BELAJAR DARI PENGALAMAN

Seorang filsuf Yunani mengatakan,

orang pandai belajar dari pengalamannya dan orang bijak belajar dari pengalaman orang lain, tetapi orang bodoh tidak belajar apapun.”

Saat James Lam memulai program manajemen risiko di Fidelity Investment tahun 1997, konsep penting yang diangkatnya adalah mengembangkan kesadaran akan arti penting manajemen risiko didasarkan “pembelajaran dari pengalaman” dan “praktek bisnis.” Pertemuan rutin yang diadakan oleh pimpinan perusahaan, pimpinan Departemen, senior manager, dan manager, membahas pembelajaran dan pengalaman buruk perusahaan yang bergerak di industri keuangan seperti Barings Bank dan Kidder, Peabody. Para peserta mengkaji rangkaian peristiwa, akar permasalahan serta dampak finansial dan bisnis yang terjadi. Fokus pembahasan yang paling penting adalah bagaimana perusahaan (Fidelity Investment)  dapat menghindari permasalahan yang sama.

Lanjutkan membaca “BELAJAR DARI PENGALAMAN”

Iklan

Menyiapkan buah hati jika ibu harus bekerja di luar rumah

Sms masuk ke hapeku menjelang Magrib….”Ibu, bagaimana ya cara menguatkan hati untuk meninggalkan anak di rumah. Saya nggak tega begitu tahu Ara nggak bisa tidur sesiangan ini, belum lagi dia susah minum susu.” Ara selama ini minum asi dari mama nya, jika sesekali ibu harus keluar rumah, meninggalkan botol asi yang sudah disimpan di lemari es, sehingga neneknya tinggal menghangatkan. Saya tersenyum membacanya, kenanganku kembali berputar sekitar awal 80 an, saat anak-anak masih kecil. Aturan cuti melahirkan di kantorku adalah 3 (tiga) bulan, dengan aturan 1,5 bulan sebelum dan 1,5 bulan setelah melahirkan. Bayangkan harus meninggalkan anak setelah umur 6 minggu untuk kembali bekerja, benar-benar perjuangan yang harus dilalui, ditambah saya tak punya siapa pun untuk membantu momong anak, kecuali bibi, karena ibu saya saat itu masih bekerja sebagai Kepala Sekolah yang cukup sibuk, sedang ibu mertua wafat saat saya masih hamil muda.

Lanjutkan membaca “Menyiapkan buah hati jika ibu harus bekerja di luar rumah”

Telepon

Terimakasih buat yang menemukan benda bernama telepon ini, karena benar-benar sangat berguna. Teknologi telepon telah maju pesat, tentu kita masih ingat zaman telepon masih pakai ontel, yang setiap kali bicara nyaris setiap orang dari dari jarak 10 meter bisa mendengar. Saya masih ingat, jika mau menelpon, apalagi cuaca gerimis, maka harus berteriak agar yang di ujung sana bisa mendengar, itupun kadang terputus-putus.  Biaya telepon cukup mahal, dikotaku tak semua rumah tangga punya telepon. Saat saya dan adik-adik  sudah bekerja  dan tinggal di kota lain,  saya dan adik-adik ingin memasang telepon di rumah agar mudah menghubungi ibu, ternyata tak semudah itu, karena jaringannya terbatas.

Lanjutkan membaca “Telepon”

Jika risiko dan sanksi telah terjadi….

Akhir-akhir ini berbagai pemberitaan negatif menimpa industri jasa keuangan, bahkan sebuah majalah memberikan headline pada pemberitaan nya “Reputasi Bank di tepi jurang” untuk terbitan barunya. Kondisi Bank yang terkena masalah, akan selalu menimbulkan goncangan pada Bank lainnya,  karena masyarakat akan selalu mewaspadai isu tentang industri jasa keuangan, bagaimanapun sebagian besar uang masyarakat tersimpan disana. Jika sebelumnya Citibank yang mendapatkan sorotan akibat kasus MD dan kaitan dengan Debt collector, maka Bank Mega juga mendapat sorotan. Pada halaman 19, Kompas tanggal 25 Mei 2011, terdapat judul berita “Bank Mega Kena Sanksi: BI melarang pembukaan Kantor Baru.” Bagi Bank yang terkena, hal ini memerlukan pekerjaan rumah yang sangat berat, agar bisa membalikkan keadaan. Sebelumnya saya pernah membaca tentang kekawatiran narablog dalam tulisan di blog nya, bahwa sanksi yang dikenakan pada Citibank tidak tepat,  karena sebetulnya permasalahan di KK juga dilakukan oleh Bank lainnya.

Lanjutkan membaca “Jika risiko dan sanksi telah terjadi….”

