Ber Bajaj ria

Bagi saya, juga suami, segala sesuatu diharapkan mengikuti aturan. Jadi, setiap kami pindah alamat, ikutannya banyak sekali, seperti ganti Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan lain-lain nya. Begitu juga saat pindah alamat di komplek rumah dinas, walau masih satu RT, tetap saja semua kartu identitas diganti dengan alamat yang baru. Memang repot, namun memudahkan urusan selanjutnya. Kali ini, karena dalam tahun ini ayahnya dua kali masuk rumah sakit, si sulung sangat kawatir, sehingga memutuskan kembali bekerja di Jakarta, mengingat adik satu-satu nya sedang kuliah di luar negeri.

Lanjutkan membaca “Ber Bajaj ria”

Food Court Pasaraya, 30 Juli 2011

Pagi-pagi saya menanyakan pada si sulung, apa siang ini ada acara? Dia menjawab, belum….. namun mungkin saja dia harus kerja jika ditelepon oleh bos nya. Setelah sholat Dhuhur, saya dan si sulung segera berangkat ke Pasaraya naik taksi. Sopir taksi yang kami tumpangi sebelumnya bekerja di BUMN dan karena sesuatu hal, dia harus keluar dan menjadi sopir taksi. Dan sopir ini suka cerita, punya berbagai anekdot, sehingga saat sudah sampai Pasaraya, rasanya waktu cepat sekali berlalu. Masuk ke area food court yang relatif sepi, hati ini ikut sedih, padahal jika jam makan siang, dulu susah sekali mendapatkan kursi di sini. Saya dulu suka mengajak tamu dari luar kota atau luar negeri ke Mal ini, kemudian makan di food court nya. Setelah clingak-clinguk saya ketemu dengan Imelda dan Kai, ternyata sudah ada Yessy dan Diajeng di situ. Kami langsung terlibat obrolan seru, kemudian saya pesan makanan bersama si sulung.

Lanjutkan membaca “Food Court Pasaraya, 30 Juli 2011”

Urban Kitchen PP, 29 Juli 2011

Pada hari-hari menjelang Agustus, teman blogger yang tinggal di Tokyo akan mudik ke Jakarta, dan seperti biasa, teman-teman akan menyambut gembira, sekaligus merencanakan acara kumpul-kumpul. Saya mendapatkan nomor hape EM, kalau sudah mendarat di Jakarta, dan segera saya menjawab kalau saya bebas hari Jumat, dan Sabtu siang. Kebetulan EM juga membuat acara di dua hari tersebut, sehingga teman-teman dapat memilih sesuai jadual masing-masing. Dari sekian blogger, yang sangat ingin saya temui adalah mas Nug dan Menik. Mas Nug sudah sering mengobrol lewat dunia maya,  saat adikku  operasi jantung di Harkit, mbak Cindy (nyonya Nug) yang ikut sibuk menemani adik saya dari sejak sebelum operasi sampai operasi selesai. Saat adikku mengalami perdarahan yang pertama, mas Nug pula yang saya sms, karena saya panik. Menik, saya kenal lewat blognya, yang ternyata berasal dari kota yang sama, saya beberapa kali titip sambel pecel jika Menik pulang kampung, tapi belum pernah ketemu. Itulah asyiknya dunia maya, kita merasa saling kenal dekat, walau belum pernah ketemu.

Lanjutkan membaca “Urban Kitchen PP, 29 Juli 2011”

Teh tarik…….

Teh tarik

Saya lupa sejak kapan saya menyukai teh tarik ini, padahal dulunya tidak suka. Mungkin karena temanku sangat hobi teh tarik, jadi saya ikutan mencoba, merasakan apa sih yang menarik dari teh yang dicampur susu ini, dan lama-lama ternyata bisa menikmati rasanya.  Jika berangkat dari rumah tak sempat  sarapan, atau merasa sarapan kurang, biasanya saya mampir dulu membeli teh tarik ditambah roti panggang, serta kemudian minta diantar ke kantor.

Lanjutkan membaca “Teh tarik…….”

Apa pilihan makan pagi saat bepergian?

