Wisata Kuliner selama menengok si bungsu di Toyohashi

Sebelum berangkat ke Jepang, si bungsu sudah wanti-wanti, agar siap-siap dengan makanan hambar (maksudnya tak terlalu asin, tak terlalu manis, dan tidak pedas). Saya menjawab dengan entengnya…”Lha kan ibu udah biasa makan makanan Jepang?” Jawab si bungsu…”Beda bu, makanan Jepang yang di Indonesia sudah di sesuaikan dengan lidah orang Indonesia, jadi rasanya lebih nendang”. Istilah nendang ini akhirnya sering jadi bahan diskusi saya dan si bungsu serta teman nya, yang orang Jepang. Dalam kondisi lelah, karena ketinggalan pesawat ke Osaka gara-gara pesawat Garuda dari Jakarta ke Bali rusak, maka penerbangan dialihkan ke Narita….padahal si bungsu sudah menunggu di Toyohashi (maklum, dari Toyohashi ke Osaka masih perlu naik kereta). Akhirnya sisa perjalanan dari Bali ke Tokyo (bandara Narita) saya lalui dengan berdoa….tak terasa akhirnya saya tertidur.

Lanjutkan membaca “Wisata Kuliner selama menengok si bungsu di Toyohashi”

Iklan

Mengunjungi Toyohashi City Art Museum

Kemarin seharian di apato, rupanya malah membuat badan tidak nyaman, serta kedinginan, akibatnya pemanas dinyalakan terus. Jadi hari Selasa ini saya memutuskan untuk keluar apato jika cuaca cerah. Pagi hari matahari bersinar terang, bahkan angin nya juga tidak terlalu kencang. Anak bungsuku yang kawatir berpesan, agar ibu tetap memakai jaket tebal karena suhu naik turun, dan saat ini 14 derajat celsius. Saya berangkat bersamaan dengan anakku, saya berhenti di tempat menunggu bis, dan anakku meneruskan perjalanan ke Gikadai.

Lanjutkan membaca “Mengunjungi Toyohashi City Art Museum”

Sight seeing Toyohashi dengan trem listrik

Malam Minggu semalaman hujan, Minggu pagi masih hujan rintik-rintik yang membuat malas keluar rumah. Jadi saya menyibukkan diri mentransfer hasil foto dari kamera ke laptop. Karena masih kedinginan, akhirnya menyetel youtube mencari olah raga selama 10 menit, lumayan badan agak terasa segar. Tak terasa hari sudah jam 11.00 am…anakku komentar…”Bu, hujan udah berhenti dan ada matahari, mau nggak naik bis ke stasiun dan mencoba naik trem listrik?” Tentu saja saya mau, kami segera ganti baju dan berjalan kaki sekitar 400 m ke arah pemberhentian bis. Kalau hari libur, bis dari gikadai ke stasiun 2 (dua) jam sekali…jadi kami mesti menunggu bis yang jadualnya jam 12.06.47.  Biaya bis dari Tempaku-stasiun Toyohashi 400 yen per orang.

Lanjutkan membaca “Sight seeing Toyohashi dengan trem listrik”

Warung Indonesia: Ani & Ivan, Indonesian Curry and Soup di Hamamatsu

Jika anda kebetulan berjalan-jalan ke kota Toyohashi, perfektur Aichi, atau ke perfektur Shizuoka, jangan lupa mampir ke

Ani & Ivan: Indonesian Curry and soup
Ani & Ivan: Indonesian Curry and soup

Warung Indonesia milik bu Ani dan Pak Ivan ini. Warung ini dibuka saat lunch, jam 12.00-15.00 dan saat dinner jam 15.00-21.00. Warung ini mudah dicari karena terletak di jalan besar, di depan toko (supermarket) Mega.

Sate
Sate
Soto, gado-gado, gurame
Soto, gado-gado, gurame

Lanjutkan membaca “Warung Indonesia: Ani & Ivan, Indonesian Curry and Soup di Hamamatsu”

Jalan-jalan ke Hamamatsu

Sejak pagi hari, cuaca hari Sabtu mendung, ramalan cuaca betul-betul akurat, jadi nggak menyesal nggak jadi pergi ke gunung Fuji karena sudah bisa dipastikan gunungnya akan tertutup kabut. Semalam saya diundang teman-teman si bungsu karaokean, saya dan si bungsu pulang jam 12 malam, walau teman-teman si bungsu masih berlanjut. Saya mengikuti rencana si bungsu saja, yang penting tak usah jauh-jauh karena si bungsu dan temannya sama-sama sibuk. Kami berangkat agak siang, sekitar jam 10.30 am, dan udara masih terasa dingin, karena mendung. Perjalanan ke kota Hamamatsu sungguh menyenangkan, pemandangannya indah, sepanjang perjalanan nyaris sebagian besar menyusuri jalan yang di kanan nya laut lepas (samudra Pasific) sedang di sebelah kiri hutan.

Lanjutkan membaca “Jalan-jalan ke Hamamatsu”

Mencoba naik bis sendirian di Toyohashi

Dari BBm an dengan Imelda, saya disarankan untuk mencoba naik bis. Awalnya kawatir, maklum nyaris semua petunjuk dalam bahasa dan huruf Jepang. Pagi ini saya bangun pagi dan keluar bersama-sama si bungsu. Tak ada  tujuan yang pasti, hanya sekedar jalan kaki, sayang hawa segar dan cuaca cerah ini jika hanya dihabiskan di kamar.  Di jalan ketemu beberapa rombongan anak Sekolah Dasar yang berangkat sekolah. Betapa senangnya melihat anak-anak berjalan kaki menuju sekolah, hal yang jarang ditemui di Jakarta saat ini.

Anak SD berangkat sekolah
Anak SD berangkat sekolah

Setelah sampai perempatan ke arah TUT, si bungsu mengajak mampir ke Mini Shop, sekaligus saya membeli roti, minuman dan onigiri. Sepertinya selama di Jepang, sarapan pagiku berupa onigiri.  Kebetulan Mini Shop yang berada di sisi perempatan ke arah TUT menyediakan bangku untuk duduk-duduk dan ada toilet, jadi saya mengobrol sama si bungsu sambil makan onigiri.

Lanjutkan membaca “Mencoba naik bis sendirian di Toyohashi”

Jalan-jalan di sekitar apato si bungsu

Hari ketiga di Jepang, bosen kalau cuma tinggal di apato, saat menjemur baju saya melihat ada ladang dan green house di belakang kanan apato.  Penasaran pengin melihat-lihat, si bungsu yang tahu keinginan saya, membuatkan peta, terutama peta untuk beli makanan, jika lapar dan malas masak. Jalan di depan apato ini walau kecil, lumayan ramai sepanjang waktu, banyak truk lewat.  Pernah saya kaget mendengar suara sirine, rupanya mobil ambulan yang lewat. Pagi ini sehabis makan, saya keluar apato, pertama-tama ke ladang dan green house yang di belakang apato, rupanya green house tersebut sama dengan green house lain, yaitu ditanami kobis.

Sekolah Dasar
Sekolah Dasar

Kemudian saya kembali melalui jalan utama ke arah kota Toyohashi, melewati Sekolah Dasar di sebelah kanan,  karena terlihat anak-anak kecil berlarian di halaman depan sekolah.

Lanjutkan membaca “Jalan-jalan di sekitar apato si bungsu”