Mengapa Perlu Gap Analysis dalam Implementasi Sistim Penilaian (Assessment Center System)

Dalam rangka mendukung pencapaian Visi Misi Perusahaan dan upaya untuk meningkatkan competitive advantages, diperlukan pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu menciptakan nilai tambah pada setiap fungsi utama dalam employee life cycle mulai dari Pengembangan Organisasi (Organization Development), Pemenuhan Sumber Daya Manusia (Workforce Fulfillment), Pelatihan dan Pengembangan (Learning & Development), Hubungan Kepegawaian (Employee Relations), Manajemen Kinerja dan Sistem Imbalan (Performance Management & Rewards) serta Manajemen Talent dan Suksesi (Talent & Succession Management).

Lanjutkan membaca “Mengapa Perlu Gap Analysis dalam Implementasi Sistim Penilaian (Assessment Center System)”

Iklan

Bagaimana cara membuat perjanjian yang baik?

Sering kita membaca dan mendengar, ada dua pihak berperkara karena terjadi pelanggaran dari salah satu pihak atas perjanjian yang dibuatnya. Kita sering tidak membaca secara teliti apa yang telah dibuat dalam perjanjian, entah perjanjian kerjasama, perjanjian kredit, perjanjian jual beli properti dan sebagainya, karena kita menganggap sudah diserahkan kepada notaris. Yang perlu dipahami, bahwa kita sendiri yang akan rugi jika nanti terjadi masalah hukum di kemudian hari. Begitu kita menanda tangani sebuah perjanjian, maka sejak saat itu, risiko hukum terbuka, baik risiko karena terjadinya wan prestasi dalam kontrak atau karena sebab-sebab lain.

Syarat sahnya perjanjian menurut 1320 BW: 1) Adanya kesepakatan. 2) Kecakapan. 3) Suatu hal tertentu. 4) Suatu sebab yang halal. Akibat tidak memenuhi persyaratan tersebut, yang terjadi adalah: a) Jika tidak memenuhi syarat subyektif, dapat dibatalkan. b) Jika tidak memenuhi syarat obyektif, batal demi hukum. Lanjutkan membaca “Bagaimana cara membuat perjanjian yang baik?”

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan Kerja Sama

Suatu ketika saya dimintai saran seorang teman, yang kebetulan bergerak dibidang jasa konsultasi. Dia bingung karena pekerjaan untuk memberikan jasa konsultasi ke perusahaan klien kurang berjalan mulus. Apa yang salah? Dari obrolan, waktu untuk mendapatkan data molor karena: a) Orang-orang yang seharusnya memberikan data terlampau sibuk. b) Data yang diberikan salah, dan tidak up to date. c) Masing-masing orang yang diwawancara untuk mendapatkan data saling bertentangan. d) Yang penting lagi, tak ada struktur organisasi yang jelas, tak ada garis yang jelas, siapa lapor siapa, juga garis koordinasi. Namun sebetulnya hal tersebut bisa diatasi atau diminimalkan (karena risiko molor akan selalu ada), jika sejak awal, sejak pembuatan proposal telah ditegaskan bagaimana rencana kerja yang jelas, ada Tim Counterpart dari pihak klien, ada batas waktu pengerjaan setiap tahapan nya, deliverable nya jelas, sehingga nantinya tak ada pertentangan lagi  apa yang dimaksud dengan proyek telah selesai dikerjakan.

Lanjutkan membaca “Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan Kerja Sama”

Evaluasi Pengembangan dari Hasil Pelatihan

Evaluasi pelatihan membandingkan hasil-hasil sesudah pelatihan, sesuai  tujuan yang diharapkan oleh manajer, pelatih dan peserta pelatihan. Evaluasi pengembangan dari hasil pelatihan dapat dilihat dari level organisasi maupun level Individu. Donald L.Kirkpatrick  mengidentifikasikan, ada 4 (empat) tingkatan pelatihan yang dapat dievaluasi,  dilihat dari level organisasi, yaitu:

  1. Lanjutkan membaca “Evaluasi Pengembangan dari Hasil Pelatihan”

Merancang Aktivitas Pelatihan untuk Mengembangkan Kualitas SDM

Bagaimana sebuah perusahaan merancang aktivitas pelatihan untuk para pekerjanya, untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga kompetensi pekerja sesuai kebutuhan perusahaan? Untuk mengembangkan pelatihan di perusahaan, maka harus ditentukan apa tujuan dan prioritas pelatihan, apa saja yang harus diperhatikan dalam merancang pelatihan, serta bagaimana kesiapan pengajar dalam melakukan pelatihan yang dimaksud. Setelah kebutuhan pelatihan dapat diidentifikasi menggunakan analisis yang sesuai, tujuan dan prioritas pelatihan ditetapkan dengan menggunakan analisis kesenjangan (antara kapabilitas organisasi dan kemampuan pekerja nya).