Apa yang anda pilih untuk makan pagi jika sedang tugas luar? Apakah menunya harus nasi dan lauk pauk standar? Atau anda suka mencoba menu baru? Menu makan pagi di sebuah hotel, selain fasilitas kamar (bersih, ada air hangat yang mengalir lancar), merupakan pilihan standar saya kalau bepergian. Celakanya, saya tidak suka mencoba, jadi kalau sudah suka hotel tertentu dan merasa nyaman, maka setiap kali kembali ke kota tersebut, pilihannya ya itu-itu saja…daripada mencoba ke lain tempat dengan hasil mengecewakan. Mengapa? Makan pagi, bagi saya merupakan peletakan dasar untuk kekuatan menghadapi aktivitas sehari penuh. Mantan anak buah saya suka melongo melihat cara makanan yang saya ambil, soalnya makan pagi penting buat saya, sedang makan malam tak terlalu penting, saya bisa tak makan atau sekedar makan buah-buah an.

Lanjutkan membaca “Apa pilihan makan pagi saat bepergian?”

Suatu malam di tepi kolam renang Swis Bel Hotel Borneo, Samarinda

Kira-kira hampir setahun yang lalu saya mendapat tugas mengajar di Samarinda, saat itu yang terpikir adalah Akin dan Ifan, sayang waktunya padat sekali sehingga tak sempat ketemu Akin. Jadi, saat minggu ini mendapat kesempatan tugas mengajar lagi di BPD Kaltim, saya sms Akin, dia senang sekali. Tapi saya juga mengirim email dan sms bahwa waktu saya padat, namun masih berharap bisa ketemu Akin. Kebetulan saat ini minggu terakhir libur sekolah, bos saya ingin mengajak putrinya yang sedang libur sekolah untuk ikut ke Kaltim. Perjuangan yang berat untuk mendapatkan tiket, Alhamdulillah akhirnya kami bisa mendapat tambahan tiket dengan risiko penerbangan ke Balikpapan jadualnya mundur dua jam dibanding dua tiket sebelumnya.

Lanjutkan membaca “Suatu malam di tepi kolam renang Swis Bel Hotel Borneo, Samarinda”

“Paket” dan melongok 7 Eleven di jl. Fatmawati

Saya kira sebagian besar kita pernah kirim paket, entah melalui kantor pos ataupun melalui perusahaan jasa pengiriman yang lain. Dari mulai kirim sepeda motor, baju, makanan, buku, rasanya saya kenal soal kirim mengirim ini sejak mulai kuliah. Hari Sabtu pagi, saya mesti ke Kantor Pos, karena pada hari Sabtu Kantor Pos hanya buka sampai jam 12 siang, sedang hari Senin sampai Jumat buka sampai jam 7 malam. Mbak yang melayani di counter EMS, Kantor Pos Fatmawati sudah tersenyum dari jauh. Mereka sudah hafal karena saya sering mengirim  berbagai macam jenis paket melalui counter ini. Pagi ini Kantor Pos masih sepi, karena saya sampai sana belum sampai jam 8 pagi, jadi saya duduk menunggu sambil membaca novel.

Lanjutkan membaca ““Paket” dan melongok 7 Eleven di jl. Fatmawati”

Friendster dan Multiply

Awalnya punya friendster agar bisa terus terhubung dengan kedua anakku yang saat itu masih remaja, agar masih bisa memahami, mendengarkan celotehan anakku dan teman-temannya, berharap agar saya bisa menjadi ibu yang juga memahami kegiatan anak muda, bukan ibu yang menyebalkan dengan banyak larangan ini itu. Rasanya sudah lama sekali tak pernah melihat lagi account ku di friendster itu, apalagi setelah belakangan saya juga ikut membuka account multiply. Di Multiply saya bisa memajang foto kenangan, apalagi saat itu fasilitas di multiply memang lebih beragam, walau tak lama kemudian friendster juga menyusulnya.

