Empatpuluh delapan tahun kemudian

Rombongan Jakarta turun dari pesawat di bandara Adisucipto, Yogya.

Katanya reuni dan ketemu dengan teman-teman itu ngrabuk nyawa. Namun bagi saya, yang saat sekolah SMA nya nun jauh di Jawa Timur, urusan reuni bukan hal mudah. Dulu saja, saat masih muda,  saya kuliah di Bogor, maka saya pulang setahun sekali pas libur panjang. Liburan dua minggu saya manfaatkan jalan-jalan di Bandung atau Jakarta, maklum perjalanan pulang pergi perlu waktu 3 (tiga) hari, dan capek badan nya seminggu sendiri. Disamping itu, kegiatan perkuliahan yang padat dan sistem gugur, membuat saya selalu dihantui oleh kekawatiran tak bisa mengejar nilai bagus, maklum fisik saya tak termasuk kuat, dan setiap kali habis pulang bepergian memerlukan jeda cukup lama untuk kembali ke kehidupan normal.

Lanjutkan membaca “Empatpuluh delapan tahun kemudian”

Iklan

Mari melestarikan pakaian nusantara

Bermain kapas di halaman Kampus IPB (foto by Rara).

Melihat kondisi saat ini, beberapa teman mengungkapkan keprihatinan nya akan keberadaan pakaian nusantara, karena dikawatirkan pakaian nasional Indonesia yang menggambarkan berbagai suku bisa hilang karena jarang digunakan. Saya juga merasa demikian, rasanya lebih nyaman pakai celana panjang atau rok dengan blouse, daripada ribet menggunakan pakaian nasional. Tapi sebetulnya sekarang memakai pakaian nusantara lebih dipermudah, karena kainnya bisa dijahit, sehingga memakainya seperti memakai rok….cuma sayang kalau kain batik sutera atau kain tenun yang bikinnya berbulan-bulan mesti dipotong dan dijahit.

Lanjutkan membaca “Mari melestarikan pakaian nusantara”

Jalan-jalan ke Museum Bahari yuuk

Menara Bahari atau dulu disebut Menara Syahbandar.

Sebelumnya nggak ada niat untuk mengunjungi museum Bahari, walau sudah lama ingin ke sana. Situasi Lebaran dan mengajak cucu, mesti lihat situasi dan kondisi “mood” cucu. Jadi, niat dari rumah hanya sekedar makan siang ke Cafe Batavia, karena mumpung masih liburan sehingga jalan ke arah Taman Fatahillah nggak macet. Setelah makan siang di Cafe Batavia, saya hanya bilang sama si sulung, bisa nggak kita melewati museum Bahari?  Lanjutkan membaca “Jalan-jalan ke Museum Bahari yuuk”

Menyusuri Jakarta dengan busway

Tingkat kemacetan Jakarta yang makin menjadi-jadi membuatku memikirkan alternatif lain. Apalagi melalui jalan Fatmawati betul-betul menguras emosi saat ini, karena selalu macet, baik pagi, siang maupun petang. Awalnya masih bisa jalan kaki dari rumah  ke arah jalan Fatmawati untuk mencegat taksi, namun sudah beberapa minggu ini susah cari taksi kosong. Apaboleh buat, pilihan nya adalah naik KWK 11 ke arah stasiun Pasar Minggu untuk naik Commuter Lines atau naik Metro Mini ke Blok M, kemudian naik busway.

Lanjutkan membaca “Menyusuri Jakarta dengan busway”

Day 6- Madinah, sekitar masjid Nabawi

 

Hotel sekitar masjid Nabawi.

Hari ini kegiatannya rutin, karena rencana ziarah ke Raudah sudah dilaksanakan pada malam sebelumnya. Setelah makan pagi, diisi dengan diskusi agama, serta rencana perjalanan kembali ke tanah air besoknya. Bagi yang belum sempat ziarah ke Raudah, bisa melakukannya hari ini.

Lanjutkan membaca “Day 6- Madinah, sekitar masjid Nabawi”

Ziarah ke Raudah

Halaman Masjid Nabawi

Banyak tempat yang digunakan untuk berdoa oleh jemaah umroh dan haji, antara lain Raudah. Dari masjid Nabawi,  bagi para perempuan, masuknya adalah dari pintu 25. Letak Raudah ini di antara makam Rasulullah saw dan mimbar. Panjang Raudah dari barat ke timur adalah 22 meter dan dari utara ke selatan 15 meter. Raudah ini dibagi dua, untuk kaum laki-laki bisa langsung sholat di sebelah makam Rasulullah saw, namun untuk perempuan Raudah ini hanya dibatasi empat tiang,  karpetnya berwarna hijau (karpet lainnya berwarna merah). Raudah adalah tempat yang makbul untuk berdoa. Lanjutkan membaca “Ziarah ke Raudah”

Day 5- Ziarah ke Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Medan Uhud, Khandak dan Pasar Kurma.

Dini hari jam 3.30 waktu Madinah kami sudah berkumpul, kemudian bersama-sama menuju masjid Nabawi. Ustadz menjelaskan dimana letak pintu masuk untuk perempuan, karena di masjid Nabawi, perempuan dan laki-laki tempat sholat nya terpisah. Cuaca masih “agak dingin” bagi ukuran saya, sehingga saya pakai syal untuk menahan dingin. Memasuki halaman masjid Nabawi, mata terpaku melihat payung-payung yang tertata rapi di halaman nya, saat itu payung masih menutup.

Payung di Masjid Nabawi

Payung ini akan terbuka pada siang hari dan pada tiang-tiangnya akan memancarkan air untuk mendinginkan cuaca. Saya dan Minah segera memasuki Masjid Nabawi, sandal dilepas, tas diperiksa oleh Askar. Lanjutkan membaca “Day 5- Ziarah ke Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Medan Uhud, Khandak dan Pasar Kurma.”