Apa peran “Culture Capital” dalam meningkatkan Corporate Culture? (bag.2)

Apa yang dimaksud dengan budaya organisasi?

Moeljono (2005), mendefinisikan budaya organisasi sebagai sistem nilai-nilai yang diyakini semua anggota organisasi dan yang dipelajari, diterapkan, serta dikembangkan secara berkesinambungan, berfungsi sebagai sebagai sistem perekat, dan dapat dijadikan acuan berperilaku dalam organisasi untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.

Budaya organisasi dimanakah yang dapat memberikan kontribusi?

  • Fungsi ke-1: Budaya organisasi memberikan identitas-identitas yang khas terhadap anggota organisasi. Identitas ini membuat berbeda dengan anggota organisasi yang lain, sekaligus memberi pola identifikasi pada orang dimanapun berada.
  • Fungsi ke-2: Budaya organisasi merekatkan anggota organisasi satu sama lain, kepada institusi dan sistem organisasi. Perekatan ini membangun trust dari organisasi.
  • Fungsi ke-3: Budaya organisasi memberikan standar yang tepat untuk apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh karyawan. Budaya organisasi merupakan nilai-nilai yang menentukan perilaku dari individu manusia dalam organisasi.

Lanjutkan membaca “Apa peran “Culture Capital” dalam meningkatkan Corporate Culture? (bag.2)”

Iklan

Apa peran “Culture Capital” dalam meningkatkan Corporate Culture?

Catatan:

Tulisan ini, yang saya sarikan dari buku karangan bapak Dr. Djokosantoso Moeljono, juga dari tulisan di Kompas, dibagi dalam 2 (dua) bagian. Bagian pertama mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan “budaya” dan “budaya organisasi”, fungsi dan dinamika budaya organisasi, serta tujuh variabel yang mempengaruhi kesuksesan sebuah organisasi.

Selanjutnya pada bagian kedua, akan mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan budaya organisasi itu sendiri dan mengapa hal ini sekarang sangat penting, kemudian menceritakan bahwa budaya organisasi yang mapan dan sukses dapat menjadi modal untuk meningkatan kehidupan masyarakat dalam organisasi tersebut.

Semoga bermanfaat, karena bagaimanapun kita perlu meningkatkan budaya yang positif di masyarakat kita.

—————————————————————————————————————-

Perusahaan komersial pada umumnya mempunyai tujuan jangka panjang yang dilandasi oleh motif untuk menghasilkan nilai tambah bagi stakeholders. Untuk itu, perusahaan membutuhkan 4 (empat) pilar utama untuk mendukung, yaitu: 1) SDM yang bermutu, 2) IT yang terpadu, 3) Strategi yang tepat, 4) logistik yang memadai. Dalam pengelolaaan operasional perusahaan jangka panjang, peran SDM mempunyai kedudukan sentral yang strategis, karena: “asset make possibility, people make it happen.”

Lanjutkan membaca “Apa peran “Culture Capital” dalam meningkatkan Corporate Culture?”

Pendidikan dan Pelatihan terus…kenapa masih tak bisa?

Suatu sore,  saya kedatangan tamu dari daerah. Perusahaan tempat beliau bekerja pernah bekerja sama dengan tempat kerja saya sekarang. Disamping itu, saya beberapa kali memberikan pelatihan ke sana, tempat yang menyenangkan, alamnya masih indah, di sisi lain sumber daya manusia nya masih memerlukan dorongan untuk terus maju. Yahh kita tahu, bahwa negara kita ini sangat luas, dengan berbagai budaya yang sangat kuat, di satu sisi indah dan menyenangkan, namun di sisi lain saya akui, mahal sekali biaya akomodasi, apalagi untuk wilayah yang terdiri dari kepulauan, hutan dan pegunungan.

Lanjutkan membaca “Pendidikan dan Pelatihan terus…kenapa masih tak bisa?”

