulis yang menyembuhkan.

Dari uraian mas Diyo, saya memahami bahwa ternyata ada Himpunan Penulis Memoar:

  1. National Association of Memoir Writers, USA. (Linda Joy Myers is the President)
  2. Komunitas Menulis Memoar, berkantor di Penerbit Diomedia, Surakarta.

Obrolan dilanjutkan dengan tanya jawab, sungguh mencengangkan dan mengharukan ternyata banyak teman yang selama ini banyak berkecimpung menulis ilmiah, ternyata ingin mulai menulis cerita ringan namun bisa menginspirasi pembacanya. Saya makin semangat, semoga sayapun ketularan bisa menulis…yang penting semangat dulu untuk memulai. Terimakasih teman-teman semua, semoga  pertemuan kita secara daring ini banyak manfaatnya.

Catatan: Karena keasyikan mendengar cerita mas Diyo, jadi lupa memotret.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s