Kegiatan akhir bulan September-Oktober 2018:Tulisan yang tertunda terus

Semakin ke sini kok rasanya makin sulit punya waktu untuk nulis di blog. Entah karena kesibukan di dunia nyata, atau karena kalah pamor dengan facebook, yang bisa mudah meng up load foto-foto dari smartphone. Rasanya dulu sering menggebu-gebu ingin segera pulang ke rumah untuk bisa nulis di blog.

Lanjutkan membaca “Kegiatan akhir bulan September-Oktober 2018:Tulisan yang tertunda terus”

Menghadiri Launching Buku 8 Bahasa Cinta

Mbak Tuti dan buku nya, yang merupakan kumpulan dari tulisan di blog.

Saya menerima WA dari mbak Tuti Nonka, Blogger, Penulis Novel sejak tahun 70 an, dan sehari-hari beliau dosen yang aktif dengan latar belakang Teknik Sipil. ” Mbak Enny, jika ada waktu longgar, saya mengundang pada launching buku kumcer saya besok hari Sabtu.” Saya langsung lihat kalender, kelihatannya belum ada kegiatan, yang jadi kendala justru kesehatan saya lagi naik turun akhir-akhir ini, dan yang mengganggu adalah vertigo nya sering datang. Saya nggak berani janji tapi akan saya usahakan datang.

 

Kumpulan Cerpen 8 Bahasa Cinta dari 8 Penulis.

Alhamdulillah hari Sabtu pagi itu kondisi saya sehat, jadi saya merencanakan sekalian menengok teman yang sakit di RSAL dan RSCM sebelum menghadiri acara bukunya mbak Tuti. Syukurlah libur tiga hari membuat jalanan Jakarta lancar…

Senangnya ketemu penulis favorit (Mbak Tuti Nonka), juga ketemu Erna Lindasari (Baju merah).

Lanjutkan membaca “Menghadiri Launching Buku 8 Bahasa Cinta”

Mencoba akupuntur

Saya sering mendengar dari beberapa teman tentang penyembuhan melalui akupuntur. Dan semakin tertarik setelah teman-teman di WA grup membahas cara pengobatan ini karena tanpa pemberian obat. Tapi yang masih membuat ragu, sakitkah? Bukankah badan kita ditusuk beberapa jarum? Membayangkan disuntik saja sudah sakit, bagaimana pula dengan badan ditusuk berbagai macam jarum. Namun sakit di bahu kanan yang mengganggu membuat saya harus berani mencoba. Lanjutkan membaca “Mencoba akupuntur”

Mengunjungi kebun sayur ABBAS Agri di Ciloto, di lereng Gunung Gede

Kebun sayur ABBAS Agri
Kebun sayur ABBAS Agri

Kami, para alumnus Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, yang kemudian menjadi Institut Pertanian IPB, diundang oleh Uni Farida Abdullah (Angkatan 62) dan Bang Daud Husni Thamrin (Angkatan 59),  untuk menikmati udara gunung yang segar di lereng Gunung Gede.

Foto dulu di depan rumah Uni Ida dan bang Husni Thamrin.
Foto dulu di depan rumah Uni Ida dan bang Husni Thamrin.
Uni Ida dan Bang Husni Thamrin
Uni Ida dan Bang Husni Thamrin

Perjalanan ke Ciloto ini sungguh mengasyikkan, karena saya berkesempatan ketemu para dosen senior yang dulu pernah membimbing dan mengajar kami, para senior, sahabat serta para junior, yang semuanya menyatu menikmati kegembiraan tanpa batas dan sekat. Bahkan serasa mengikuti kuliah terbuka di lapangan.

Bang Syarif sedang menjelaskan, didampingi ibu Sri Setyati
Bang Syarif sedang menjelaskan, didampingi ibu Sri Setyati

Kami mendapat penjelasan dari pakarnya di lapangan, yaitu bang Syarif Bastari (putra bang Husni Thamrin, IPB angkatan A25), ditambah penjelasan ibu Prof Dr. Ir. Sri Setyati, Msc, pakar hortikultura. Saya salut dengan bu Sri, beliau sudah berusia hampir 80 tahun, namun masih gesit mengelilingi kebun sayur ABBAS Agri di bawah terik matahari, sambil memberi penjelasan pada kami tentang berbagai pepohonan dan tanaman sayuran.

Lanjutkan membaca “Mengunjungi kebun sayur ABBAS Agri di Ciloto, di lereng Gunung Gede”

Mengunjungi Hunian Pilihan Para Lansia

Bunga di depan halaman cluster Aster

Bunga di depan halaman cluster Aster

Reuni alumni Putri IPB (walaupun ada yang kuliahnya masih bernama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia), kali ini agenda pokoknya adalah mengunjungi Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti”.

Ide awal mengunjungi Sasana Tresna Werdha (STW), diawali karena keprihatinan para alumni terhadap alumni senior IPB yang hidup sendirian, istri sudah meninggal dan anak-anak berjauhan.

Masalah untuk tinggal di STW merupakan masalah yang kompleks, terutama dari sisi budaya, yaitu anggapan bahwa memasukkan orangtua ke panti adalah dosa.

“Menjadi tua patut disyukuri, Bahagia di hari tua, merupakan pilihan hati”

Quote di atas perlu, karena sebagian besar dari kita tentu belum rela jika ada anggota keluarga yang tinggal di Panti. Istilah Panti ini sebenarnya tidak selalu tepat, karena  pada dasarnya ada empat jenis yang kita kenal dengan nama Panti, yaitu;

Lanjutkan membaca “Mengunjungi Hunian Pilihan Para Lansia”

Kenali lingkunganmu

Saya menyadari lingkungan kita cepat sekali berubah, bahkan lingkungan terdekat saya. Banyak bangunan baru atau bangunan yang berubah peruntukannya, terutama yang dulunya rumah biasa, telah dibangun menjadi rumah bertingkat tiga, dan disewakan sebagai kos-kos an. Kondisi jalanan Jakarta yang makin macet, membuat semakin banyak orang yang kost sementara di Jakarta, dan hanya pulang saat akhir pekan ke rumahnya sendiri. Delapan tahun lalu, saat pertama kalinya saya membeli tanah dan bangunan tua yang berdiri di atasnya, lingkungan sekitar tempat tinggal saya  hampir seluruhnya digunakan untuk tempat tinggal keluarga, hanya satu dua yang untuk kost-kost an, itupun bangunan rumahnya tetap sederhana.

Lanjutkan membaca “Kenali lingkunganmu”