Obrolan Buku 13 Desember 2021- “Kyaiku dan Hidupku: Memoar Keteladanan Berakhlak dan Berilmu”

Buku ini berisi tulisan 19 memoaris. Sebagai moderator kali ini adalah gus M. Badruz Zaman, yang telah menerbitkan buku “Potret Moderasi Pesantren”. Gus Badruz mengemukakan, dalam perkembangan ilmu pendidikan dan pengajaran, saat ini telah banyak beredar buku-buku tentang cara belajar, buku psikologi belajar, sehingga sosok guru agak berkurang peranannya. Sistim pendidikan berkembang makin besar dan kompleks. Namun hal ini, berbeda antara cara santri dalam menghadapi gurunya, dengan mahasiswa menghadapi pembimbingnya. Cara penghormatan santri, dikenal dengan istilah taqdim, yang berarti mendahulukan kepentingan guru masih lekat di pesantren. Kemungkinan, karena hal ini disebabkan di universitas umum lebih banyak diajarkan tentang ilmu, sedang di pesantren lebih banyak diajarkan tentang taqdim.

Selanjutnya ustadz Ali Azhar, founder @catatan_azhar, penulis yang telah menerbitkan buku motivasi tentang Islam,  memberikan tausiah sekitar 10 menit, singkat tetapi padat dan sangat bermakna. Tausiah ustadz Ali Azhar sebagai berikut:

Cover Buku “Kyaiku & Hidupku”

Seiring berkembangnya agama Islam di Nusantara, maka hampir di setiap daerah pasti ada pemuka agamanya. Para pemuka agama tersebut disebut dengan: a. Kyai (Jawa), b. Ajengan (Sunda), c. Buya (Sumbar), Teungku (Aceh), Bendoro (Madura) dan Tuan Guru (Kalimantan). Sebutan untuk Kyai sangat beragam.

Seorang ulama besar asal Rembang, yaitu KH Musthofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus,  mendefinisikan bahwa kyai adalah mereka yang memandang umat dengan kacamata kasih sayang. Definisi ini memang sederhana, tetapi begitulah kyai yang seharusnya. Mereka berdakwah dengan cara mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, mendidik bukan menghardik, membina bukan menghina dan mampu menyikapi argumen dengan sentuhan. Itulah Kyai. Kemampuan memandang umat dengan penuh kasih sayang, menjadikan para kyai sangat fleksibel di masyarakat. Fleksibel di sini dalam arti keluwesan para kyai bisa kita jumpai dimana-mana.

Maka ada beberapa istilah:

  1. Kyai Tandur– kyai yang mengasuh pondok pesantren dan ngopeni para santri, menanamkan ilmu dan budi pekerti dengan penuh kasih sayang dari lubuk hati.
  2. Kyai Tutur– yaitu kyai yang pinter nutur-nutur/dakwah. Melalui lisannya, mereka berdakwah dari masjid ke masjid, dari podium ke podium, dari daerah ke daerah, di tengah masyarakat luas. Kyai ini disebut juga Mubaligh atau Dai.
  3. Kyai Sembur-yaitu kyai yang bisa menyemburkan solusi-solusi bagi setiap permasalahan, sehingga menjadi rujukan bagi orang-orang yang berkonsultasi. Mungkin kalau di desa-desa, Kyai Sembur itu semacam kyai ahli suwuk atau ahli hikmah, tetapi mereka bukan dukun.
  4. Kyai Catur-yaitu kyai yang terjun ke dunia percaturan politik. Mereka berpolitik bukan untuk mencari popularitas, akan tetapi semata-mata mengawal peraturan agar tetap senada dan seirama dengan kemaslahatan masyarakat.
  5. Kyai Wuwur– yaitu kyai yang menjadi rujukan hukum oleh para kyai lainnya. Mereka adalah ahli fatwa, referensi hukum Islam yang berjalan dan pengayom umat.

