Oleh: edratna | Desember 7, 2010

Rumah Kenangan

Beberapa hari ini, saya lebih banyak mengerjakan segala sesuatu di rumah. Cuaca yang panas berganti hujan sepanjang malam, membuat badan terasa agak kurang nyaman. Dari FB teman-teman saya baca, banyak yang mulai merasakan badan meriang. Pada saat seperti ini, berada di rumah bersama keluarga merupakan momen yang menyenangkan dibanding jalan-jalan di Mal atau ke tempat yang lain. Mengobrol sambil makan kudapan di depan Televisi, rasanya mengingatkanku pada masa-masa yang lalu.

Minggu ini, saya membaca artikel di Kompas yang ditulis Samuel Mulia (SM), berjudul “Rumah Masa Lalu”. Saya menyukai tulisan SM yang menggelitik, penuh sindiran dan lucu, namun mengungkapkan kebenaran dan gaya hidup masyarakat di Indonesia. Kali ini SM menceritakan tentang Rumah Masa lalu, yang diilhami setelah dia menonton film, yang menceritakan seorang anak yang merasa keberatan untuk pindah rumah karena ia merasa itulah tempat yang ternyaman. Padahal keluarganya harus pindah karena kesulitan keuangan, dan ibunya harus hengkang dari rumah yang dianggapnya paling tentram buatnya itu.

Walau hidup dari keluarga sederhana, syukurlah kami (saya dan adik-adik) tak pernah merasakan perasaan seperti ini. Hanya sekali, timbul masalah saat ayah ibu boyongan ke rumah sendiri, setelah sebelumnya tinggal di rumah kontrakan. Saat itu kedua adikku masih balita, saya sendiri kelas IV SD. Saya punya sahabat bermain dan teman sekelas di SD dekat rumah,  sepulang sekolah saya sering mampir ke rumah teman dan entah kenapa saya selalu tertarik pada tanaman yang ada di halaman rumah teman, sehingga seringkali orangtua teman memberikan sebagian tanaman untuk di tanam di rumah. Ayah yang mengetahui kegemaran putri kecilnya, membantu mengolah sebidang kecil tanah di halaman depan untuk ditanami bunga-bunga an, dan jika bunga ini mekar, saya dan adik-adik senang bermain di halaman ini. Rupanya ini yang membuat kedua adikku ngambeg nggak ingin pindah ke rumah baru. Akhirnya ayah menanam bunga dulu di rumah baru, supaya kedua adikku mau pindah.

Rumah masa kecil yang penuh kenangan

Kami tinggal di rumah ini sampai lulus SMA yang mengharuskan kami kuliah di luar kota. Kebetulan kuliahku di Bogor, kota hujan yang banyak bunga indah, jadi setiap kali pulang kampung, saya suka membawa satu pot tanaman untuk ditanam di rumah orangtua. Di rumah ini, kedisiplinan, budaya demokrasi yang diletakkan ayah ibu di rumah,  membuat kami maupun teman-teman krasan berada di rumah. Rumah orangtuaku seperti rumah terbuka, teman-teman kelompok belajar, teman latihan menari, sering ikut menginap di rumah kalau malam libur. Bahkan teman adikku akhirnya ingin tinggal di rumahku untuk ngekost, demikian juga teman adik bungsuku. Masih teringat jelas, bagaimana saya memutari halaman berkali-kali setiap kali libur panjang telah usai dan harus kembali ke Bogor untuk melanjutkan kuliah. Betapa sedih melihat lambaian tangan ibuku, yang saya tahu disertai tangisan yang ditahan untuk melepas putrinya agar mendapatkan bekal untuk hidup kelak.

