Membangun semangat agar tidak padam…..

Apabila kita hanya sekedar membaca berita, menonton televisi, akhir-akhir ini sungguh terasa menyesakkan dan membuat kita pesimis. Namun hal itu tak boleh terjadi, karena orang yang pesimis sudah tak ingin apa-apa lagi, akibatnya akan makin terpuruk. Maka, marilah kita mencoba, dari diri sendiri dan lingkungan sendiri, agar selalu berpikir dan berbuat positif. Kita juga melihat, diantara keterpurukan, masih banyak yang bisa kita lihat orang-orang yang optimis, yang melihat hambatan sebagai peluang.

Lanjutkan membaca “Membangun semangat agar tidak padam…..”

Iklan

“PERGULATAN KELAS”

Di awal tahun ini saya mendapat email dari teman narablog (Bangaip), apakah saya bersedia menyempatkan waktu untuk menulis kata pengantar pada bukunya, yang diperkirakan akan terbit pada akhir Februari 2010. Buku tersebut akan diterbitkan secara Indie, dan tidak diniatkan untuk komersial. Jika saya bersedia, teman tadi akan mengirimkan mockup draft tulisan pdfnya. Saya termenung, bukan karena tak punya waktu, tapi terus terang saya belum pernah membuat kata pengantar pada buku yang akan diterbitkan.  Saya agak kawatir apakah kata pengantarku nantinya sesuai, namun akhirnya saya memberanikan diri untuk menjawab “Ya” sehingga teman tadi dapat mengirimkan mockup draft tulisannya lewat email.

Lanjutkan membaca ““PERGULATAN KELAS””

Ayah ibuku seorang Guru

Menyandang jabatan Guru, saat itu sangat dihormati dikampungku. Tetangga memanggil ayah, pak Guru atau mas Guru (kalau umurnya hampir sama atau lebih tua). Anehnya aku nyaris tak mendengar orang memanggil ibuku, mbakyu Guru…hanya bu Guru. Sebagai keluarga guru, maka ayah ibu sangat disiplin mendidikku beserta adik-adik, kata ibu, karena segala tingkah laku kita akan disorot orang, dan keluarga Guru dianggap panutan. Saat itu kampungku masih banyak pepohonan, tak ada pagar pembatas berupa tembok antar rumahku dan rumah tetangga, paling-paling pohon kemlandingan (petai Cina) yang dibuat pagar, selain berfungsi sebagai pagar, buahnya bisa dipakai bahan baku makanan “botok”.

Lanjutkan membaca “Ayah ibuku seorang Guru”

Pijat refleksi, jalan-jalan dan mencicipi nasi Bogana di suatu depot

Minggu kemarin badan sungguh terasa lelah, setelah hampir sebulan ini mondar mandir Jakarta Bandung dan banyak kegiatan. Sudah lama telapak kaki sebelah kiri terasa pegal dan sakit, kadang sakitnya sampai ke kepala (pusing sebelah), biasanya agak mendingan setelah dipijat refleksi. Cuma entah kenapa, jika sudah di rumah males sekali ke luar lagi, apalagi Jakarta akhir-akhir ini hawanya panas bukan main.  Jika sudah niat keluar rumah, harus segera berangkat pagi, nanti keburu males lagi…ini juga penyakit yang entah kenapa tak bisa hilang sampai  sekarang. Berbeda dengan teman saya, senang sekali jika diajak mengukur jalan, entah ke pasar, ke Mal atau kemanapun, asal keluar rumah. Mungkin saya termasuk orang “pomah” (istilah bahasa dikampungku, buat orang yang tak suka keluar rumah)…jadi rasanya setiap keluar rumah memang sudah ada rencana, apakah sekolah, kursus, bekerja, menghadiri undangan dan sebagainya. Jarang sekali, hanya sekedar yang penting keluar rumah untuk jalan-jalan, wah bisa-bisa di Mal malah bengong.

Lanjutkan membaca “Pijat refleksi, jalan-jalan dan mencicipi nasi Bogana di suatu depot”

Menunggu Komentar ke 15.000

Pada awalnya tak pernah terbayangkan jika blog ini bisa bertahan hidup sampai 3 (tiga) tahun lebih. Tepatnya blog ini diawali pada  akhir bulan Oktober 2006, yang untuk awal bulan selanjutnya saya tidak aktif bekerja lagi. Saat itu masih belum tahu apa yang hendak dikerjakan untuk membuat sibuk, rumah tinggal juga baru mulai dibangun, karena selama  masih aktif bekerja tinggal di rumah dinas. Memang terasa berat meninggalkan rumah dan kompleks, terutama karena disinilah anak-anak saya dibesarkan, bahkan si bungsu lahir di kompleks rumah dinas di bilangan Cipete ini.

Lanjutkan membaca “Menunggu Komentar ke 15.000”

Saat si kecil lebih dekat dengan mbak

Saat itu usia si kecil baru menjelang 2 (dua) tahun, sedang lucu-lucunya. Jika ibu mau pergi ke kantor, dan mobil jemputan datang, si kecil melambaikan tangan dengan riang. Begitu pula, jika dia mendengar suara mobil jemputan yang mengantar ibu pulang, dia melonjak-lonjak ingin segera ke pintu pagar, menjemput ibu yang turun dari mobil jemputan. Kami memang tinggal di kompleks, sehingga setiap hari bisa diantar jemput bersama teman satu kantor. Dan peserta mobil jemputan rata-rata karyawati, sehingga obrolan di jemputan tak jauh-jauh soal masalah anak sulit makan, anak sakit dsb nya.

Lanjutkan membaca “Saat si kecil lebih dekat dengan mbak”

Suatu pagi di sebuah kantor, di jalan Thamrin

Pagi itu, saat saya datang ke sebuah kantor, kantor masih sepi sekali. Masuk akal, karena jam masih menunjukkan jam 6.20 wib. Kenapa mesti datang pagi-pagi? Itulah sulitnya hidup di Jakarta, jika dalam keadaan normal, saya pesan taksi jam 7.30 wib, terkadang taksi datang satu jam kemudian, namun juga pernah datang dua jam kemudian dengan alasan jalan macet. Jadi, kalau mau pesan taksi, walau pesan semalam sebelumnya, maka yang bisa diperkirakan tepat waktu, adalah jika minta dijemput untuk jam sebelum jam 6.30 wib. Setelah itu, tak bisa ditanggung. Jadi, biasanya sopir akan datang 15 menit atau setengah jam sebelumnya jika pesanan sejak sehari sebelumnya. Seharusnya saya bisa tenang-tenang  saja, dan membiarkan pak sopir menunggu, namun entah kenapa saya merasa tidak nyaman jika ditunggu. Jadi, jika sopir taksi sudah datang, maka saya juga akan segera berangkat, risikonya ya seperti tulisan awal di atas…datang kepagian ke kantor.

Lanjutkan membaca “Suatu pagi di sebuah kantor, di jalan Thamrin”