Obrolan Buku 13 Desember 2021- “Kyaiku dan Hidupku: Memoar Keteladanan Berakhlak dan Berilmu”

Buku ini berisi tulisan 19 memoaris. Sebagai moderator kali ini adalah gus M. Badruz Zaman, yang telah menerbitkan buku “Potret Moderasi Pesantren”. Gus Badruz mengemukakan, dalam perkembangan ilmu pendidikan dan pengajaran, saat ini telah banyak beredar buku-buku tentang cara belajar, buku psikologi belajar, sehingga sosok guru agak berkurang peranannya. Sistim pendidikan berkembang makin besar dan kompleks. Namun hal ini, berbeda antara cara santri dalam menghadapi gurunya, dengan mahasiswa menghadapi pembimbingnya. Cara penghormatan santri, dikenal dengan istilah taqdim, yang berarti mendahulukan kepentingan guru masih lekat di pesantren. Kemungkinan, karena hal ini disebabkan di universitas umum lebih banyak diajarkan tentang ilmu, sedang di pesantren lebih banyak diajarkan tentang taqdim.

Selanjutnya ustadz Ali Azhar, founder @catatan_azhar, penulis yang telah menerbitkan buku motivasi tentang Islam,  memberikan tausiah sekitar 10 menit, singkat tetapi padat dan sangat bermakna. Tausiah ustadz Ali Azhar sebagai berikut:

Cover Buku “Kyaiku & Hidupku”
Lanjutkan membaca “Obrolan Buku 13 Desember 2021- “Kyaiku dan Hidupku: Memoar Keteladanan Berakhlak dan Berilmu””

Obrolan Buku 11 Desember 2021: “Bahagia Bersama Cucu Tercinta”

Hari kedua sesi 4: Festival Memoar dan Memoaris Indonesia, 10-19 Desember 2021

Pada sesi ini, saya ditunjuk oleh penerbit Diomedia untuk menjadi moderator. Saat itu saya bertanya, “Pembicaranya siapa mas?” Mas Diyo menjawab, pembicaranya penulis dan peserta webinar mbak, yang semuanya merupakan anggota Komunitas Menulis Memoar. Saya belum bisa membayangkan, seperti apa ya acaranya, jadi supaya saya tidak bingung mulai dari mana, saya mulai googling mencari apa sih yang dimaksud dengan parenting itu? Saya pikir, daripada saya bingung mengawalinya, saya mulai membuat slide 10 lembar, terus saya kirim melalui email pada mas Diyo untuk dikoreksi. Ternyata mas Diyo menerima dengan senang hati…..minimal saya punya gambaran sedikit tentang ilmu parenting, walau sebetulnya sejak punya anak usia 10 tahun, saya sering berhubungan dengan psikolog anak, karena ayah ibu sudah tidak ada, daripada salah melakukan pola asuh kepada anak, lebih baik bertanya pada ahlinya.

Moderator

Sehari sebelum acara, saya bertanya pada mas Diyo, siapa saja penulis buku “Bahagia Bersama Cucu Tercinta”, dan saat membaca Curriculum Vitae para penulis, saya langsung terhenyak. Matilah saya, penulisnya banyak yang pintar-pintar dan tentunya lebih berpengalaman dibanding saya. “Tidak masalah”, saya menyemangati diri sendiri, toh ini adalah ajang sharing pengalaman, saya bahkan akan banyak menimba pengalaman dari beliau-beliau ini.

Lanjutkan membaca Obrolan Buku 11 Desember 2021: “Bahagia Bersama Cucu Tercinta”

Sahabatku terpapar covid-19

Sahabatku ini terkenal periang, tanpa kehadirannya, reuni di acara A678 (A-Fakultas Pertanian IPB, 678= nomor Angkatan dari tahun 69, 70 dan 71) akan terasa sepi. Setiap pagi Alda paling rajin mengirim ucapan selamat pagi di WAG A678, dengan gambar bunga-bunga yang indah. Latar belakang Alda dari jurusan Agronomi, bidang hortikultura. Jika ada acara kumpul-kumpul, Alda yang rajin menghias ruangan dengan bunga-bunga dan tanaman yang indah, serta menghangatkan acara dengan acara-acara yang membikin suasana ceria. Selain itu, Alda pintar memasak, sudah dipastikan dia akan heboh memasak sendiri untuk dibawa ke acara reuni teman-teman nya.