Setelah menikah, saya mengontrak rumah, dan kemudian mendapatkan rumah dinas. Kami tinggal lebih dari 23 tahun di rumah dinas, saking enaknya, selain dekat dari mana-mana juga lingkungan menyenangkan, ada satpam 24 jam, serta anak-anak terjamin jika ditinggal tugas ke luar kota karena tetangga saling kenal dekat. Saat tinggal di rumah dinas ini, rumahku juga jadi persinggahan teman-teman anakku, karena saya dan suami berprinsip, biarkan teman anak-anak yang main ke rumah agar kami bisa mengawasi, dibanding jika mereka yang bermain ke rumah teman nya. Setelah anak-anak masuk Perguruan Tinggi, teman anakku yang mau magang di perusahaan di Jakarta juga tinggal di rumah selama 3 (tiga) bulan. Pernah terjadi, teman anakku yang kuliah di Bandung, lebih dari sepuluh orang menginap di rumah,  kebetulan ada acara di Jakarta dan mengerjakan tugas….si mbak yang sudah terbiasa tak mengeluh. Saya dan suami  memberi kebebasan pada anak-anak, yang penting mereka menjaga etika dalam bergaul. Ini tak berlaku untuk anakku saja, namun keponakanku juga sering mengajak temannya menginap di rumah. Suami yang dosen di salah satu Perguruan Tinggi Seni, memang suka dengan anak-anak. Hal yang wajar jika melihat para mahasiswa datang ke rumah, begitu juga suami menerima dengan tangan terbuka jika teman-teman anaknya datang ke rumah.

Rumah sekarang dan tanaman depan pagar

Kondisi ini berubah, setelah anak dan keponakan makin besar, apalagi setelah mereka bekerja dan mempunyai rumah tangga sendiri. Dan sayapun harus meninggalkan rumah dinas bersama kenyamanan nya, namun saya dan suami berusaha agar rumah kami sendiri, yang luasnya hanya sepertiga dari rumah dinas tetap terasa nyaman. Saya dan suami juga menerapkan efisiensi, karena memang rumah ini dibangun untuk pensiunan, hemat listrik dan hemat energi, sehingga rumah dibuat dengan banyak udara terbuka, dan diberi glasswool supaya rumah terasa dingin saat siang hari. Tentu saja ini jauh kurang nyaman dibanding jika menggunakan AC, namun karena saya memang tak tahan dingin maka kekurangan ini tak menjadi masalah. Baru timbul masalah jika ada tamu menginap di rumah dan terbiasa memakai AC, makanya saat mbak Tuti menginap di rumahku, saya agak deg-deg an juga…waduhh mbak Tuti kepanasan nggak ya.

Rumah orangtua merupakan rumah kenangan masa kecil, yang sulit dilupakan, namun kita tak bisa berhenti di sana. Sebagaimana layaknya rumah tua, maka arsitekturnya memang dibuat tinggi, dan lubang untuk angin banyak sekali. Dulunya, halaman rumah di depan dan di belakang penuh dengan pohon buah-buah an, membuat teman-teman kami senang datang bermain dan disuguhi buah-buah an langsung dari pohon. Biaya hidup di Jakarta, serta harga tanah yang mahal, tak memungkinkan saya membeli rumah dengan tanah yang luas, jadi impian punya rumah dengan tanah yang luas tinggal impian belaka. Impian saya kemudian berubah, yaitu punya rumah di Jakarta Selatan, walaupun hanya berukuran 100 meter persegi, agar bisa dekat dari mana-mana, jika anak atau keponakan yang ingin mencari pekerjaan setelah lulus kuliah bisa sementara tinggal di rumah ku. Syukurlah setelah susah payah menabung, Allah swt berkenan membuat saya dan suami mewujudkan keinginan tersebut. Telah banyak rekan-rekan narablog yang mampir mengunjungi rumahku, rumah kecil mungil, namun saya sungguh sangat menyukai nya. Kita memang harus terus maju ke depan, biarkan kenangan tinggal merupakan kenangan, namun kita tetap berpikir maju, menyongsong kehidupan yang terus berputar ini.

Awal bulan Nopember yang lalu, saat ada kunjungan ke UNS, saya diajak teman menginap di rumah masa kecilnya. Saya senang sekali, membayangkan bagaimana dulu teman saya bersama orangtua, kakak dan adiknya mengobrol, berinteraksi di ruang keluarga. Teman saya cerita, bagaimana dia mesti bangun pagi-pagi agar tak berebut ke kamar mandi. Seperti layaknya rumah jaman dulu, kamar mandi hanya satu, dengan risiko semua harus saling menenggang rasa agar tak berlama-lama di kamar mandi. Tentu saja, saat ini kamar mandi rumah temanku telah ditambah, namun cerita ini mengingatkan saya pada masa kecil saya dan adik-adik, walau rumah kami besar, kamar mandi dan WC hanya satu….dan tentu saja kami harus bergiliran. Entah kenapa, saat itu merupakan hal yang biasa, tak terbayangkan jika terjadi saat ini. Walau rumah saya kecil, suami menyediakan kamar mandi dan WC ada 5 (lima) dan salah satunya adalah kamar mandi dan WC untuk si Mbak, yang lokasinya di dekat kamar si mbak. Akibatnya, kami tak harus berebut sekarang jika pergi ke kamar mandi, malah bisa berlama-lama, menikmati berbagai kegiatan di kamar mandi. Saya teringat pula teman satu angkatan waktu kuliah, dia cerita sering belajar…di WC…karena katanya lebih mudah menyerap pelajaran karena terasa hening dan sejuk.

