Valor Supermarket

Valor Supermarket

Sejak awal saya berniat bahwa satu bulan di Toyohashi untuk mendukung dan membantu si bungsu merawat bayinya, sehingga memang tidak ada niat untuk jalan-jalan. Paling-paling hanya belanja ke supermarket terdekat, membantu memasak, atau beberes apato.

Sudah terbayang di kepalaku bahwa si bungsu pasti sudah sangat sibuk mengurus bayinya, apalagi anak pertama dan semua dilakukan sendiri, suami bisa membantu setelah pulang kerja sehabis Magrib.

Belanjaan

Supermarket terdekat, yaitu Valor Supermarket, berjarak kira-kira 150-200 meter dari apato si bungsu. Bagi orang yang tidak bisa membaca huruf kanji, belanja ke supermarket punya tantangan sendiri. Apalagi jika sayur telah di packaging secara bagus, sehingga beberapa kali saya keliru membeli sayur.

 

Saya membeli sayur yang kusangka bayam, yang ternyata bukan. Syukurlah, masih bisa dimakan, karena setelah dibuka di apato, isinya berupa berbagai jenis sayuran yang telah dipotong, tinggal di masak, yang bisa digunakan sebagai salad sayur. Dan karena tanpa wifi, maka sebelum berangkat ke supermarket, saya telah menuliskan apa saja yang akan dibeli, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang menggunakan google translate. Ternyata terjemahan google translate  juga tak selalu benar, sehingga pertanyaan saya sering membingungkan mbak dan mas petugas supermarket.

Melon Hokkaido berwarna orange, rating 15, yang manis sekali.

Karena penasaran, besoknya pas kembali ke Valor , saya beli bayam…dan ternyata salah juga. Akhirnya sayuran yang mirip bayam ini dimasak juga, hanya diberi bumbu bawang putih, bawang bombay dan merica. Saya paling suka membeli buah melon,  mungkin saat itu sedang musim melon. Buah melon yang sudah dibelah ini diberi rating, semakin tinggi ratingnya rasanya semakin manis. Jadi akhirnya saya nyaris beli melon tiap kali mampir ke supermarket, selama sebulan tinggal di Toyohashi.

Suatu ketika saya melihat ada tauge, saya ambil tauge dan saya muter-muter di supermarket cari ikan kecil-kecil yang telah dikeringkan, agar bisa memasak tauge ikan asin. Seneng dong saat ketemu ikan kecil-kecil seperti wader, jadi saya beli satu. Sampai apato, Hiro bilang…”Ibu, ikannya nggak bisa dimasak.” Saya bingung…”Lha kan dijual di supermarket, Hiro“, jawabku. Akhirnya si bungsu menengahi, menjelaskan bahwa yang dimaksud Hiro nggak bisa dimasak, karena ikan tadi hanya bisa direbus, airnya digunakan sebagai kaldu, dan ikannya dibuang karena keras. Wahh sayang sekali….mestinya saya bawa satu ya, saya coba masak di Indonesia, apa betul keras sekali saat dimakan.

Sayur yang tak mungkin keliru saya beli adalah wortel karena hanya diikat, suatu hari senang sekali menemukan buncis 2 (dua) pak, langsung saya beli semua. Tapi hanya sekali itu saya menemukan buncis di Valor, selanjutnya Hiro beli buncis dalam bentuk frozen di supermarket lain yang jauh dari lokasi apato. Untuk urusan daging, yogurt, Hiro yang beli agar tahu jika daging tersebut memang halal. Saat saya beli telor satu pak, Hiro kaget, rupanya dia kawatir nggak ada yang makan. “Jangan kawatir Hiro, ibu dan si bungsu pencinta telor ayam, dalam kondisi nggak punya persediaan sayur untuk dimasak, maka telor dadar sudah cukup memadai untuk sarapan.”

Wine nanas

Yang tak lupa saya beli adalah roti, di Valor rotinya enak-enak. Si bungsu suka coco shio pan (salted bun coklat, roti coklat yang rasanya asin), kadang saya beli donut yang kalau dikunyah kenyal, rupanya moci donut. Saya suka donut, tapi kurang cocok dengan moci donut. Kalau kebetulan pergi ke stasiun Toyohashi, baru saya beli donut di toko kue Danmark.