Sudah lama Alda tidak aktif di WAG, sebetulnya saya bertanya-tanya, apa sibuk momong cucunya? Maklum obrolan kaum purna tugas ini ya kelucuan para cucunya. Kami bahkan punya ide, bagaimana jika kita reuni dengan membawa para cucu, biar cucu kita juga bisa saling mengenal. Tak terbayangkan hebohnya jika hal itu terjadi, maklum cucu kami rata-rata masih usia SD, dan ada yang masih balita.

Tiga hari yang lalu, Alda muncul menyapa di WAG, dan ternyata dia terpapar covid-19. Dari 6 (enam) orang keluarganya, yang terkena ada 4 (empat) orang, yaitu bang Hasan (suami Alda), Alda sendiri, anaknya Icha dan Chilla (cucu usia SD). Kami kaget semua, dan ramai-ramai memberi saran apa yang bisa dilakukan. Dan setelah melewati satu minggu sejak kemunculan kembali Alda di WAG, saya bertanya apa boleh cerita pengalaman Alda ditulis, untuk pembelajaran yang lain. Alda setuju, dan ini ceritanya.

Bersama teman-teman seangkatan, Alda duduk nomor dua dari kanan
Lanjutkan membaca “Sahabatku terpapar covid-19”

Kegiatan akhir bulan September-Oktober 2018:Tulisan yang tertunda terus

Semakin ke sini kok rasanya makin sulit punya waktu untuk nulis di blog. Entah karena kesibukan di dunia nyata, atau karena kalah pamor dengan facebook, yang bisa mudah meng up load foto-foto dari smartphone. Rasanya dulu sering menggebu-gebu ingin segera pulang ke rumah untuk bisa nulis di blog.

Lanjutkan membaca “Kegiatan akhir bulan September-Oktober 2018:Tulisan yang tertunda terus”

Menghadiri Launching Buku 8 Bahasa Cinta

Mbak Tuti dan buku nya, yang merupakan kumpulan dari tulisan di blog.

Saya menerima WA dari mbak Tuti Nonka, Blogger, Penulis Novel sejak tahun 70 an, dan sehari-hari beliau dosen yang aktif dengan latar belakang Teknik Sipil. ” Mbak Enny, jika ada waktu longgar, saya mengundang pada launching buku kumcer saya besok hari Sabtu.” Saya langsung lihat kalender, kelihatannya belum ada kegiatan, yang jadi kendala justru kesehatan saya lagi naik turun akhir-akhir ini, dan yang mengganggu adalah vertigo nya sering datang. Saya nggak berani janji tapi akan saya usahakan datang.

 

Kumpulan Cerpen 8 Bahasa Cinta dari 8 Penulis.

Alhamdulillah hari Sabtu pagi itu kondisi saya sehat, jadi saya merencanakan sekalian menengok teman yang sakit di RSAL dan RSCM sebelum menghadiri acara bukunya mbak Tuti. Syukurlah libur tiga hari membuat jalanan Jakarta lancar…

Senangnya ketemu penulis favorit (Mbak Tuti Nonka), juga ketemu Erna Lindasari (Baju merah).

Lanjutkan membaca “Menghadiri Launching Buku 8 Bahasa Cinta”

Mencoba akupuntur

Saya sering mendengar dari beberapa teman tentang penyembuhan melalui akupuntur. Dan semakin tertarik setelah teman-teman di WA grup membahas cara pengobatan ini karena tanpa pemberian obat. Tapi yang masih membuat ragu, sakitkah? Bukankah badan kita ditusuk beberapa jarum? Membayangkan disuntik saja sudah sakit, bagaimana pula dengan badan ditusuk berbagai macam jarum. Namun sakit di bahu kanan yang mengganggu membuat saya harus berani mencoba. Lanjutkan membaca “Mencoba akupuntur”

Mengunjungi kebun sayur ABBAS Agri di Ciloto, di lereng Gunung Gede

Kebun sayur ABBAS Agri
Kebun sayur ABBAS Agri

Kami, para alumnus Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, yang kemudian menjadi Institut Pertanian IPB, diundang oleh Uni Farida Abdullah (Angkatan 62) dan Bang Daud Husni Thamrin (Angkatan 59),  untuk menikmati udara gunung yang segar di lereng Gunung Gede.