Iklan

Responses

  1. Ibuuuuuuu kamar mandi dan WC nya lima? waaaah asyik banget, satu orang satu hehehe. Nanti kalau saya mudik, boleh mampir ke rumah ya bu? (Waktu itu malah niat mau masak tuh…tapi ibu bilang peralatannya ngga ada :D)

    Rumah saya di jkt masih rumah kenangan, yang mudah-mudahan bisa bertahan terus. Tapi saya ingat saya sedih waktu mendapatkan rumah kuno di Bogor, berubah banyak setelah oma dan opa meninggal. Dulu tegel seluruh rumah di situ batu kali yang dingin. Juga Kamar mandinya airnya juga masih dingin sekali sehingga kami enggan buang air di sana hehehe.

    EM

    Tentu saja boleh…..ayoo…
    Memang, perlengkapan masakku sederhana, maklum nggak bisa masak. Dan lagipula, mau beli yang mahal, nanti yang pake si mbak belum tentu paham…..karena pernah dapat si mbak baru, apa-apa rusak (ini alasan untuk ngeles…sebenarnya saya pengin juga bisa masak yang cepat tapi enak). Tapi kalau kedua mbak yang sekarang, sudah ikut diatas 10 tahun dan mereka yang sering menyarankan beli ini itu…..hehehe
    Aku tunggu ya Imelda….boleh kok merasakan nginep di rumah, walau kecil kamarnya lumayan….apalagi kan anak-anak di luar semua.

  2. Kenangan manis yang ngangeni ya bu. Sayang sekali rumah masa kecil saya sudah tiada lagi. Tapi memorinya masih tertinggal di hati.

    Betul pak..
    Kami, anak-anak nya berusaha agar rumah ayah ibu terus ada, tapi kami sendiri juga makin bertambah usia dan makin senja….

  3. Jadi terpikirkan untuk mendokumentasikan Si Rumah, mumpung belum hengkang 😀

    Betul…
    Sayang dokumentasi saya pas tinggal di rumah kontrakan, rumah dinas, udah nggak ada…..
    Kalau rumah sendiri lumayan lengkap..atau karena rumah sendiri ya?

  4. Saya seneng kok menginap di rumah Mbak Enny, meskipun sejujurnya … saya tidak tahan panas … hehehe 😀
    Di rumah saya selalu pakai AC, minimal kipas angin. Tapi nggak masalah kok, besok kalau menginap di rumah Mbak Enny lagi saya akan bawa daster batik yang sudah tipis, biar nyaman dipakai tidur (kan Bapak sudah diungsikan ke Bandung … hahaha …. wis jiaan , tamu tidak tahu diri 😀 ).
    Saya seneng ngamati buku-buku di kamar Narpen, tapi nggak berani buka, wong belum minta ijin sama yang punya …

    Hahahaha…mbak Tuti ngaku…
    Adikku juga bilang panas, kecuali kalau musim hujan….
    Kalau si pemilik rumah, bilangnya dingin….hehehe

  5. (Maaf) izin mengamankan KELIMAAAX dulu. Boleh, kan?!
    Rumahnya sekarang biarpun kelihatannya halamannya cuman sempit tetapi terlihat dimanfaatkan betul dengan aneka koleksi vegetasi.

