Menikmati Masakan Ikan Bakar di Balikpapan

Duduk berdesakan menunggu pesanan ikan bakar.

Pertama kali mendengar  “Warung Ikan Bakar” yang terletak di belakang Kantor Pos Besar, Balikpapan ini sudah lama, dari salah satu pejabat bank di Samarinda. Dengan syarat mau antri, dan berpeluh karena saat makan siang, pengunjung sangat penuh.

 

Antri membeli ikan bakar.

Namun beberapa kali keinginan tak tercapai, karena pak sopir nggak tega melihat ibu-ibu dari Jakarta kepanasan dan keringatan. Kali ini kami benar-benar menekankan pada driver untuk mengantar ke tempat ikan bakar yang terkenal di belakang kantor pos Balikpapan.

Lanjutkan membaca “Menikmati Masakan Ikan Bakar di Balikpapan”

Iklan

Mengunjungi Sam Po Kong

Naik becak bersama suami

Setelah menghadiri acara di UNDIP, saya bersama suami dan adik bungsuku masih punya waktu untuk mengunjungi Sam Po Kong. Cuaca cerah dan terasa panas menyengat saat kami sampai di halaman parkir Sam Po Kong. Setelah membeli karcis, kami menunggu guide yang akan menemani kami jalan-jalan mengelilingi kompleks Sam Po Kong.

 

 

Di depan tulisan Sam Po Kong= Tiga Orang yang Dihormati Lanjutkan membaca “Mengunjungi Sam Po Kong”

Kota Lama dan Lawang Sewu

Gereja Blenduk, dilihat dari IBC.

Walau sering ke Semarang, selama ini saya cuma lewat saja, atau jika menghadiri acara tertentu,  besoknya langsung pulang ke Jakarta.  Kali ini saya pergi ke Semarang bersama suami dan adik bungsuku.  Setelah mendarat di bandara A. Yani, kami langsung menuju IBC di Kota Lama. IBC menempati bangunan tua yang masih indah, persis berada di depan gereja Blenduk yang terkenal, yang selama ini juga baru saya lihat gambarnya.

Lanjutkan membaca “Kota Lama dan Lawang Sewu”

Ibu Guruku Cantik sekali

Tahun 1967…

Profil pict bu Endang di WA nya.

Hari masih pagi, lonceng tanda masuk sekolah masih 45 menit lagi. Namun di kelas 1E beberapa anak laki-laki telah ada di dalam kelas. Wah rajin sekali ya. Usut punya usut, mereka semangat datang pagi karena ingin segera menyapa ibu Endang yang akan mengajar pagi.

Ibu Endang saat itu masih lajang, cantik dan ramah, sehingga anak-anak SMA semangat mendengarkan pelajarannya. Dan apakah nilainya berbanding lurus dengan semangatnya? Ternyata tidak! Justru karena mengagumi bu Endang, mereka jadi kurang memperhatikan pelajarannya.

Lanjutkan membaca “Ibu Guruku Cantik sekali”

Kopi Klotok jilid dua

Bersama mbak Tri dan Yayuk.

Pagi hari, mbak Tri yang saat ini menjabat sebagai Pimpinan BRI Corporate University Kampus Yogya, mengajak saya dan Yayuk, untuk sarapan di Kopi Klotok jilid dua. Kenapa jilid dua, karena rumah makan ini baru dibuka sebulan yang lalu, dan merupakan perluasan dari Kopi Klotok Jilid satu. Kenapa nggak ke Kopi Klotok jilid satu? Kopi Klotok jilid satu terkenal dengan sayur lodehnya dan pisang gorengnya…namun harus antri panjang, sedang saya jam 10 pagi harus sudah datang ke tempat reuni. Jadilah kami ke Kopi Klotok Jilid dua. Lanjutkan membaca “Kopi Klotok jilid dua”

Empatpuluh delapan tahun kemudian

Rombongan Jakarta turun dari pesawat di bandara Adisucipto, Yogya.

Katanya reuni dan ketemu dengan teman-teman itu ngrabuk nyawa. Namun bagi saya, yang saat sekolah SMA nya nun jauh di Jawa Timur, urusan reuni bukan hal mudah. Dulu saja, saat masih muda,  saya kuliah di Bogor, maka saya pulang setahun sekali pas libur panjang. Liburan dua minggu saya manfaatkan jalan-jalan di Bandung atau Jakarta, maklum perjalanan pulang pergi perlu waktu 3 (tiga) hari, dan capek badan nya seminggu sendiri. Disamping itu, kegiatan perkuliahan yang padat dan sistem gugur, membuat saya selalu dihantui oleh kekawatiran tak bisa mengejar nilai bagus, maklum fisik saya tak termasuk kuat, dan setiap kali habis pulang bepergian memerlukan jeda cukup lama untuk kembali ke kehidupan normal.

Lanjutkan membaca “Empatpuluh delapan tahun kemudian”

Mari melestarikan pakaian nusantara

Bermain kapas di halaman Kampus IPB (foto by Rara).

Melihat kondisi saat ini, beberapa teman mengungkapkan keprihatinan nya akan keberadaan pakaian nusantara, karena dikawatirkan pakaian nasional Indonesia yang menggambarkan berbagai suku bisa hilang karena jarang digunakan. Saya juga merasa demikian, rasanya lebih nyaman pakai celana panjang atau rok dengan blouse, daripada ribet menggunakan pakaian nasional. Tapi sebetulnya sekarang memakai pakaian nusantara lebih dipermudah, karena kainnya bisa dijahit, sehingga memakainya seperti memakai rok….cuma sayang kalau kain batik sutera atau kain tenun yang bikinnya berbulan-bulan mesti dipotong dan dijahit.

Lanjutkan membaca “Mari melestarikan pakaian nusantara”