Meeting Point

Kehidupan di Jakarta yang lalu lintasnya tak bisa diprediksi, memaksa kita harus pandai-pandai mengatur waktu jika akan bertemu teman. Biasanya sebelum kita datang ke acara tertentu, kita janji ketemu di meeting point  yang telah disepakati, karena tempat tinggal dan kantor yang berjauhan. Jika dulu saya selalu memilih Mal yang ada toko buku nya, sekarang hal itu tak penting lagi, karena terkadang kita  janji temu jam 8 pagi, dimana Mal belum ada yang buka. Atau kita janji ketemu di suatu acara rapat di sebuah gedung perkantoran, namun dari tim perlu ada koordinasi lebih dahulu. Disinilah para pebisnis memenuhi harapan konsumen dengan menyediakan berbagai tempat yang bisa digunakan sebagai meeting point di tempat-tempat tertentu.

Lanjutkan membaca “Meeting Point”

Iklan

“Koyok kaki”

Salon pas (gambar diambil dari http://www.google.com)

Pernahkah anda memakai koyok, atau kita lebih mengenal dengan istilah “salonpas” yang sebetulnya  merupakan merk dagang. Saya mengenal koyok sudah lama sekali, dan menggunakannya jika saat itu badan lagi terasa tidak enak, badan pegal-pegal, namun tak ada tukang pijat. Menggunakan koyok lumayan bisa meredakan perasaan tidak nyaman tersebut.

Semakin usia bertambah,  makin bertambah sering menggunakan berbagai obat gosok (baik balsem ataupun counterpain, juga koyok). Selama ini yang saya tahu, koyok untuk meredakan rasa pegal-pegal pada otot badan.

Lanjutkan membaca ““Koyok kaki””

Tugas luar: transportasi udara tak selalu nyaman

Suatu pagi yang masih gelap, sopir taksi yang mengantar saya ke bandara berkata, “Enak ya bu, bisa bepergian kemana-mana.”  Mungkin membayangkan naik pesawat, dari kota ke kota lain terasa menyenangkan. Di satu sisi memang banyak pengalaman yang menyenangkan, kita menjadi tahu daerah lain dengan berbagai budayanya, namun jika terlalu sering, juga membuat jenuh. Apalagi terkadang perjalanan tak selalu seindah yang dibayangkan. Kalau cuaca baik, perjalanan naik pesawat memang terasa nyaman, apalagi dengan pesawat sekarang yang seringkali dilengkapi dengan hiburan film atau musik yang bisa dipilih sendiri oleh penumpang. Juga makanan yang disajikan terasa hangat, walau kadang tak sesuai selera, namun harus dipaksakan untuk makan agar tak masuk angin.

Lanjutkan membaca “Tugas luar: transportasi udara tak selalu nyaman”

Tugas Luar: dari hotel ke hotel

Tugas luar, atau sering disebut pula turne, merupakan hal yang umum terjadi di dunia kerja. Tugas luar ini perlu karena dengan melihat ke lapangan, kita bisa mengecek kebenaran permasalahan yang ada dan dapat segera mengantipasinya jika terjadi tanda-tanda dini akan terjadi masalah, sehingga dapat lebih cepat mengatasinya. Pada saat melaksanakan tugas luar, kita sering harus menginap di kota lain, belajar budaya masyarakatnya, menikmati wisata kulinernya.  Banyak suka duka yang kita peroleh saat menjalankan tugas luar atau dinas ke luar kota.

Lanjutkan membaca “Tugas Luar: dari hotel ke hotel”

Mengurus dokumen di Kantor Imigrasi

Mengurus dokumen kadang memang menyebalkan, terutama jika masih aktif bekerja, karena harus bolak-balik ijin datang terlambat. Itu kejadian belasan tahun lalu. Setelah tidak terlalu aktif bekerja, saya mendapatkan bahwa telah terjadi perkembangan yang bagus dalam hal pelayanan masyarakat, walau kata teman saya belum menyeluruh. Tidak apa-apa, namun di wilayah saya pengurusan dokumen, seperti Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga dan lain-lain telah berjalan lancar, tanpa antrian yang menumpuk. Dan saya melihat, makin banyak para bapak ibu eksekutif yang mengurus sendiri. Dalam obrolan singkat dengan saya, mereka mengatakan, sekarang lebih enak diurus sendiri, agar tidak terjadi kesalahan, sehingga setiap tahapan dokumen datanya tidak berbeda, seperti ijazah SD s/d Perguruan Tinggi, Akte Kelahiran, Kartu Tanda Penduduk, Paspor dan lain-lain. Maklum, saat ini nama orang sangat bervariasi, ejaan nya juga sulit, jadi perlu datang sendiri mengurus agar tak keliru dalam penulisan.

Lanjutkan membaca “Mengurus dokumen di Kantor Imigrasi”

Sepeda motor vs Bajaj

Hari-hari ini bagi yang tinggal di Jakarta, makin terasa macetnya. Jika sepuluh tahun yang lalu jarak tempuh masih bisa dicapai dalam waktu 10 menit, sekarang sudah bersyukur jika pada jarak yang sama,  bisa dicapai dalam waktu  setengah jam sampai dengan satu jam. Kadang melintasi jalan Fatmawati saja membutuhkan waktu lebih dari satu jam, bahkan saya pernah dari daerah belakang Citos (Cilandak Town Square) ke Brawijaya Square mencapai 2,5 jam, yang dalam kondisi normal  rata-rata bisa ditempuh paling lama setengah jam. Jika sore hari kemacetan bertambah parah, setiap kendaraan adu cepat, serudak-seruduk, mencoba melalui celah agar bisa cepat sampai tempat tujuan. Apalagi jika hujan, jangan ditanya lagi, bukan hanya padat merayap (istilah di radio) tapi sudah benar-benar berhenti. Namun jika hujan lebat, jalanan lumayan agak longgar karena sementara para pengendara sepeda motor berteduh dulu. Kadang tak jelas apa penyebab kemacetan tersebut, anehnya ada waktu tertentu, jalanan lancar, inipun menimbulkan pertanyaan.

Lanjutkan membaca “Sepeda motor vs Bajaj”

Mencoba Little Sheep Chinese Shabu-Shabu

Hmm…apakah anda pernah mendengar nama restoran ini? Saya baru sekali mendengar nama ini, saat seorang teman mengundang kami (berdua teman lain) untuk mencoba makanan ini, di Central Park BRI Semanggi. Makanan apa pula ini? Yang terbayang adalah mirip seperti Shabu-shabu yang pernah saya makan di restoran di puncak Wisma Nusantara. Tapi teman saya mengatakan kalau ini rasanya lain dari yang lain, pemiliknya seorang Chinese, seorang muslim. “Pokoknya enak deh bu, bahannya benar-benar asli (saya berpikir, memang ada bahan makanan yang tak asli?), cabenya betu-betul pedas (waduhh..mudah-mudah an perutku kuat), ” kata teman yang mentraktir. Tapi karena melihat semangatnya, dan biasanya promo dari teman ini kalau soal makanan memang sesuai aslinya, saya percaya.

Lanjutkan membaca “Mencoba Little Sheep Chinese Shabu-Shabu”