Kemudian Ustadz Ali Azhar melantunkan syair, yang dikenal sebagai singiran. Singiran kebanyakan berisi tentang nasihat-nasihat keislaman yang dilagukan. Dan yang membuat saya tercengang, rupanya singiran yang dilagukan oleh Ustadz Ali Azhar berbahasa Sunda, seperti saya kutip di bawah ini:

Sila anu kalima    # Keadilan sosial na

Rata ka miskin faqirna    # Ngarasa subur makmur na

Rakyat hirup subur makmur   # Ka Pangeran loba syukur

Sakabeh pemimpin jujur    # Jauh tina lampah lajur

Jadi lamun Pancasila    # Diamalken nyata-nyata

Nagara aman santosa    # Jauh tina huru hara

Di nagara Pancasila    # Agama Islam nu mulya

Hidup subur laluasa    # Teu aya harunganana

Bebas teu aya batasna    # Ngajalan keun syari’atna

Bebas da’wah jeung tabligna    # Teu aya halangana

Lamun aya nu ngahalang    # Kana kamajuan Islam

Peta kitu jelas terang    # Anti Pancasila memang

Eta musuh Pancasila   #Nu dicela ku nagara

Buku Kyaiku dan Hidupku merupakan sebuah memoir keteladanan berakhlak dan berilmu yang berisi himpunan tulisan 19 memoaris Indonesia. Rangkai demi rangkai pengalaman yang diukir dengan indah oleh masing-masing penulisnya membuat kita betah membaca buku ini. Para penulis mencoba memutar slide-slide kenangan bersama para kyai, ibu nyai, ustadz dan ustadzah mereka. Kita para santri memang harus memuliakan para kyai. Kenapa? Alasan indahnya teruntai dalam bait syair kitab Alala”

“Dene guru iku wong kang ngitik-itik nyowo. Dene nyowo iku den srupa ‘ke koyo suco”

Kyai adalah orangtua yang mendidik rohani kita, sedang rohani kita sangat berharga bagaikan mutiara.

Baginda Nabi Muhammad saw bersabda

“Orangtua ada tiga: Yang pertama, orangtua jasmani yakni yang mengandung, melahirkan dan mengasuhmu. Yang kedua, mertua yakni orangtua yang dengan ihklas menikahkan anaknya dengan dirimu. Dan yang ketiga adalah para guru/kyai yang mengajarkan ilmunya kepadamu. Itulah sebaik-baiknya orangtua.”

Maka, berbesar hatilah kita, semoga dengan diterbitkannya buku Kyaiku ini menjadi amal jariyah bagi kita sekaligus bukti kecintaan kita kepada para kyai. Karena termasuk bukti cinta adalah selalu ingat kepada orang yang dicintai. Kata cinta kepada para kyai artinya kita tidak akan pernah melupakan jasa-jasa nya dan rekam jejak kyai kita akan abadi di dalam buku ini.

Ustadz Ali Azkar melagukannya dengan jernih. Semoga setiap penulis yang menyumbangkan tulisan pada buku “Kyaiku dam Hidupku” mendapat berkah dari Allah swt. Aamin. (Tulisan dikutip dari bahan tausiah Ustadz Ali Azhar).

Selanjutnya diadakan diskusi dengan para memoaris, masing-masing penulis menceritakan prosesnya saat menulis, apa yang dirasakan saat melakukan proses menulis, dan latar belakang kenapa tulisan tersebut dipilih. Diskusi ini sangat menyenangkan, apalagi gus Badruz sebagai moderator sangat piawai mengarahkan diskusi menjadi ajang pembelajaran yang menarik. Apalagi bagi saya, yang bukan berasal dari kalangan pesantren, diskusi ini membuka wawasan saya untuk lebih mengenal pesantren. Tanggapan gus Badruz atas tulisan saya menyejukkan hati, karena sebetulnya tidak ada kata terlambat untuk belajar. Saya sungguh bersyukur dikaruniai usia yang memungkinkan saya  untuk terus belajar memahami Islam.

Terimakasih Diomedia yang telah menyelenggarakan festival memoir dengan moderator dan pembicara yang bagus. Hasil diskusi malam ini sungguh meresap di hati.





Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s