Lanjutkan membaca “Merancang Aktivitas Pelatihan untuk Mengembangkan Kualitas SDM”

Mengelola Pendidikan dan Pelatihan secara berkelanjutan untuk Mendukung SDM yang bisa bersaing

Pelatihan adalah sesuatu yang kita harap dapat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pola pikir setiap manajer (Chris Landauer)

Sifat Pelatihan

  1. Pelatihan adalah sebuah proses dimana orang mendapatkan kapabilitas untuk membantu pencapaian tujuan-tujuan organisasi.
  2. Tekanan kompetitif menuntut organisasi merekrut pekerja yang memiliki pengetahuan, ide cemerlang, ketrampilan dan kemampuan, yang dapat memberikan hasil maksimal.
  3. Terdapat berbagai variasi dalam organisasi, orang-orang yang bekerja di dalam nya, lingkungan sekitar yang mempengaruhi pengelaman pekerja, serta proses pembelajaran.

Lanjutkan membaca “Mengelola Pendidikan dan Pelatihan secara berkelanjutan untuk Mendukung SDM yang bisa bersaing”

Kewirausahaan sosial, makin diminati perusahaan?

Saya tertarik dengan tulisannya Yoga, yang membahas “Kewirausahaan Sosial Tak Bisa Dianggap Kecil” di sini, dan ingin menggali lebih dalam, apa yang dimaksud dengan kewirausahaan sosial. Wirausaha menurut KBBI, adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi produk baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya. Kewirausahaan sosial adalah disiplin ilmu yang menggabungkan antara kecerdasan berbisnis, inovasi, dan tekad untuk maju ke depan. Kewirausahaan sosial diharapkan berperan banyak dalam kehidupan masyarakat sekitar lingkungan usaha atau oleh masyarakat luas sehingga dampak positifnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Kewirausahaan sosial bisa menghasilkan produk berupa barang/jasa, ide kreatif yang langsung diimplementasikan sehingga berdampak luas.

Kewirausahaan sosial, ada juga yang mengatakan dengan istilah  social business adalah suatu aktivitas yang tujuan utamanya untuk sosial, yang dikelola dengan pendekatan bisnis. Semua kegiatan bisnis yang ada dalam perusahaan untuk satu  tujuan, yaitu kegiatan sosial, sehingga semua dana yang diperoleh akan digunakan untuk kepentingan sosial wajib dikelola dengan memperhatikan kelangsungan bisnis. Hal ini berbeda jika murni usaha sosial, ketika dana yang diperoleh habis, tak ada kelanjutannya. Sebagai contoh, dana sosial Bill Gates,  tidak semua nya berasal dari dirinya sendiri, namun juga menerima kontribusi dari berbagai kalangan. Kontribusi ini tentu saja tak dapat diandalkan, sehingga bagi siapapun yang ingin terjun dalam kewirausahaan sosial, harus bisa mengandalkan  dana sendiri, disamping itu bisa memperoleh dana dari CSR (Corporate Social Responsibilities) perusahaan. Dana CSR ini juga mengalami pasang surut, sejalan dengan pasang surutnya perusahaan itu sendiri.  Berdasar pengamatan, sekarang makin banyak perusahaan yang melakukan CSR sendiri. Nilai yang diperoleh dari perusahaan yang melakukan CSR nya sendiri adalah masyarakat lebih mengenal perusahaan tersebut, yang tidak hanya bergerak di bidang bisnis, namun juga memperhatikan tanggung jawab sosial masyarakat……sehingga nilai perusahaan meningkat di mata masyarakat, membuat masyarakat juga loyal pada produk yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut, karena tahu sebagian dana keuntungan akan kembali ke masyarakat.

Lanjutkan membaca “Kewirausahaan sosial, makin diminati perusahaan?”