Menghadiri Launching Buku 8 Bahasa Cinta

Mbak Tuti dan buku nya, yang merupakan kumpulan dari tulisan di blog.

Saya menerima WA dari mbak Tuti Nonka, Blogger, Penulis Novel sejak tahun 70 an, dan sehari-hari beliau dosen yang aktif dengan latar belakang Teknik Sipil. ” Mbak Enny, jika ada waktu longgar, saya mengundang pada launching buku kumcer saya besok hari Sabtu.” Saya langsung lihat kalender, kelihatannya belum ada kegiatan, yang jadi kendala justru kesehatan saya lagi naik turun akhir-akhir ini, dan yang mengganggu adalah vertigo nya sering datang. Saya nggak berani janji tapi akan saya usahakan datang.

 

Kumpulan Cerpen 8 Bahasa Cinta dari 8 Penulis.

Alhamdulillah hari Sabtu pagi itu kondisi saya sehat, jadi saya merencanakan sekalian menengok teman yang sakit di RSAL dan RSCM sebelum menghadiri acara bukunya mbak Tuti. Syukurlah libur tiga hari membuat jalanan Jakarta lancar…

Senangnya ketemu penulis favorit (Mbak Tuti Nonka), juga ketemu Erna Lindasari (Baju merah).

Lanjutkan membaca “Menghadiri Launching Buku 8 Bahasa Cinta”

Iklan

Cibubur, 25 Februari 2018

Cover buku yang dipilih

Cibubur adalah daerah di selatan Jakarta menuju Bogor, yang masih banyak pohon hijau nya. Cibubur yang ada di bayangan kita adalah tempat lokasi kegiatan pramuka. Di Cibubur ada Cibubur Junction, nama Mal yang persis di jalan dekat  Tol keluar dari Cibubur. Namun Cibubur bagi komunitas kami adalah tempat anaknya Lilik Raditya, yang setiap tiga bulan sekali menjadi domisili Lilik jika berada di Jakarta.

Minggu ini kami kumpul di Cibubur, selain silaturahim bersama sahabat lama, juga membahas kemajuan buku alumni SMA 1 Madiun tahun 1969 (selanjutnya disebut Smasa), yang diharapkan bisa launching pada saat reuni emas alumni Smasa 69 di Madiun.

Lanjutkan membaca “Cibubur, 25 Februari 2018”

Dengan Sosmed, kita bisa menemukan teman-teman lama

Saya mendapat tugas untuk menulis tentang Smasa 69 Madiun, tugas yang mudah tapi juga sulit. Setelah adanya WAG (WhatsApp Group), kami bisa berhubungan baik secara fisik maupun on line, yang akhirnya bisa melakukan berbagai kegiatan bersama. Kemudian muncul ide untuk membuat buku kenangan. Waduuh..lha saya sendiri belum pernah bikin buku, kok ini kejatuhan sampur untuk buat tulisan. Apa boleh buat, satu-satu nya media adalah melalui tulisan di blog, karena sekaligus cara yang saya kenal untuk bisa menampilkan tulisan beserta foto-foto. Jadi, saya akan memulai cerita bersambung tentang teman-teman di Smasa 69 (maksudnya alumni Smasa tahun 69….udah oma-oma ya).

Lanjutkan membaca “Dengan Sosmed, kita bisa menemukan teman-teman lama”

Mengapa perlu menerapkan Manajemen Risiko dalam proses pemberian kredit?

Saya mendapat pertanyaan, bagaimana cara menerapkan pelaksanaan manajemen risiko dalam proses pemberian kredit yang efektif di Bank? Bagaimana, agar proses bisnis berjalan lancar, namun manajemen risiko bisa bekerja dengan efektif. Disadari, ada persepsi bahwa adanya manajemen risiko akan memperlambat proses bisnis. Sedangkan tanpa manajemen risiko, bank tidak dapat mengetahui seberapa risiko yang ada dan apakah telah diperhitungkan semuanya? Untuk memahami ini, maka kita perlu mengetahui hal-hal di bawah ini: Lanjutkan membaca “Mengapa perlu menerapkan Manajemen Risiko dalam proses pemberian kredit?”

Resensi Buku: Bude Ocie di Maroko

Buku Bude Ocie di Maroko, sudah di tangan.

Buku “Bude Ocie di Maroko” ini menceritakan perjalanan Ocie ke Maroko. Membaca buku Ocie, seperti kita ikut dalam perjalanan nya.

Ocie yang lulusan arsitektur ITB ini mengagumi bangunan-bangunan tua yang masih terawat di Maroko, umumnya berbentuk art deco, kulinernya yang khas, serta kerajinan tangannya yang menarik. Bangunan masjid, dengan ukiran kayunya yang khas,  merupakan salah satu budaya Moor di kawasan Maghreb. Kawasan Maghreb merujuk lima negara di Afrika Utara: Maroko, Mauritania, Algeria, Libya dan Tunisia.

Casablanca

Lanjutkan membaca “Resensi Buku: Bude Ocie di Maroko”

Ibu Guruku Cantik sekali

Tahun 1967…

Profil pict bu Endang di WA nya.

Hari masih pagi, lonceng tanda masuk sekolah masih 45 menit lagi. Namun di kelas 1E beberapa anak laki-laki telah ada di dalam kelas. Wah rajin sekali ya. Usut punya usut, mereka semangat datang pagi karena ingin segera menyapa ibu Endang yang akan mengajar pagi.

Ibu Endang saat itu masih lajang, cantik dan ramah, sehingga anak-anak SMA semangat mendengarkan pelajarannya. Dan apakah nilainya berbanding lurus dengan semangatnya? Ternyata tidak! Justru karena mengagumi bu Endang, mereka jadi kurang memperhatikan pelajarannya.

Lanjutkan membaca “Ibu Guruku Cantik sekali”