Obrolan Buku 15 Desember 2021: “Seni Berkompromi dengan Keterbatasan”

Mas Ngadiyo, sebagai moderator, mengawali menjelaskan siapa Era Chori Christina. Era menulis sejak kecil, awalnya menulis di diary. Kemudian mulai menekuni menulis dengan serius saat mulai ikut berkompetisi menulis di platform menulis online di Hipwee. Ada beberapa artikel Era Chori yang terbit di platform Hipwee. Di platform ini juga ada kelas menulis tentang buku inspiratif.

Era Chori Christina, dengan bukunya “Seni berkompromi dalam Keterbatasan”.

Era Chori tetap menulis walau peralatannya sangat tidak memadai. Era menulis di sela-sela pekerjaannya sebagai penjaga toko. Oleh atasannya, Era diperbolehkan meminjam komputer jika telah selesai jam kerjanya, untuk menulis. Naskah pertama dan telah diterbitkan oleh Diomedia adalah buku tunggal dengan judul ” Seni Berkompromi dengan Keterbatasan”

Selanjutnya Era bercerita bagaimana dia dibesarkan oleh keluarganya. Ada kalimat Era Chori yang menarik untuk dikutip ” Kita tidak bisa memilih dilahirkan oleh siapa, dari keluarga broken home, yang harus berjuang keras sejak kecil. Bagaimana meraih impian dengan keterbatasan yang ada.” Belum lagi tentangan dari keluarga, hobi kok menulis? Apa bisa menjadi penghasilan? Era Chori sekolah sampai lulus SMA, karena tidak ada dana untuk melanjutkan kuliah. Era kemudian menjadi penjaga toko, di sela-sela kesibukannya ini, Era bisa meluangkan waktunya untuk menulis.

Kapan Era Chori produktif menulis? Era menjawab, “Saya produktif menulis saat awal-awal bergabung dengan Hipwee, pada tahun 2017 dan 2018. Sejak dipertemukan dengan mas Ngadiyo dari Diomedia, yang menawari Era Chori untuk menulis buku tunggal, Era makin semangat menulis. Akhirnya Era Chori bisa menerbitkan buku tunggal dengan judul “Seni Berkompromi dengan Keterbatasan.” Saat Era ditanya, bagaimana pendapat orang tuanya sekarang? Orang tua Era mengatakan, ” Ya nak, teruslah menulis”

Min A bertanya, kapan waktu Era Chori merasa nyaman untuk menulis? Era menjelaskan, dia selama ini dipercaya menjaga toko. Saat berangkat pagi-pagi, dan toko masih sepi, Era bisa membuat ringkasan tulisan di kertas atau di handphone. Baru setelah punya waktu, setelah pekerjaan usai, mulai diketik di komputer. Mas Ngadiyo menjelaskan, buku Era Chori dicetak pertama kali 100 buku, saat ini tinggal sisa 5 (lima) buku, yang dikembalikan dari Togamas. Diomedia berharap bisa mencetak kembali buku Era Chori ini tahun depan.

Dari diskusi dengan teman-teman lain, ternyata bahwa catatan yang kita tulis di buku kecil tetap penting, karena kita bisa menuliskannya sewaktu-waktu. Walau saat ini telah ada smartphone, masih banyak dari peserta diskusi ini yang masih rajin menulis catatan-catatan di kertas, sebelum nantinya dipindahkan ke komputer.

Apa yang bisa kita petik dari pelajaran ini? Bahwa keterbatasan tidak membuat perbedaan yang besar. Diperlukan kedisiplinan untuk meluangkan waktu, mengerjakan hal-hal yang positif. Bersyukur atasan Era mau meminjamkan komputer untuk digunakan Era menulis, setelah pekerjaan usai….ini merupakan hal yang patut disyukuri, mempunyai atasan yang baik.

Apa kesan-kesan Era? Tentu saja Era masih ingin terus menulis, dan semoga suatu ketika mimpinya bisa tercapai, buku-bukunya bisa diterbitkan oleh penerbit mayor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s