    Betul….
    Rumah tanpa tanaman rasanya gersang…
    Dan betapa nyaman duduk-duduk di teras sempit, sambil membaca, minum teh dan merasakan angin sepoi-sepoi menyapa…

  6. salam kenal bu..
    bener loh bu, rumah kecil penuh dengan kenangan, ibu saya malah berpesan klo seandainya orang tua saya telah tiada jangan sampai rumah di jual karena penuh dengan cerita, biarlah rumah tetap ada sebagai warisan bagi kami para penerusnya.
    ibu saya pun sering menangis klo melihat saya pergi ke kota saya bekerja. ingin berkumpul seperti saya kecil dulu. 🙂

    Kami juga tak ingin menjual rumah kenangan, dan telah berjalan 24 tahun sejak ibu meninggal.
    Tapi jadi berpikir juga, kami bertiga makin menua, anak-anak kami tak punya kenangan di rumah itu (hanya sesekali ke sana…….karena saat nenek dan kakek tiada, bahkan belum lahir)….

  7. rumah masa kecil saya ada 2.
    1 di surabaya sejak saya lahir sampe umur 13 th. rumahnya rumah kuno dan besar. karena rumah kuno, sebenernya jadi creepy. tapi karena saya tinggal disitu sejak lahir, gak pernah merasa takut sih di rumah itu.
    dulu rasanya rumah ini gedeee banget. tapi setelah saya udah beranjak remaja, pas balik ke rumah ini lagi, kok berasanya jadi gak segede dulu ya? hahahaha.

    rumah masa kecil yang kedua di jakarta. dari umur 13 th sampe 27 th (sampe married). rumahnya jelas gak segede yang di surabaya, tapi nyaman banget karena ini kali pertama keluarga saya punya rumah sendiri. yang di sby itu rumah milik kakek nenek, jadi rumahnya selalu rame karena sodara2 sering dateng kesana. enak juga lho ternyata rumah sendiri gitu. lebih berasa ‘memiliki’. hehehe. dan di rumah jakarta ini pertama kali juga punya kamar sendiri, walaupun cuma untuk beberapa tahun sebelum kembali sekamar bareng kakak saya.

    sampe sekarang ortu saya masih tinggal di rumah yang sama. walaupun deg2an kalo ujan gede takut banjir, tapi tetep aja rumah itu rasanya nyaman banget. 🙂

    eh tapi rumah sendiri juga gak kalah nyaman… 🙂

    Tinggal di rumah sendiri mesti paling nyaman, karena kita berasa memiliki dan bahagia bisa menghasilkan uang yang dapat membangun rumah untuk membesarkan anak-anak kita. Betapapun kecilnya rumah kita…

  8. eh gara2 ngebayangin rumah2 yang pernah saya tinggalin ini, jadi mikir, kenapa kok rumah yang saya tinggalin tambah lama tambah kecil ya.. huahahaha.

    rumah pertama yang saya tinggali yg di surabaya itu adalah rumah terbesar yang saya pernah tinggal.
    rumah ortu saya di jakarta itu jelas lebih kecil dari rumah di sby.
    setelah married, saya bangun rumah sendiri di sunter, dan ini jelas lebih kecil dari rumah ortu saya.
    setelah pindah kemari, sekarang malah tinggalnya di condo yang jelas lebih kecil lagi dari rumah saya di sunter. huahahaha.
    tapi walaupun kecil, saya suka banget ama condo saya sekarang. nyaman rasanya. dan lagian jadi gampang bersih2nya karena kecil. kalo gede, duh gak kebayang kalo harus bersih2 sendiri begini. hahaha.

    Makin kecil, tapi makin nyaman kan Arman..
    Kalau orangtua dulu berpikirnya, punya rumah dengan ruang tamu dan ruang keluarga yang luas, agar kalau mantu tak repot. Anak sekarang berpikir, rumah kecil, mudah membersihkan dan dekat kemana-mana…..
    Itu juga prinsipku saat membangun rumah di Cilandak ini…biar kecil dan sederhana tapi dekat ke -mana-mana…

  9. Hihihi, sama seperti di keluarga saya, kamar mandi ada lebih tiga, untuk empat anggota keluarga. 😀
    Jadi, dulu waktu saya dan adik saya masih kecil, kami bisa mandi sekaligus, jadi sekolah nggak terlambat. 😆

    Rumah zaman dulu, kamar mandi besar, hanya satu dan diletakkan di belakang….
    Repot kalau malam-malam ingin ke toilet….
    Orang sekarang, rumah kecil, tapi kamar mandi lebih dari satu…

  10. minggu ini saya mau pulang kampung halaman ke rumah di kampung tentunya, artikel ini cocok buat timing saya sekarang…heee

    Semoga sempat membuat foto rumah kenangan ya kang Boyin

  11. Rumah masa kecil itu ya rumah yang sekarang ditempati kedua orang tua dan adik saya, Bu jadi belum jadi rumah kenangan tampaknya hehehe

    Rumah kenangan bagiku malah rumah yang dulu kami tempati di Kebumen sebelum saya hijrah ke Jogja taon 93.

