Metro Mini

Metro Mini-foto diambil dari google.

Bagi yang remaja atau dewasa di tahun 80-90 an tentu masih mengenal saat jaya-jaya nya Metro Mini. Dan ternyata Metro Mini ini masih bertahan sampai saat ini …. namun dalam kondisi yang memprihatinkan, tergerus oleh zaman. Akhir-akhir ini saya mesti berkenalan lagi dengan Metro Mini ini, gara-gara jalan Fatmawati yang sedang amburadul karena pembangunan MRT menjadi jalan yang dihindari sopir taksi. Bisa lebih dari satu jam berdiri di pinggir jalan Fatmawati untuk menunggu taksi, tanpa hasil. Mau pesan lewat telepon? Jika saya pesan lewat telepon setelah jam 6 pagi, pas lagi sibuk-sibuk nya, maka call center di sana akan berulang kali memberi tahu….”Ibu, taksinya belum ada, apakah masih bisa menunggu?” Jadi, saya hanya pesan taksi jika sebelum jam 6 pagi, atau setelah lewat jam 8 pagi.

Lanjutkan membaca “Metro Mini”

Iklan

Cowok Korea dan kosmetik

Sunny dan Andy, guide dan photographer yang menemani A678 selama di Korea.

Jika melihat orang Korea, apa kesan saya? Kulitnya bersih dan putih. Jadi agak heran mendengar cerita-cerita, juga penjelasan Sunny (guide yang menemani kunjungan A678 plus ke Korea), bahwa di Korea sekitar 40% warganya pernah operasi plastik,  sisanya 40% menggunakan kosmetik tanpa operasi, sisanya baru alami.  Dan karena suntik botox saat ini dianggap berbahaya, maka sekarang ada cream yang dipakai seperti masker setiap malam selama tiga bulan terus menerus, kemudian dihentikan sampai 2 (dua) tahun, baru dipakai lagi. Ini dipercaya lebih sesuai untuk kesehatan. Lanjutkan membaca “Cowok Korea dan kosmetik”

Menonton Acara Nanta Show

Foto di depan gedung Nanta Show

Apa yang berkesan selama perjalanan saya bersama teman-teman A 678 plus di Korea? Selain wisata alam, wisata kuliner, juga wisata budaya, dan yang menarik adalah menonton “Nanta Show“. Terimakasih buat Sunny dan Tinoek, yang membuat itenerary nya.

Foto sebelum masuk gedung pertunjukan.

Sayang setelah acara dimulai, kami tak bisa lagi memotret. Lokasi Nanta Show di jalan yang ramai dan tidak bisa dilalui bis. Sunny menjelaskan, disekitar gedung untuk Nanta Show merupakan lokasi untuk indekos para mahasiswa, oleh karena itu jalanan cukup ramai, dan di kiri kanan jalan toko-toko dengan berbagai iklan menarik dipandang mata. Lanjutkan membaca “Menonton Acara Nanta Show”

Merencanakan perjalanan dengan baik

Agar perjalanan bersama keluarga, sahabat dan teman menyenangkan, maka rencanakan perjalanan jauh sebelumnya secara detail. Perjalanan yang menyenangkan disesuaikan dengan karakter para anggota yang akan ikut tour, agar keinginan masing-masing tetap terpenuhi tanpa merusak acara grup. Akhir pekan kemarin, saya bersama teman-teman, dipimpin tour leader yang juga sahabat semasa kuliah, merencanakan tour ke Gunung Padang, di Kabupaten Cianjur. Rencana ke Gunung Padang ini sudah dibahas dua tahun belakangan, namun kalah peminat dengan tour yang lain. Sampai akhirnya saya ngomong sama Tinoek….kita rencanakan untuk yang benar-benar tertarik saja, karena ini memang untuk teman yang suka wisata alam, pakai ransel (berat maksimal hanya 5 kg karena sudah pinisepuh). Biar cuma 4 (empat) orang, kita tetap jalan… Syukur Alhamdulillah akhirnya mencapai 10 orang yang mau ikut. Lanjutkan membaca “Merencanakan perjalanan dengan baik”

Ada Apa Dengan Cinta (AADC)2 ?