Foto dulu di depan rumah Uni Ida dan bang Husni Thamrin.
Foto dulu di depan rumah Uni Ida dan bang Husni Thamrin.

Uni Ida dan Bang Husni Thamrin
Uni Ida dan Bang Husni Thamrin

Perjalanan ke Ciloto ini sungguh mengasyikkan, karena saya berkesempatan ketemu para dosen senior yang dulu pernah membimbing dan mengajar kami, para senior, sahabat serta para junior, yang semuanya menyatu menikmati kegembiraan tanpa batas dan sekat. Bahkan serasa mengikuti kuliah terbuka di lapangan.

Bang Syarif sedang menjelaskan, didampingi ibu Sri Setyati
Bang Syarif sedang menjelaskan, didampingi ibu Sri Setyati

Kami mendapat penjelasan dari pakarnya di lapangan, yaitu bang Syarif Bastari (putra bang Husni Thamrin, IPB angkatan A25), ditambah penjelasan ibu Prof Dr. Ir. Sri Setyati, Msc, pakar hortikultura. Saya salut dengan bu Sri, beliau sudah berusia hampir 80 tahun, namun masih gesit mengelilingi kebun sayur ABBAS Agri di bawah terik matahari, sambil memberi penjelasan pada kami tentang berbagai pepohonan dan tanaman sayuran.

Lanjutkan membaca “Mengunjungi kebun sayur ABBAS Agri di Ciloto, di lereng Gunung Gede”

Mengunjungi Hunian Pilihan Para Lansia

Bunga di depan halaman cluster Aster

Bunga di depan halaman cluster Aster

Reuni alumni Putri IPB (walaupun ada yang kuliahnya masih bernama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia), kali ini agenda pokoknya adalah mengunjungi Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti”.

Ide awal mengunjungi Sasana Tresna Werdha (STW), diawali karena keprihatinan para alumni terhadap alumni senior IPB yang hidup sendirian, istri sudah meninggal dan anak-anak berjauhan.

Masalah untuk tinggal di STW merupakan masalah yang kompleks, terutama dari sisi budaya, yaitu anggapan bahwa memasukkan orangtua ke panti adalah dosa.

“Menjadi tua patut disyukuri, Bahagia di hari tua, merupakan pilihan hati”

Quote di atas perlu, karena sebagian besar dari kita tentu belum rela jika ada anggota keluarga yang tinggal di Panti. Istilah Panti ini sebenarnya tidak selalu tepat, karena  pada dasarnya ada empat jenis yang kita kenal dengan nama Panti, yaitu;

Lanjutkan membaca “Mengunjungi Hunian Pilihan Para Lansia”

Kenali lingkunganmu

Saya menyadari lingkungan kita cepat sekali berubah, bahkan lingkungan terdekat saya. Banyak bangunan baru atau bangunan yang berubah peruntukannya, terutama yang dulunya rumah biasa, telah dibangun menjadi rumah bertingkat tiga, dan disewakan sebagai kos-kos an. Kondisi jalanan Jakarta yang makin macet, membuat semakin banyak orang yang kost sementara di Jakarta, dan hanya pulang saat akhir pekan ke rumahnya sendiri. Delapan tahun lalu, saat pertama kalinya saya membeli tanah dan bangunan tua yang berdiri di atasnya, lingkungan sekitar tempat tinggal saya  hampir seluruhnya digunakan untuk tempat tinggal keluarga, hanya satu dua yang untuk kost-kost an, itupun bangunan rumahnya tetap sederhana.

Lanjutkan membaca “Kenali lingkunganmu”