Ada banyak kenangan di friendster, banyak foto-foto lama yang belum sempat di pindah, dan kemarin saya sadar, bahwa waktunya tinggal sebentar jika kita ingin memback up apa yang pernah kita up load di friendster. Dan pagi ini, saya mencoba mau memback up foto tersebut, baru berhasil satu, berikutnya mulai sulit. Apalagi rasa pusing seperti vertigo mulai menyerangku, akhirnya saya menilpon kedua anakku, yang menyarankan untuk memberikan nomor passwordku agar mereka bisa membantu memback up.

Tentang multiply, ini juga lama tak tersentuh. Minggu-minggu belakangan ini acara sangat padat dan melelahkan, dan baru hari ini terasa longgar. Badan kurang enak, membuatku berniat hari ini istirahat di rumah saja. Membaca blognya Donny, juga ndorokakung, membuatku ingin melihat seperti apa tayangan di multiply saat ini. Begitu membuka account multiply, mataku dikagetkan dengan berbagai tawaran barang-barang yang dijual, namun begitu masuk ke “my sites“…Alhamdulillah, semua masih utuh, termasuk foto-foto yang pernah di up load. Jadi, untuk kali ini, prioritas hanya untuk memback up foto di friedster saja…atau enaknya direlakan saja? Karena yang di multiply masih selamat.

Bagaimana kegiatan teman-teman, asyik memback up friedster?

Reuni, Reuni dan Reuni

Saya biasanya paling malas untuk datang pada acara-acara reuni ini, jika dihitung  dengan jari, belum memenuhi 10 jari sejak lulus kuliah.  Kesibukan pekerjaan, momong kedua anak sepulang kerja sudah menghabiskan waktu dan energi, bahkan yang namanya arisan pun jarang hadir, yang ujung-ujung nya tak ikut arisan. Kata teman saya (suaminya satu angkatan saat kuliah), “Kenapa ya kita sering mengadakan reuni saat suamiku sudah tiada?” Saya tak bisa menjawabnya, karena saya baru datang reuni dua kali untuk reuni teman seangkatan ini, pertama kali datang adalah saat 30 tahun setelah lulus, kemudian 35 tahun setelah lulus.  Kalau diperhatikan, semangat reuni itu muncul pada umur tertentu, 25 s/d 32 tahun adalah saat-saat baru lulus dan sudah bekerja, kumpul dengan teman akan mendapatkan info,  siapa tahu bisa jadi kutu loncat pindah ke perusahaan lain, yang lebih menarik, jika pekerjaan di kantor yang sekarang kurang menarik. Kemudian, adalah usia di atas 50 tahun, saat  usia ini mulai tengok kanan kiri, mencari teman-teman masa lalu, dimanakah mereka gerangan? Di satu sisi, jabatan dan kehidupan berkeluarga sudah mapan, sehingga bisa menyempatkan diri datang ke reuni.

Lanjutkan membaca “Reuni, Reuni dan Reuni”

Maksi dimana?

Dulu….makan siang adalah urusan yang sederhana, sejak masih kecil sampai mahasiswa. Karena kost dekat kampus, saat waktu makan siang masih sempat pulang ke tempat kost atau asrama. Hanya kadang-kadang saja terpaksa makan di luar, jika waktu jam makan sedang berada di lokasi yang jauh dari tempat kost. Sejak bekerja, pagi-pagi setiba di kantor pikiran sudah merencanakan mau makan apa dan dimana. Pilihan berbagai ragam, namun sejak pagi sudah harus diputuskan jika makan makanan tertentu, karena antri dan sering kehabisan. Pilihan itu juga didasarkan atas budget makan siang, seberapa banyaknya uang yang disisihkan untuk makan siang. Setelah pada posisi tertentu, makan siang disediakan di kantor, disini saat makan siang adalah juga ajang ketemu teman dari Divisi lain, karena sehari-hari sibuk pekerjaan, jarang ketemu teman dari Divisi lain, ketemu hanya jika ada rapat yang berkaitan dengan unit kerja teman tersebut. Sayangnya makan bersama di kantor ini tak berlangsung seterusnya, karena banyak yang bosen, dan setelah diadakan angket, sebagian besar ingin mendapat kembali uangnya dan memilih memesan makanan  sendiri.

Lanjutkan membaca “Maksi dimana?”