Foto diambil dari iklan di bioskop 21.
Foto diambil dari iklan di bioskop 21.

Pada waktu film AADC 1 tayang,  saya sudah tidak remaja lagi, bahkan saya tidak sempat menonton di bioskop, namun menonton melalui televisi. Namun film ini menjadi terkenal karena jumlah penonton nya yang banyak. Saat kemudian muncul adegan Rangga dan Cinta dalam iklan “Line“, banyak yang sudah bertanya-tanya apakah AADC akan ada lanjutannya? Tentu saja, setelah ada kepastian bahwa akan tayang AADC2, banyak yang sudah menunggunya. Kalau saat AADC 1 saya sudah bukan remaja, apalagi saat ini. Namun apakah penonton film dibatasi usia, jawabannya tidak. Lanjutkan membaca “Ada Apa Dengan Cinta (AADC)2 ?”

Institut Publisistik Bogor atau Institut Perbankan Bogor?

Mungkin karena iri hati, khalayak pers menjuluki IPB sebagai Institut Publisistik Bogor karena banyak alumninya yang terjun ke bidang jurnalistik dan pers seperti: Soedarto Js, Harry Suryadi, Achmad Muchlis Yusuf, Ninuk Pambudi, Tjandra Wibowo, Uni Lubis………….(tolong sebutkan generasi baru, banyak yang tidak aku kenal). Mereka tersebar di media cetak terkemuka seperti Kompas, Tempo, Gatra, Jakarta Pos, media siaran TV bahkan kantor berita Antara.

Mengapa banyak alumni IPB berkibar dalam bidang pers dan media? Aku tidak tahu pasti. Tulisan ini adalah kilas balik pengalamanku dalam kegiatan pers kampus IPB dan UI antara tahun 1970-1977 di latar belakangi kondisi sosial-politik sekitar Jakarta-Bogor-Bandung yang amat memberi warna pada pers kampus saat itu. (Tulisan Ian Lubis di Facebooknya tanggal 5 Maret 2016).

Lanjutkan membaca “Institut Publisistik Bogor atau Institut Perbankan Bogor?”

Resensi buku: “Tumbuh Kembang Bersama, Dari Kampus Membina Keluarga. Menggali Kiat Berternak Ayam Melalui Pendekatan Biografi Dua Insan.”

Tumbuh Kembang Bersama
Tumbuh Kembang Bersama

Saya mengenal ibu Rini S. Soemarno saat ada acara jalan-jalan bersama teman-teman angkatan Faperta IPB (A678) ke Thailand di awal tahun 2013. Kesan saya pertama kali, ibu Rini adalah seorang ibu yang bertutur lembut, santun, tenang dan seolah-olah siap menghadapi apapun. Seiring dengan perjalanan waktu, saya makin mengenal beliau, dan mengagumi beliau. Bahkan di usianya saat ini, beliau tetap sehat, langsing dan sigap.

Buku “Tumbuh Kembang Bersama; Dari Kampus Membina Keluarga” yang disusun oleh Agus MD, serta editornya Srikandi Waluyo (sahabat bu Rini sejak SMA), menceritakan perjalanan ibu Rini bersama keluarga. Awalnya saya memperkirakan bahwa buku ini seperti otobiografi yang selama ini saya baca. Namun rupanya, buku ini lebih banyak menceritakan bagaimana pak Soerojo (suami ibu Rini, yang merupakan seniornya saat di IPB, saat itu masih Fakultas Pertanian Universitas Indonesia), mengawali usaha beternak ayam sambil kuliah di Bogor. Lanjutkan membaca “Resensi buku: “Tumbuh Kembang Bersama, Dari Kampus Membina Keluarga. Menggali Kiat Berternak Ayam Melalui Pendekatan Biografi Dua Insan.””