Setelah libur panjang

Liburan panjang, karena ada cuti bersama (walau mendadak), menjadi mengesankan. Karena dadakan, tanpa ada rencana, adikku dan anak bungsunya yang dari Semarang ke Jakarta. Keponakanku, yang sedang job training di Cabang Muntilan juga ikut ke Jakarta, jadilah hari Minggu kemarin rumah ku benar-benar meriah. Rumah yang biasanya sepi, hanya saya dan si mbak, kadang ditambah suami (jika ada tugas ke Jakarta), menjadi penuh dan ramai, benar-benar seperti rumah. Agar tak membingungkan si mbak, yang sudah keteteran dengan kerjaan ekstra karena ada tamu, kami sepakat makan nya pesan saja. Jadi hari pertama pesan di Abuba,  steak abuba  menunya sekarang lebih bervariasi, ada steak salmon (cocok untuk yang mengurangi daging, namun sayangnya saat dipesan sudah habis, diganti dengan kakap), chicken steak, dan lain-lain nya. Keponakanku di Tangerang, yang anak kedua adik di Semarang, datang bersama isteri dan putri mungilnya yang berumur 8 (delapan) bulan. Kalau sudah seperti ini, rumah terasa kecil…..tapi tetap menyenangkan, karena tinggal gelar tikar, dan kita rame-rame mengobrol ber sahut-sahutan, sambil menonton TV.

Lanjutkan membaca “Setelah libur panjang”

Friendster dan Multiply

Awalnya punya friendster agar bisa terus terhubung dengan kedua anakku yang saat itu masih remaja, agar masih bisa memahami, mendengarkan celotehan anakku dan teman-temannya, berharap agar saya bisa menjadi ibu yang juga memahami kegiatan anak muda, bukan ibu yang menyebalkan dengan banyak larangan ini itu. Rasanya sudah lama sekali tak pernah melihat lagi account ku di friendster itu, apalagi setelah belakangan saya juga ikut membuka account multiply. Di Multiply saya bisa memajang foto kenangan, apalagi saat itu fasilitas di multiply memang lebih beragam, walau tak lama kemudian friendster juga menyusulnya.

Ada banyak kenangan di friendster, banyak foto-foto lama yang belum sempat di pindah, dan kemarin saya sadar, bahwa waktunya tinggal sebentar jika kita ingin memback up apa yang pernah kita up load di friendster. Dan pagi ini, saya mencoba mau memback up foto tersebut, baru berhasil satu, berikutnya mulai sulit. Apalagi rasa pusing seperti vertigo mulai menyerangku, akhirnya saya menilpon kedua anakku, yang menyarankan untuk memberikan nomor passwordku agar mereka bisa membantu memback up.

Tentang multiply, ini juga lama tak tersentuh. Minggu-minggu belakangan ini acara sangat padat dan melelahkan, dan baru hari ini terasa longgar. Badan kurang enak, membuatku berniat hari ini istirahat di rumah saja. Membaca blognya Donny, juga ndorokakung, membuatku ingin melihat seperti apa tayangan di multiply saat ini. Begitu membuka account multiply, mataku dikagetkan dengan berbagai tawaran barang-barang yang dijual, namun begitu masuk ke “my sites“…Alhamdulillah, semua masih utuh, termasuk foto-foto yang pernah di up load. Jadi, untuk kali ini, prioritas hanya untuk memback up foto di friedster saja…atau enaknya direlakan saja? Karena yang di multiply masih selamat.

Bagaimana kegiatan teman-teman, asyik memback up friedster?

Reuni, Reuni dan Reuni

Saya biasanya paling malas untuk datang pada acara-acara reuni ini, jika dihitung  dengan jari, belum memenuhi 10 jari sejak lulus kuliah.  Kesibukan pekerjaan, momong kedua anak sepulang kerja sudah menghabiskan waktu dan energi, bahkan yang namanya arisan pun jarang hadir, yang ujung-ujung nya tak ikut arisan. Kata teman saya (suaminya satu angkatan saat kuliah), “Kenapa ya kita sering mengadakan reuni saat suamiku sudah tiada?” Saya tak bisa menjawabnya, karena saya baru datang reuni dua kali untuk reuni teman seangkatan ini, pertama kali datang adalah saat 30 tahun setelah lulus, kemudian 35 tahun setelah lulus.  Kalau diperhatikan, semangat reuni itu muncul pada umur tertentu, 25 s/d 32 tahun adalah saat-saat baru lulus dan sudah bekerja, kumpul dengan teman akan mendapatkan info,  siapa tahu bisa jadi kutu loncat pindah ke perusahaan lain, yang lebih menarik, jika pekerjaan di kantor yang sekarang kurang menarik. Kemudian, adalah usia di atas 50 tahun, saat  usia ini mulai tengok kanan kiri, mencari teman-teman masa lalu, dimanakah mereka gerangan? Di satu sisi, jabatan dan kehidupan berkeluarga sudah mapan, sehingga bisa menyempatkan diri datang ke reuni.

Lanjutkan membaca “Reuni, Reuni dan Reuni”