Mencoba akupuntur

Saya sering mendengar dari beberapa teman tentang penyembuhan melalui akupuntur. Dan semakin tertarik setelah teman-teman di WA grup membahas cara pengobatan ini karena tanpa pemberian obat. Tapi yang masih membuat ragu, sakitkah? Bukankah badan kita ditusuk beberapa jarum? Membayangkan disuntik saja sudah sakit, bagaimana pula dengan badan ditusuk berbagai macam jarum. Namun sakit di bahu kanan yang mengganggu membuat saya harus berani mencoba. Lanjutkan membaca “Mencoba akupuntur”

Iklan

Mengunjungi kebun sayur ABBAS Agri di Ciloto, di lereng Gunung Gede

Kebun sayur ABBAS Agri
Kebun sayur ABBAS Agri

Kami, para alumnus Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, yang kemudian menjadi Institut Pertanian IPB, diundang oleh Uni Farida Abdullah (Angkatan 62) dan Bang Daud Husni Thamrin (Angkatan 59),  untuk menikmati udara gunung yang segar di lereng Gunung Gede.

Foto dulu di depan rumah Uni Ida dan bang Husni Thamrin.
Foto dulu di depan rumah Uni Ida dan bang Husni Thamrin.
Uni Ida dan Bang Husni Thamrin
Uni Ida dan Bang Husni Thamrin

Perjalanan ke Ciloto ini sungguh mengasyikkan, karena saya berkesempatan ketemu para dosen senior yang dulu pernah membimbing dan mengajar kami, para senior, sahabat serta para junior, yang semuanya menyatu menikmati kegembiraan tanpa batas dan sekat. Bahkan serasa mengikuti kuliah terbuka di lapangan.

Bang Syarif sedang menjelaskan, didampingi ibu Sri Setyati
Bang Syarif sedang menjelaskan, didampingi ibu Sri Setyati

Kami mendapat penjelasan dari pakarnya di lapangan, yaitu bang Syarif Bastari (putra bang Husni Thamrin, IPB angkatan A25), ditambah penjelasan ibu Prof Dr. Ir. Sri Setyati, Msc, pakar hortikultura. Saya salut dengan bu Sri, beliau sudah berusia hampir 80 tahun, namun masih gesit mengelilingi kebun sayur ABBAS Agri di bawah terik matahari, sambil memberi penjelasan pada kami tentang berbagai pepohonan dan tanaman sayuran.

Lanjutkan membaca “Mengunjungi kebun sayur ABBAS Agri di Ciloto, di lereng Gunung Gede”

Mengunjungi Hunian Pilihan Para Lansia

Bunga di depan halaman cluster Aster

Bunga di depan halaman cluster Aster

Reuni alumni Putri IPB (walaupun ada yang kuliahnya masih bernama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia), kali ini agenda pokoknya adalah mengunjungi Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti”.

Ide awal mengunjungi Sasana Tresna Werdha (STW), diawali karena keprihatinan para alumni terhadap alumni senior IPB yang hidup sendirian, istri sudah meninggal dan anak-anak berjauhan.

Masalah untuk tinggal di STW merupakan masalah yang kompleks, terutama dari sisi budaya, yaitu anggapan bahwa memasukkan orangtua ke panti adalah dosa.

“Menjadi tua patut disyukuri, Bahagia di hari tua, merupakan pilihan hati”

Quote di atas perlu, karena sebagian besar dari kita tentu belum rela jika ada anggota keluarga yang tinggal di Panti. Istilah Panti ini sebenarnya tidak selalu tepat, karena  pada dasarnya ada empat jenis yang kita kenal dengan nama Panti, yaitu;

Lanjutkan membaca “Mengunjungi Hunian Pilihan Para Lansia”

Kenali lingkunganmu

Saya menyadari lingkungan kita cepat sekali berubah, bahkan lingkungan terdekat saya. Banyak bangunan baru atau bangunan yang berubah peruntukannya, terutama yang dulunya rumah biasa, telah dibangun menjadi rumah bertingkat tiga, dan disewakan sebagai kos-kos an. Kondisi jalanan Jakarta yang makin macet, membuat semakin banyak orang yang kost sementara di Jakarta, dan hanya pulang saat akhir pekan ke rumahnya sendiri. Delapan tahun lalu, saat pertama kalinya saya membeli tanah dan bangunan tua yang berdiri di atasnya, lingkungan sekitar tempat tinggal saya  hampir seluruhnya digunakan untuk tempat tinggal keluarga, hanya satu dua yang untuk kost-kost an, itupun bangunan rumahnya tetap sederhana.

Lanjutkan membaca “Kenali lingkunganmu”

Mencoba Kedai “Kak Ani” bersama sahabat Blogger

Saya mengenalnya pertama kali lewat blog, walau dia bisa dibilang seumuran anakku, melalui percakapan lewat blog, yang dilanjutkan dengan kopdar, kami merasa nyambung walau beda umur sangat jauh. Kadang-kadang kami bertemu, diskusi apa saja, dari buku, pekerjaan dan segala hal yang biasa dibicarakan antara dua perempuan dewasa. Entah kenapa, dia selalu ada saat saya membutuhkan, terutama di saat-saat yang penting. Dia aktif bergaul, berorganisasi, dan sekarang hobi barunya adalah lari 10 K. Biasanya, minimal setahun sekali kami ketemu, kecuali ada hal penting yang ingin didiskusikan. Entah kenapa, biasanya pertemuan mendekati pas hari Iedul Adha, entah karena saya juga agak santai karena ada liburan panjang, atau apa. 

Lanjutkan membaca “Mencoba Kedai “Kak Ani” bersama sahabat Blogger”

Gara-gara mengejar “Moci Sukabumi”

Moci khas Sukabumi
Moci khas Sukabumi

Tentu teman-teman sudah banyak yang mengenal makanan yang disebut moci ini, yaitu makanan yang terbuat dari tepung ketan, tepung kanji, kacang tanah, gula dan vanila. Saya mengenalnya dari teman yang masa kecil dan remajanya di Sukabumi, suatu ketika dia membawa moci saat ada reuni teman seangkatan. Saya awalnya tak terlalu antusias mencoba makanan ini, ternyata …. makanan ini sesuai dengan jenis kue kesukaanku. Kesempatan kedua mencoba moci adalah saat saya menemani teman ke Rancamaya, pulangnya melewati jalan Sukasari 2, yang terkenal dengan asinan segar Gedung Dalam. Kami mampir ke asinan segar Gedung Dalam ini (sekarang namanya Asinan Sedap), disini kami membeli pisang sale (pisang sale disini enak), asinan buah dan tentu saja kue moci yang dari Sukabumi. Ternyata sampai rumah yang diserbu kue moci ini, sehingga menantu saya nitip moci cukup banyak untuk dibawa ke kantor nya, saat mendengar  saya  akan pergi ke Bogor.

Lanjutkan membaca “Gara-gara mengejar “Moci Sukabumi””