Menjaga keseimbangan

Neraca (gambar diambil dari http://www.google.com)

Keseimbangan, kata-kata ini sekarang banyak diperbincangkan. Bagaimana hidup sehat dengan menjaga gaya hidup yang seimbang. Betapa banyaknya orang menjadi sakit karena gaya hidup yang tak seimbang, bekerja terlalu keras, kurang istirahat dan  asupan gizi yang tak seimbang.  Gaya hidup  tidak seimbang, sering disebabkan karena tuntutan yang ada disekeliling kita. Jalanan macet, pekerjaan yang tak ada habisnya, membuat pola makan tidak sehat, serta waktu istirahat tak terpenuhi. Ini membuat stres dan menyebabkan berbagai macam penyakit. Selain itu, banyaknya Mal, pusat perbelanjaan, yang selain memudahkan kaum pekerja untuk belanja barang  kebutuhan pokok sepulang kantor, membuat orang menjadi konsumtif, ini didukung pula adanya kemudahan untuk mendapatkan kartu kredit. Tanpa pemahaman yang cukup, pemegang kartu kredit membelanjakan uang nya tanpa pikir panjang, yang akhirnya berakibat pada malapetaka, entah karena dikejar penagih hutang, atau terpaksa menjual asetnya untuk melunasi hutang yang seharusnya tak perlu dilakukan, jika melakukan gaya hidup seimbang, yaitu seimbang antara pendapatan dan pengeluaran.

Lanjutkan membaca “Menjaga keseimbangan”

Mencoba berdamai dengan diri sendiri

Kapankah kita merasakan damai di hati? Sering, atau nyaris tidak pernah? Pertanyaan tentang perasaan damai ini seperti pertanyaan tentang bahagia. Apakah kita telah merasa bahagia? Banyak dari kita berpikir bahwa kedamaian, kebahagiaan baru akan tercapai jika keinginan dan standard hidup kita terpenuhi. Kenyataannya, keinginan manusia bergerak naik tanpa ada batasannya, jika yang satu terpenuhi, ada keinginan lain yang ingin dicapainya. Justru disinilah letak daya tariknya, keinginan yang terus meningkat menyebabkan manusia terus berusaha meningkatkan prestasi dan kinerjanya untuk mencapai keinginan tersebut. Di satu sisi, karena keinginan manusia tak ada batasnya, kita bisa menjadi stress, yang bisa pula berakibat apatis.

Lanjutkan membaca “Mencoba berdamai dengan diri sendiri”

Membangun semangat agar tidak padam…..

Apabila kita hanya sekedar membaca berita, menonton televisi, akhir-akhir ini sungguh terasa menyesakkan dan membuat kita pesimis. Namun hal itu tak boleh terjadi, karena orang yang pesimis sudah tak ingin apa-apa lagi, akibatnya akan makin terpuruk. Maka, marilah kita mencoba, dari diri sendiri dan lingkungan sendiri, agar selalu berpikir dan berbuat positif. Kita juga melihat, diantara keterpurukan, masih banyak yang bisa kita lihat orang-orang yang optimis, yang melihat hambatan sebagai peluang.

Lanjutkan membaca “Membangun semangat agar tidak padam…..”

Dapatkah menilai kompetensi perilaku?

Seorang calon staf, yang  IP nya bagus, dan berasal dari universitas terpandang di negeri ini, tergeragap saat ditanya oleh pewawancara, “Apa kompetensi yang anda miliki, sehingga kami harus menerima anda untuk bergabung dengan kami di perusahaan ini?” Hal tersebut wajar, karena kita tak terbiasa menilai  kemampuan kita karena kawatir dikira sombong. Bahkan orangtua yang setiap hari bergaul dengan anaknya (termasuk saya), lebih memilih mengajak anak ke ruang konsultasi psikolog, untuk mengetahui kompetensi apa yang dimiliki oleh anaknya. Padahal, sebagai orangtua, kita sebaiknya mendorong kemampuan anak-anak sejak usia dini, serta mencari tahu  apa bakat anak kita, agar mendidiknya tidak salah arah.

Lanjutkan membaca “Dapatkah menilai kompetensi perilaku?”