    Kadang saya sering ngalamun datang ke rumah Kebumen.. kangen 🙂

    Dalam cerita di blogmu, suka kadang terselip cerita rumah di Kebumen ini…
    Kelihatannnya Donny terkesan sekali dengan rumah ini, malah mungkin lebih berkesan dibanding rumah di Klaten ya?

  12. jadi ingat rumah nenekku dulu yg masih rumah panggung dgn jendela besar-besar.

    Masih punya fotonya?

  13. waduh, rumah masa kecilku tersebar di mana2 karena ortu pindah tugas melulu, baru 2 rumah yang pernah didatangi lagi

    Dan dulu belum ada FB ya…dan tak terpikirkan untuk membuat foto…

  14. waktu kecil saya sampe 4x pindah Bu
    yg pertama, di rumah nenek di Pajajaran Bandung.. rumah jaman Belanda, lengkap dengan paviliun, atap tinggi, halaman belakang luas dan pohon mangga.. kalo malem2 jadi nyeremin tapinya, mangkanya ga pernah berani ditinggal sendiri di sini hahahaha
    yg kedua, di rumah buyut di Kuningan.. sama kayak yg pertama, rumah tua juga.. halaman belakangnya luass banged.. bahkan ada kuburan keramatnya hahahahah (kata Ibu aldi sih, sampe akhir 80-an masih suka ada yg numpang tirakat di situ)
    yg ketiga, rumah kontrakan orang tua di Cikaso Bandung.. rumah kecil, tapi rumah pertama orang tua waktu mandiri
    yg keempat, di Ujung Berung Bandung.. yg sekarang justru ikut ditinggali anak dan istri hehehehe

    dan sekarang, mencoba membangun rumah kenangan juga buat anak2 aldi Bu ehehehee

    Wahh semoga rumahmu menjadi kenangan yang menyenangkan buat anak-anakmu..

  15. ah iya,
    sekarang kayaknya agak susah ya Bu buat tinggal di rumah dinas?
    antriannya panjang….

    Zaman saya antriannya juga panjang…kemudian malah banyak yang nggak mau, gara-gara lebih memilih uang dan tinggal di rumah sendiri.
    Saya memilih rumah dinas, agar anak-anak punya teman main sepantaran….dan saya bisa bekerja dengan tenang, karena tetangga teman sekantor semua.

  16. aku baru liat dari luar aja sih,belum pernah masuk rumah bu enny yg sekarang hehehe 😛

    Hahaha..lha waktu itu kok nggak ikutan masuk….

  17. Rumah kenangan saya hanya ada dalam kenangan saja lagi Bu. Soalnya lokasi rumah itu sudah berubah menjadi pasar. Ya, rumah itu adalah rumah di masa kecil saya dulu di kota Duri. Itu memang rumah kontrakan, tapi saya merasakan kenangan yang luar biasa indah di situ. Setelah kami pindah ke rumah sendiri, saya masih sering main ke situ. Tapi, sekarang, semuanya sudah tidak ada lagi, karena sudah berubah jadi pasar… 🙂

    Tapi…kenangan nya tetap tersimpan di hati kan, Uda?

  18. klo saya sejak kecil sampe sekarang ga pernah pindah rumah, masih tetap aja di rumah yang dulu…
    jadi ga punya kenangan apa-apa dech 😀 hehehe…

    Lho! Justru ceritanya kan malah panjang.
    Di rumah itu pertama kali masuk sekolah diantar ayah…dirumah itu pula merayakan kebahagiaan mendapat juara satu
    Dirumah itupun tertunduk kelu saat menemui kegagalan (entah apa)…

  19. rumah kenangan fety juga rumah masa kecil, bu.