Kalau si bungsu paling suka donut yang dibeli dari Mr Donut, yang tokonya dilewati Hiro jika pergi pulang kerja. Sebetulnya Hiro tidak terlalu suka makanan manis, namun sejak ada dedek bayi, rupanya tenaga terkuras, sehingga selama sebulan di Toyohashi, Hiro sempat beli Mr Donut tiga kali. Yang paling saya suka ya beli shiopan (Salted bun, atau roti garam). Pernah saya bolak balik memandang minuman kotak yang gambarnya nanas, nyaris saya beli, yang untungnya nggak jadi…ternyata itu wine nanas.

Bermacam kit kat dan kue-kue lainnya.

Toyohashi di akhir musim panas cuacanya panas sekali, rasanya lebih panas dibanding Jakarta. Dan syukurlah di Valor tidak hanya supermarket, tapi ada beberapa toko yang menjual pakaian, ada toko obat-obat an, serta ada resto. Biasanya, jika lelah berbelanja, saya mampir ke Fujiya Resto untuk beli cake dan minum teh panas manis. Saya membeli kit kat untuk oleh-oleh cucu yang di Jakarta.

 

Toko Shoo La Rue yang sedang menawarkan diskon untuk baju musim panas.

Saat bulan September adalah waktu diskon untuk baju-baju, karena bulan Oktober sudah musim gugur. Senang juga melihat-lihat baju di toko, saya perhatikan warna baju yang dijual warna-warna yang soft, tidak seperti di Jakarta yang lebih berwarna.

Modelnya juga lebih sederhana, harganya pun lumayan, ada beberapa yang lebih murah dibanding di Jakarta. Saya sempat membeli satu blouse untuk saya sendiri, cardigan, juga blouse untuk oleh-oleh.

Biasanya saya pergi ke supermarket jika pekerjaan di apato sudah selesai, dedek bayi sudah dimandikan, yang biasanya langsung bobo. Saat seperti ini saya menyuruh si bungsu ikut tidur agar kuat jika nantinya harus momong dedek bayi kalau rewel saat malam.

Setelah beberapa hari tinggal di Toyohashi, dan nyaris tiap hari ke Valor, saya memperhatikan kegiatan ibu-ibu di sini. Pada jam-jam 10.30 sampai dengan 11.30 adalah waktu ibu berbelanja, dan jika belanja di sore hari saya ketemu dengan para pekerja yang mampir supermarket sepulang kerja. Saya sempat ngobrol dengan si bungsu, packaging di Jepang dibuat untuk memudahkan para ibu, yang harus kuat menjaga anak-anak dan rumahnya. Untuk mencuci baju juga harus melihat cuaca, jadi kalau pagi para ibu mencuci dan menjemur dulu sebelum pergi belanja. Pagi-pagi mengurus anak, antar anak ke sekolah. Jadi, saya sering melihat dua atau tiga ibu asyik mengobrol di Fujiya resto, ddisebelahnya ada kereta belanjaan, mungkin mereka sekedar ketemu teman sebelum kembali ke rumahnya.

Supermarket Valor terdiri dari dua lantai, lantai satu ada toko pakaian, toko sepatu, toko yang semua barangnya seharga 100 yen, restoran, toko obat-obat an. Sedang lantai dua adalah untuk toko alat-alat olah raga, salon, tempat massage, dan gym. Menurutku supermarket ini lumayan lengkap untuk belanja keperluan sehari-hari, namun  beberapa bumbu untuk masakan Indonesia, dibeli oleh Hiro secara on line. Sedangkan tempe dibeli dari Tokyo…harganya sama dengan harga daging.

Tempat parkir sepeda

Awalnya saya asal saja masuk ke halaman Valor, ternyata untuk pejalan kaki ada pintu masuk kecil, yang menjadi satu dengan orang yang naik sepeda. Saya perhatikan banyak ibu-ibu yang belanja naik sepeda ke sini, menurutku ini menarik karena tentu bawa barang belanjaan tak terlalu berat dibanding kalau dibawa di kantong sambil jalan kaki, kecuali bawa mobil. Sayang si bungsu tak punya sepeda, jadi saya tak bisa mencoba naik sepeda di Toyohashi. Sebetulnya menarik naik sepeda di sini, karena ada jalur tersendiri, juga lampu lalu lintasnya jelas, serta setiap orang mentaati peraturan lalu lintas.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s