    Ayo Fety, cerita…pasti banyak cerita kenangan di rumah itu…

  20. Sayang rumah kenangan ku saat kecil dulu (di Surabaya) sudah tidak ada yang menempati karena orangtua sudah tidak bekerja jadi ikut anaknya. Karena kami gak mau beliauy berdua sendirian disana. Kalau rumahku sekarang, meski gak sebagus dan seluas itu tapi cukup nyaman buatku serta keluargaku.
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    Betapa bahagianya, bisa mengajak orangtua untuk tinggal bersama dan merawat beliau…

  21. sampai sekarang jika saya pulang kampung saya menikmati rumah meski keadaannya telah berubah. Mengingat lekuk ruang masa lalu meski ruang pun telah berubah. Indah ya Bu 🙂

    Betul Achoy, kenangan yang indah, mengingat kebersamaan kita bersama keluarga

  22. Rumah masa kecil, masih ditempati sampai sekarang sama bapak dan mama, tapi suasananya sudah tidak senyaman dulu, banyak pendatang baru, dan makin sempit lahan bermain 😦
    Rumah kenangan memang selalu menyenangkan.

    Iya…makin banyak manusia, jalan diperlebar, karena dibutuhkan kendaraan yang lewat.
    Dan di hati dan pikiran kita hanya tinggal memori…

  23. saya juga punya satu rumah kenangan tapi kini rumah itu sudah dijual, saya dan adik masih sering mimpiin rumah itu. berharap suatu hari nanti kami bisa memiliki kembali rumah kenangan itu 😦

    Semoga harapanmu terkabul..
    Siapa tahu Tuhan memberikan rumah lain yang lebih indah dan manis?

  24. Sejauh ini baru berpindah domisili 3x dan alhamdulillah semua rumah membawa kenangan indah… (bahkan 3 rumah kost jaman di bogor dulu juga berpartisipasi menyumbang kenangan indah, hehe…. )

    Ayo Mechta, cerita suka dukanya di rumah kost…dan suasana Bogor saat itu…pasti menarik

  25. rumah kenanganku sudah tak ada lagi ,Bu, krn sudah berubah menjadi mall dan jalan raya besar.
    namun, kenangan akan rumah tsb bersama2 teman2 waktu kecil tetap tersimpan di hati 🙂

    asiknya Bu, rumah ibu kmr. mandinya sampai 5bh, tentu bisa berlama2 didlmnya tanpa mengganggu penghuni yg lain ya 🙂
    salam

    Betul Bunda..yang penting kenangannya…
    Setelah besar, semua keluar dari rumah kenangan tersebut, ada juga yang sudah menjadi jalan karena pelebaran
    namun kenangan manis tetap menyertai langkah kita, yang membuat kita menjadi seperti ini.

  26. Rumah masa kecilnya asri sekali bu, Saya suka dengan bangunan2 rumah jaman dulu. Kalau orang tua saya dulu pindah2 rumah karena masalah air bersih, ketika air PDAM tidak mengalir dan terpaksa harus membeli air dari pedagang beroda maka saat itulah Kami akan mencari tempat tinggal yang baru.

    Itu mode rumah yang dianggap paling diminati saat itu. Rumah dengan paviliun, dengan ruang keluarga besar, yang diharapkan dapat menampung tamu saat mantu…

  27. Aiiii…rumah kenagan pasti nggak ada habisnya diceritakan..
    rumah kenagan saya di masa kecil ya cuma satu-satunya yang berkesan hingga sekarang dan saya kangenin..
    Saya pernah tulis tentang rumah kenangan itu di

    http://nanaharmanto.wordpress.com/2009/08/29/sarang-merpati/

    wah…. pakai promo link ditangkap Pak Satpan nggak ya? 🙂

    Salam hangat selalu, Bu Enny…

    Saya membaca artikelmu itu…dan terasa manis..bukankah tulisan Nana selalu membuat orang kangen datang lagi?

  28. Wah baca postingan bunda kali ini saya jaditeringat rmh kenangan masih kecil dulu. Sayang nggak sempat diabadikan dgn baik, ah semoga saja bunda saya masih simpan foto2 dulu meski mungkin nggak lengkap dan bagus, karena dulu kami bbrp kali pindah rmh dinas bunda, dari satu tempat ke tempat yang lain, skrg rmh2 itu sepertinya sdh dihancurkan. Krn perluasan lahan dll maklum rmh dinas semua bun 🙂

    Hem kpn yah bisa main ke rmh bunda ? Hahaha ….

    Best regardn
    Bintang

    Ayo kapan main? Kalau lagi ke Jakarta Selatan, kabari ya..ntar japri aja…siapa tahu bisa ketemuan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: